Indonesian Political, Business & Finance News

Rangkuman Penilaian S&P, Respons Pemerintah, dan Dampaknya ke Pasar

| | Source: INVESTOR.ID | Economy
Rangkuman Penilaian S&P, Respons Pemerintah, dan Dampaknya ke Pasar
Image: INVESTOR.ID

Rangkuman Penilaian S&P, Respons Pemerintah, dan Dampaknya ke Pasar

13 Jul 2026 | 20:04 WIB

JAKARTA, investor.id – Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia di level BBB atau investment grade dengan prospek (outlook) stabil menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.

Selain mempertahankan peringkat kredit, lembaga pemeringkat tersebut juga memberikan sejumlah catatan mengenai prospek ekonomi, kebijakan fiskal, kebijakan moneter, hingga implementasi reformasi pemerintah.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (13/7/2026), S&P mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB dan utang jangka pendek di level A-2 dengan outlook stabil.

Berikut rangkuman poin-poin utama dalam laporan S&P.

  1. Peringkat kredit dan outlook tetap stabil

S&P menilai pelemahan indikator fiskal dan eksternal Indonesia hanya bersifat sementara. Kondisi tersebut diperkirakan membaik seiring stabilisasi harga komoditas, penguatan penerimaan negara, serta arah kebijakan pemerintah yang lebih konsisten.

  1. Defisit APBN diproyeksikan tetap di bawah 3%

S&P memperkirakan defisit APBN tetap berada di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), meski pemerintah menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi dan subsidi. Rekam jejak disiplin fiskal Indonesia selama beberapa pemerintahan dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menopang peringkat kredit.

Selain itu, rasio utang pemerintah diperkirakan tetap berada pada level yang relatif terkendali dalam beberapa tahun mendatang.

  1. Anggaran MBG diperkirakan dipangkas sepertiga

S&P memperkirakan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan dipangkas sekitar sepertiga dari alokasi awal (estimasi pemangkasan Rp 100 miliar). Penghematan tersebut diproyeksikan berasal dari penyesuaian parameter program, peningkatan efisiensi, serta penguatan pengawasan guna menjaga ruang fiskal pemerintah.

  1. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5,1% pada 2026

Setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,6% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I-2026, S&P memperkirakan pertumbuhan akan melandai menjadi sekitar 5,1% sepanjang 2026. Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi diperkirakan rata-rata mencapai 4,9% per tahun hingga 2029, didukung kebijakan hilirisasi, belanja pemerintah, serta perbaikan ekspor.

  1. PT DSI dan ekspor satu pintu dinilai positif

S&P menilai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) sebagai pengelola ekspor komoditas strategis berpotensi meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor. Namun, lembaga tersebut mengingatkan agar perubahan kebijakan maupun implementasinya dilakukan secara konsisten agar tidak memicu ketidakpastian yang dapat mengurangi kepercayaan investor.

  1. Independensi Bank Indonesia tetap terjaga

S&P berpandangan perluasan mandat Bank Indonesia (BI) melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) tidak mengurangi independensi bank sentral.

Penilaian tersebut didasarkan pada langkah BI yang tetap agresif menaikkan BI-Rate untuk menjaga stabilitas rupiah meski berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Respons Pemerintah dan Ekonom…

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

FollowBaca Berita Lainnya di Google News

Read Now

View JSON | Print