Mendukbangga urges SPPGs to creatively adapt MBG menus to keep children from getting bored
Setahun saja misalnya, kalau tidak ada modifikasi, anak-anak bisa bosan Cianjur, Jawa Barat (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji meminta tiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kreatif mengolah menu Makan Bergizi Gratis (MBG) agar anak-anak, khususnya balita tidak menjadi bosan. “Jepang itu mampu modifikasi menunya dengan efektif dan efisien. Setiap hari mungkin menunya juga itu-itu saja, tetapi diolah dengan baik sehingga anak-anak tidak bosan dan tidak mengurangi kandungan gizinya,” katanya saat meninjau SPPG Cipanas Sindangjaya 5, Cianjur, Jawa Barat, Rabu. Ia menegaskan, sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak tentu bosan apabila memakan menu yang sama setiap hari. “Setahun saja misalnya, kalau tidak ada modifikasi, anak-anak bisa bosan,” ujar dia. Wihaji mengapresiasi kreativitas SPPG Cipanas yang memproduksi makanan siap masak atau ready to cook selama Bulan Ramadhan yang merupakan olahan dari sayur-sayuran, protein, hingga bahan olahan lainnya. “Tadi saya lihat ada ikan diolah jadi siap masak selama bulan puasa, juga ada menu-menu lainnya yang kreatif, ini bisa jadi contoh baik untuk SPPG-SPPG yang lain,” paparnya. Ia juga menekankan pentingnya intervensi gizi di 1.000 hari pertama kehidupan atau usia 0-2 tahun yang sangat menentukan tumbuh-kembang otak anak. “Usia ini sangat krusial diintervensi untuk menurunkan angka stunting,” ucap Wihaji. SPPG tersebut melayani Desa Sindangjaya dan Desa Cipanas, Cianjur, pada 12 satuan pendidikan atau 2.860 siswa, serta sekitar 200 penerima manfaat kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Cecep Muhammad Wahyudin mengemukakan, SPPG Cipanas Sindangjaya 5 memproduksi makanan siap masak atau ready to cook secara mandiri selama bulan puasa. “Ini yang perlu diluruskan kepada masyarakat. Makanan ready to cook itu bukan berarti ultra proses atau UPF, karena ini 85 persennya sayur dan protein, 25 persennya olahan,” ujar Cecep. Cecep menyampaikan, di SPPG tersebut terdapat 18 UMKM dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang diberdayakan untuk memasok bahan baku Program MBG. “18 itu yang kita awasi betul-betul agar rantai pasok kita juga terjaga. Semakin banyak pemasok, semakin beragam, semakin baik untuk pemerataan ekonomi masyarakat,” tuturnya. Selain itu, lanjut dia, selama sebulan sekali, para kepala posyandu dan kepala sekolah dikumpulkan dalam program gathering untuk evaluasi sekaligus penyegaran agar Program MBG dapat berjalan secara lebih berkualitas. “SPPG ini juga punya juru masak berpengalaman. Ada yang sudah pernah masak untuk jamaah haji di Arab Saudi selama kurang lebih tujuh tahun, jadi kualitasnya tidak perlu diragukan lagi,” ucap Cecep.