Indonesian Political, Business & Finance News

MSCI Uproar: What Should Local Investors Do?

| | Source: INVESTOR.ID | Finance
MSCI Uproar: What Should Local Investors Do?
Image: INVESTOR.ID

Geger MSCI, Investor Lokal Mesti Apa?

JAKARTA, investor.id – Hasil MSCI rebalancing Mei 2026 berdampak negatif bagi pasar saham Indonesia. Lantas, investor lokal mesti apa?

Kiwoom Sekuritas mengungkapkan, strategi paling aman saat ini adalah hold – wait & see sambil menunggu volatilitas pasar mulai mereda.

Kiwoom Sekuritas melihat pasar saat ini terlalu fokus pada headline “18 saham keluar” tanpa menyadari bahwa sebagian besar tekanan sebenarnya sudah berlangsung bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

Meski demikian, kondisi pasar saham domestik masih cukup rapuh. Indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh level terendah baru intraday tahun ini di 6.762. Investor asing pun terus mencatatkan net sell.

Kegugupan investor lokal juga meningkat setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus Rp 17.500, menjelang libur panjang pekan ini.

Secara teknikal, area support (batas bawah) IHSG masih berpotensi melebar menuju level 6.762-6.745. IHSG bahkan membuka ruang penutupan gap di area 6.538-6.092, yang berarti hampir menghapus seluruh kenaikan IHSG sepanjang 2025.

“Area resistance (batas atas) terdekat berada pada kisaran 6.980-7.015 yang perlu ditembus untuk sedikit menetralisir derasnya tekanan jual,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, Rabu (13/5/2026).

Adapun saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pusat tekanan terbesar dari geger MSCI ini.

DSSA diperkirakan menghadapi passive outflow sekitar Rp 9 triliun dengan free-float adjusted market cap MSCI sekitar Rp 66,1 triliun. BREN berpotensi terkena outflow sekitar Rp 6 triliun dengan FIF-adjusted market cap sekitar Rp 42,1 triliun.

Saham lainnya seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tetap terdampak, tetapi skalanya relatif lebih terbatas karena market cap saham-saham tersebut sudah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.

“Karena itu, estimasi foreign outflow kini mulai terlihat lebih realistis dibandingkan panic scenario awal yang sempat mengarah ke Rp 50 triliun lebih,” sebut Kiwoom Sekuritas.

Adapun Joeliardi Sunendar memperkirakan outflow sekitar Rp 27,8-31 triliun, CGS International sekitar Rp 31,5 triliun, dan Citi dalam skenario worst case memperkirakan sekitar Rp 34,7 triliun.

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

FollowBaca Berita Lainnya di Google News

Read Now

View JSON | Print