Indonesian Political, Business & Finance News

Remaining Optimistic in the Challenging Year 2026

| | Source: INVESTOR.ID | Economy
Remaining Optimistic in the Challenging Year 2026
Image: INVESTOR.ID

Tetap Optimistis di Tahun Menantang 2026

JAKARTA, investor.id - Indonesia tetap optimistis di tengah badai tantangan ekonomi baik dari dalam negeri maupun gejolak global. Satu kuartal berjalan, 2026 memang masih diwarnai ketidakpastian tinggi. Eskalasi geopolitik yang tak kunjung mereda meski enam pekan sudah perang di Timur Tengah berlangsung, membuat kekhawatiran atas risiko dampak ekonomi yang masif.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia berada dalam posisi aman dengan ketangguhan ekonomi yang terjaga. Dalam safari maraton di Amerika Serikat pekan ini, Purbaya bertemu dengan sejumlah lembaga internasional dan investor untuk memaparkan kondisi Indonesia serta strategi kebijakan yang dijalankan.

Saat bertemu Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, di Washington DC, Purbaya menegaskan ketangguhan fiskal dengan bantalan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 420 triliun yang siap meredam gejolak global. Usai memaparkan arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi tinggi dan keberlanjutan APBN, Menkeu menyebut IMF memberikan respons positif.

“Mereka menunjukkan antusiasme tinggi terkait fundamental ekonomi kita. Selama ini mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

Optimisme pun terlihat dari hasil pertemuan Menkeu dengan Standard & Poor’s (S&P) yang mengonfirmasi rating investasi Indonesia di level triple B (BBB) atau kategori “Investment Grade” (layak investasi) dengan outlook yang tetap stabil. Purbaya juga bertemu sejumlah investor global seperti Fidelity, Goldman Sachs Asset Management (GSAM), Eaton Vance, dan MFS di Washington DC, setelah sebelumnya menemui HSBC Global Asset Management, Lazard AM, Blackrock, Lord Abbett, dan TD Asset Management di New York awal pekan ini.

“Harusnya sih tidak lama lagi (investor global) akan masuk ke Indonesia dan akan mendorong pasar modal Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi,” ujar Purbaya usai rangkaian pertemuan, seperti dikutip pada Rabu (14/4/2026) malam.

Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 4,29% per penutupan perdagangan Kamis (16/4/2026), dengan penguatan 3,14% dalam satu bulan. Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see, menunggu kepastian jadwal dan hasil negosiasi lanjutan AS dan Iran. Gagalnya perundingan pertama telah meningkatkan persepsi risiko, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat distribusi energi dunia, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global.

Fundamental Kuat Namun Tetap Waspada

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut stabilitas ekonomi Indonesia saat ini nampak pada pengakuan setidaknya dua lembaga internasional. Asian Development Bank (ADB) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027, naik dari realisasi 5,1% pada 2025. Selain itu, lembaga indeks global FTSE Russell pada 7 April 2026 resmi mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan secara eksplisit menyatakan tidak mempertimbangkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam Watch List penurunan status.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi masih bisa dijaga di kisaran 5%, meskipun IMF dalam World Economic Outlook edisi April 2026 sedikit memangkas proyeksi laju PDB RI tahun ini dari proyeksi bulan Januari di level 5,1% menjadi 5%. Ini tidak lepas dari bayang-bayang perekonomian global yang tengah memburuk akibat eskalasi antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Eskalasi tersebut mempengaruhi harga minyak dan berdampak pada kondisi perekonomian global.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat, target pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5% masih realistis. Apabila dilihat dalam kondisi baseline, target itu masih dalam jangkauan, mengingat pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 5,4%.

“Namun, bila konflik berkepanjangan dan harga energi tetap tinggi, tekanan yang muncul akan bersifat ganda maka biaya produksi naik di dalam negeri, sementara permintaan ekspor melemah. Dalam situasi seperti itu, target 5% bukan lagi baseline, melainkan menjadi cukup ambisius,” jelas Yusuf kepada Investor Daily, Rabu (15/4/2026).

Ramu Ulang Strategi

Perang yang terjadi di Timur Tengah memang membawa dampak yang cukup besar ke berbagai sektor, termasuk disrupsi supply chain. Meski demikian, pelaku usaha nasional yakin Indonesia dapat kembali menjadi pusat produksi rantai pasok global. Modalnya sudah ada, antara lain berbagai komitmen investasi yang sudah disepakati dari diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara mitra. Namun pelaku usaha meminta pemerintah membentuk Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi sebagai tindak lanjut implementasinya agar komitmen investasi bernilai fantastis ini benar-benar bisa mendukung hilirisasi dan ketahanan energi nasional.

“Birokrasi yang berbelit, inkonsistensi regulasi pusat-daerah, serta kendala teknis lainnya seringkali membuat investor ragu untuk melakukan groundbreaking,” ujar Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Industri, dan Proyek Strategis Nasional Kadin Indonesia, Akhmad Ma’ruf Maulana, dalam keterangan resmi awal pekan ini.

Strategi bisnis telah diramu ulang untuk meredam dampak gejolak global dan volatilitas pasar. Salah satunya industri plastik yang menjadi salah satu sektor dengan dampak cukup besar dari gejolak di Timur Tengah. Blokade Selat Hormuz membuat pengiriman bahan baku tersendat, membuat harga plastik di pasaran naik 20-30%. Namun demikian, industri plastik nasional yakin masih akan tumbuh positif sekitar 4,5% di 2026.

Dampak lain dari gejolak global yang diwaspadai pelaku usaha adalah depresiasi nilai tukar rupiah, yang berdampak besa

View JSON | Print