Indonesian Political, Business & Finance News

Trump Confident He Can Destroy Iran, Pentagon Expresses Doubts

| Source: CNBC Translated from Indonesian | Politics
Trump Confident He Can Destroy Iran, Pentagon Expresses Doubts
Image: CNBC

Trump “Pede” Bisa Hancurkan Iran, Pentagon Justru Dibayangi Keraguan

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik ancaman terbuka Washington untuk kembali menggempur Iran, perdebatan paling menentukan justru berlangsung senyap di tubuh Pentagon.

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine dalam beberapa pekan terakhir menyusun berbagai opsi militer yang bisa dijalankan terhadap Teheran. Pilihan ini mulai dari serangan terbatas hingga skenario ekstrem perubahan kepemimpinan, sembari berhitung cermat atas risiko korban, eskalasi regional, dan dampak jangka panjang bagi militer AS.

Dilansir CNN International, Kamis (26/2/2026), Alih-alih membahasnya di ruang konferensi superaman Pentagon yang dikenal sebagai “Tank”, Caine memilih memanggil satu per satu pejabat tinggi Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara langsung ke kantornya.

Dalam pemerintahan yang sangat sensitif terhadap kebocoran, mengumpulkan para petinggi secara mendadak di pusat saraf Departemen Pertahanan dikhawatirkan memicu kecurigaan. Sejumlah sumber menyebut, Caine, yang dikenal sangat menjaga kerahasiaan, ingin meminimalkan sorotan saat opsi-opsi sensitif itu diramu.

Di berbagai pertemuan internal tersebut, Caine disebut vokal mengangkat potensi dampak negatif dari operasi besar terhadap Iran. Ia menyoroti skala dan kompleksitas misi, serta kemungkinan jatuhnya korban di pihak AS.

Kekhawatiran itu, menurut sumber yang mengetahui nasihatnya, tidak sepenuhnya sejalan dengan retorika Gedung Putih. Presiden Donald Trump kerap menyatakan optimisme bahwa militer AS dapat meraih kemenangan dengan mudah, meski parameter “kemenangan” belum didefinisikan secara rinci.

Meski demikian, dalam sebulan terakhir Caine juga mengoordinasikan pengerahan kekuatan militer terbesar AS di Timur Tengah sejak invasi Irak. Opsi yang disiapkan beragam, mulai dari serangan ke fasilitas rudal balistik dan nuklir Iran, hingga kemungkinan menargetkan kepemimpinan tertinggi Iran untuk memaksa perubahan rezim. Semua disusun paralel dengan jalur diplomasi yang dijadwalkan kembali berlangsung pekan ini.

Dalam satu rapat Situation Room yang berlangsung tiga kali lebih lama dari jadwal, Caine disebut tidak dapat memprediksi secara pasti konsekuensi dari operasi perubahan kekuasaan di Iran. Ketidakpastian tentang “hari setelahnya”, siapa yang akan memimpin dan bagaimana stabilitas dijaga, menjadi variabel yang sulit dijawab tuntas.

Juru bicara Staf Gabungan Joe Holstead membantah anggapan bahwa Caine menahan diri dalam menyampaikan pendapat. Ia menegaskan Caine “tidak pernah menahan pukulan” ketika membahas opsi militer yang bisa mengirim pasukan AS ke medan berbahaya.

“Peran Ketua Kepala Staf Gabungan dan pendekatan Ketua saat ini didasarkan pada mandat undang-undang untuk memberikan nasihat militer kepada Presiden, Menteri Perang, dan Dewan Keamanan Nasional,” ujarnya. “Ketua memenuhi tanggung jawab ini dengan menyajikan spektrum penuh opsi militer, disertai pertimbangan yang tepat dan matang atas dampak lanjutan, implikasi, dan risiko dari setiap opsi. Ia melakukannya secara rahasia.”

Gedung Putih juga membela Caine. Juru bicara Anna Kelly menyebutnya sebagai “seorang profesional yang sangat dihormati, yang tugasnya mengharuskan memberikan informasi tanpa bias kepada Panglima Tertinggi, dan ia melakukannya dengan sempurna.”

“Setiap anggapan bahwa Ketua memberikan opini pribadi atau politik, dalam bentuk apapun, sepenuhnya tidak benar,” kata Kelly. “Dalam semua isu, Presiden Trump mendengarkan masukan dari seluruh anggota tim keamanan nasionalnya, dan ia selalu menjadi pengambil keputusan akhir.”

Trump sendiri menegaskan kepercayaannya melalui media sosial. “Jenderal Caine, seperti kita semua, tentu tidak ingin melihat perang, tetapi jika keputusan diambil untuk melawan Iran pada tingkat militer, menurut pendapatnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan,” tulis Trump.

“Ia hanya tahu satu hal, yaitu bagaimana MENANG dan, jika diperintahkan, ia akan memimpin di garis depan.”

Pendekatan Caine berbeda dari pendahulunya, Jenderal Mark Milley, yang kerap berbenturan langsung dengan Trump pada periode pertama. Milley diketahui berselisih soal pengerahan militer untuk meredam protes domestik dan, menurut sejumlah laporan, secara pribadi berupaya meredam retorika presiden guna menenangkan sekutu maupun lawan.

Caine memilih jalur lebih hati-hati. Ia berupaya menjaga pengaruhnya dengan tidak terlalu konfrontatif di ruang publik, sembari tetap memberikan penilaian profesional di ruang tertutup. Seorang sumber yang memahami interaksinya dengan Trump menilai, “Ia jelas menahan pukulan,” merujuk pada perbedaan nada antara diskusi internal dan percakapan di Gedung Putih.

Di sisi lain, ada pula pandangan yang menilai Caine menjalankan perannya secara tepat dengan memberi opsi, bukan mendikte kebijakan. Ia dikenal jarang mengungkap opini pribadi atas kebijakan, dan para pendukungnya menilai itulah tugas seorang ketua, memfasilitasi agenda presiden dengan nasihat militer terbaik, tanpa mengklaim kewenangan politik.

Ketegangan internal juga muncul dalam isu personel. Caine beberapa kali mencoba membujuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth agar tidak memaksa pensiun dini sejumlah perwira tinggi. Namun keputusan tetap berjalan. Seorang perwira senior yang baru pensiun menggambarkan dilema tersebut.

“Pada akhirnya, orang-orang seperti Caine dan para pemimpin matra memang tidak senang dengan situasi itu …. tetapi ia memahami bahwa itu sah dan memang begitulah sistemnya. Untuk berbuat lain, lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Situasinya memang sulit,” ujarnya. “Tetapi saya pikir memang ada luka moral yang terjadi pada para pemimpin senior kita.”

Upaya Caine menjaga netralitas militer juga terlihat dalam sebuah acara September lalu, ketika ratusan perwira tinggi dipanggil untuk mendengarkan pidato Hegseth dan Trump. Secara pribadi, Caine berpesan agar para jenderal dan laksamana tidak bersorak atau bereaksi berlebihan.

“Jangan bertepuk tangan, jangan bereaksi,”}

View JSON | Print