The Scholar's Advice That Made Caliph Harun Al-Rashid Weep Inconsolably
REPUBLIKA.CO.ID,Nasihat seorang ulama kerap menjadi cermin bagi para penguasa untuk menilai kembali amanah yang diembannya. Hal itulah yang terjadi ketika Syaqiq al-Balkh bertemu dengan Khalifah Harun al-Rasyid di Baghdad. Dalam dialog yang sarat makna, sang ulama mengingatkan, kekuasaan bukanlah kebanggaan, melainkan tanggung jawab besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Berikut ini kisah dialog menggetarkan antara ulama dan penguasa, hingga pada akhirnya sang penguasa menangis setelah mencerna nasihat dari ulama zuhud, dikutip dari kitab Tadzkiratul Auliya yang ditulis Fariduddin Attar pada abad ke-12. Diriwayatkan, Syaqiq al-Balkh mengadakan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sampai di Kota Baghdad, Khalifah Harun al-Rasyid memanggilnya untuk menghadap. Setelah menghadap, bertanyalah Khalifah Harun al-Rasyid kepada Syaqiq al-Balkh, “Engkaukah Syaqiq al-Balkh pertapa?”“Aku adalah Syaqiq al-Balkh, tetapi aku bukan seorang pertapa,” jawab Syaqiq al-Balkh. “Berilah nasihat kepadaku,” kata Khalifah Harun kepada Syaqiq al-Balkh. “Jika demikian, dengarkanlah,” kata Syaqiq al-Balkh. Loading…