Theses, dissertations in the AI era: An examination of depth of knowledge
Jakarta (ANTARA) - Seiring kemajuan zaman, dunia sudah memasuki era AI, termasuk Indonesia, sedang menikmati ledakan digital.
Menurut survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai lebih dari 221 juta orang, dengan penetrasi internet sekitar 78,19 persen di tahun 2023—kenaikan signifikan dari 64,8 persen pada 2018. Sebagian besar di antaranya adalah kaum Gen Z, usia yang bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan tinggi dan penelitian ilmiah.
Pertumbuhan akses ini belum otomatis melahirkan kemampuan literasi kritis yang dibutuhkan dalam penelitian ilmiah. Data literatur akademik menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital Indonesia masih berada di tingkat “sedang”, dengan skor indeks sekitar 3,49 (skala 1–5) pada 2021, yang mencerminkan tantangan dalam keterampilan digital, etika digital, serta keamanan digital.
Masalahnya menjadi semakin kompleks bila kita melihat profil literasi siswa Indonesia di tingkat internasional. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan pelajar Indonesia pada peringkat rendah dalam berbagai domain, termasuk kreativitas dan literasi membaca di bawah rata-rata negara OECD serta sejumlah negara tetangga.
Tantangan ini bukan urusan sekadar sekolah menengah, melainkan berdampak pada kemampuan siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, kemudian menyusun skripsi, tesis, atau disertasi.
Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) mengubah wajah pendidikan kita secara cepat dan tanpa kompromi. Survei global Chegg Global Student Survey 2025 menunjukkan bahwa sekitar 80 persen mahasiswa di dunia menggunakan AI generatif, seperti ChatGPT, dan Indonesia mencatat angka tertinggi: diperkirakan sampai sekitar 95 persen mahasiswa menggunakan Gen-AI dalam studi mereka.
Angka ini bukan tanpa persoalan. Penelitian empiris di kampus-kampus Indonesia menemukan bahwa meskipun mahasiswa melihat AI sebagai “membantu” dalam mendukung tugas akademik, ada potensi ketergantungan informasi, tanpa verifikasi kualitatif yang kuat. Tanpa panduan penggunaan AI yang jelas di institusi pendidikan, risiko simplifikasi penelitian dan degradasi kemampuan berpikir kritis menjadi nyata.