Transform CSR Into a Business Strategy, Aice Group Drives Healthier Consumption Patterns
Jakarta, TopBusiness – Aice Group mulai mentransformasi pendekatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari sekadar kegiatan sosial dan donasi menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan. Melalui inovasi produk rendah gula dan rendah kalori bernama Kaluli, produsen es krim tersebut ingin mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup yang lebih sehat sekaligus menciptakan dampak sosial berkelanjutan.
Senior Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong, mengatakan perusahaan kini memandang CSR bukan lagi program terpisah dari aktivitas bisnis, melainkan bagian dari perilaku dan sistem perusahaan secara menyeluruh.
“CSR kami kali ini bukan berupa program, tapi perilaku perusahaan terhadap pola konsumsi masyarakat,” ujar Sylvana Zhong dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar secara daring, Senin (18/5/2026). Hadir pula dalam penjurian ini Aninditya, senior PR dan Media Staff Aice Group.
Menurut Sylvana, transformasi tersebut lahir dari perjalanan panjang Aice dalam mengikuti ajang TOP CSR Awards sejak 2021. Pada awalnya, perusahaan lebih banyak menjalankan kegiatan sosial berbasis donasi dan event. Namun dari berbagai masukan dewan juri, Aice mulai menyadari bahwa CSR harus terintegrasi langsung dengan model bisnis perusahaan agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.
“Dulu kami lebih banyak sharing program donasi dan event. Sekarang kami menjadikan CSR sebagai bagian dari sistem bisnis kami, baik di R&D, stakeholder, SDM, cold chain, distribusi sampai SOP perusahaan,” katanya.
Aice sendiri merupakan produsen es krim yang kini berkembang pesat di pasar domestik dan internasional. Perusahaan telah memiliki empat pabrik, lebih dari 10 ribu karyawan, lebih dari 100 SKU produk, serta jaringan lebih dari 450 ribu reseller dan warung mitra di berbagai wilayah Indonesia. Produk Aice kini juga telah hadir di lebih dari 10 negara di Asia, Amerika dan Afrika.
Dalam implementasi CSR terbaru, Aice menjadikan isu kesehatan masyarakat sebagai fokus utama, khususnya terkait tingginya konsumsi gula di Indonesia. Menurut Sylvana, industri makanan dan minuman kini menghadapi tuntutan besar dari konsumen maupun regulator untuk menghadirkan produk yang lebih sehat dan transparan dari sisi kandungan gizi.
“Indonesia saat ini berada di peringkat kelima dunia untuk penderita diabetes usia 20 sampai 79 tahun dengan sekitar 20,4 juta penderita diabetes. Ini menjadi isu serius bagi pola konsumsi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, tren masyarakat juga mulai berubah. Konsumen semakin sadar terhadap pola hidup sehat, termasuk lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman. Survei internal perusahaan menunjukkan minat terhadap snack bebas gula meningkat signifikan dalam satu tahun terakhir, dari 16,4 persen menjadi sekitar 31 persen. Sementara sekitar 50 persen konsumen mulai membaca label nutrisi dan fakta gizi sebelum membeli produk makanan ringan.
“Sekarang konsumen mulai mencari produk yang lebih rendah gula dan memperhatikan label nutrisi,” kata Sylvana.
Perubahan pola konsumsi global juga menjadi perhatian perusahaan. Berbagai negara mulai menerapkan label nutrisi seperti traffic light label hingga nutri-level untuk mengontrol konsumsi gula, garam dan lemak pada produk makanan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Aice sebagai produsen es krim. Menurut Sylvana, perusahaan ingin mengubah paradigma bahwa es krim tidak hanya menjadi produk yang menyenangkan, tetapi juga lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat.
“Dulu kami menjual produk yang enak dan menyenangkan. Sekarang kami ingin menghadirkan produk yang tetap enak tetapi lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Dari situlah Aice kemudian meluncurkan lini produk Kaluli dengan konsep low calorie dan zero sucrose. Produk-produk tersebut dikembangkan melalui riset panjang karena tantangan utama industri es krim adalah menjaga rasa tetap lezat meski kandungan gula dikurangi.
“Secara industri, membuat es krim low sugar itu sangat sulit karena masyarakat Indonesia masih sangat menyukai rasa manis,” katanya.
Namun setelah melalui proses riset, survei pasar dan pengembangan formula, Aice akhirnya berhasil meluncurkan berbagai varian es krim rendah gula dan rendah kalori dengan kandungan sekitar 70–130 kalori per produk.
Sylvana menyebut, Aice menjadi salah satu perusahaan yang cukup agresif menghadirkan pilihan produk zero sucrose dan low calorie dengan banyak varian. Produk tersebut bahkan tercatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai es krim kemasan pertama di Indonesia yang bebas kandungan sukrosa.
Produk-produk Kaluli juga dilengkapi informasi kandungan gizi yang lebih jelas, label alergi pada kemasan, serta sertifikasi halal dan BPOM.
Tidak hanya berhenti di inovasi produk, Aice juga membangun sistem bisnis baru untuk mendukung program CSR berbasis kesehatan tersebut. Perusahaan membentuk tim operasional khusus, memperkuat rantai pendingin (cold chain), distribusi, gudang, SOP penyimpanan, hingga edukasi kepada distributor dan reseller.
“Ini bukan sekadar program coba-coba. Kami membangun sistem bisnis baru untuk mendukung produk sehat ini,” ujar Sylvana.
Perusahaan juga membangun investasi besar pada distribusi dan penyimpanan produk agar kualitas es krim tetap terjaga. Menurut Sylvana, kualitas rantai pendingin sangat penting karena kerusakan produk es krim dapat berdampak terhadap kualitas dan keamanan pangan.
Selain itu, Aice mulai mengganti sebagian produk di modern trade seperti minimarket dengan produk Kaluli agar akses masyarakat terhadap pilihan es krim sehat menjadi lebih luas.
Program tersebut mendapat respons positif dari pasar. Hingga pertengahan 2026, target distribusi produk Kaluli disebut telah mencapai sekitar 60 persen, meski program baru berjalan sejak pertengahan 2025.
Pengukuran SROI
Dalam implementasi program tersebut, Aice juga mulai menerapkan pengukuran dampak sosial melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI). Menurut Sylvana, perusaha