KNKT perplexed by taxi driver pressing accelerator in neutral, but not moving when shifted to drive
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengutarakan keheranannya terhadap sopir taksi Green SM Richard Rudolf Passelima yang memindahkan transmisi mobil ke ‘N’ (netral) sesaat sebelum melintasi rel di Bekasi Timur. Walhasil, ketika sudah berada di perlintasan rel, Richard menginjak pedal gas dalam kondisi taksinya sedang ‘N’. ‘Nah ini apa yang terjadi dari data onboard unit kami download. Jadi taksi tersebut ketika menurun pada posisi D (drive) berjalan normal dengan kecepatan antara 15 km/jam. Kemudian kendaraan berpindah ke pada posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3-7 km/jam. Ini kami tidak tahu, kenapa kok diposisinetralkan,’ ujar Soerjanto dalam rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Soerjanto menjelaskan, berdasarkan data yang terekam, Richard masih terus menginjak pedal gas hingga 55 persen pada posisi ‘N’. Kemudian, data menunjukkan Richard memindahkan transmisi ke ‘D’ (drive), tapi malah tidak menginjak pedal gas. “Pengemudi terus menekan gas hingga 51 persen, kendaraan tidak bergerak karena dalam posisi N, kecepatan menjadi 0. Selanjutnya pada 20.46.43, posisi handle di posisi D atau drive, tapi pengemudi tidak menginjak pedal gas,” jelas Soerjanto. Dia menekankan, taksi tentu saja tidak bergerak karena posisinya sedang ‘P’ atau mode untuk parkir. “Selanjutnya handle berposisi pada P, di mana selanjutnya pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menginjak on-off, on-off, tapi selalu dalam posisi P. Sehingga mobil tidak bisa bergerak,” ucapnya. Sementara itu, Soerjanto membeberkan bahwa Richard baru saja diterima bekerja 3 hari sebelum kejadian tabrakan KRL vs Argo Bromo Anggrek. Richard masuk Green SM sebagai sopir taksi melalui job fair. “Proses pengenalan kendaraan melalui kelas teori secara singkat. Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knob transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman, tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadinya error,” kata Soerjanto. Kereta Api Argo Bromo Anggrek terlibat kecelakaan dengan Kereta Listrik (KRL) rute Bekasi-Jakarta di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026). Salah satu penumpang Commuter Line, Munir, mengatakan peristiwa itu bermula saat kereta yang ia tumpangi dari arah Jakarta menuju Cikarang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Kereta itu berhenti lantaran terdapat Commuter Line dari arah Cikarang menuju Bekasi menabrak mobil taksi Green SM yang dikemudikan Richard. Ketika KRL berhenti, melintas dari arah belakang Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek langsung menghantam Commuter Line yang ditumpangi Munir. Akibat kejadian itu, gerbong perempuan Commuter Line rusak parah.