Indonesian Political, Business & Finance News

IHSG Bangkit, Ini Sederet Alasan Investor Asing Mulai Melirik Indonesia Lagi

| | Source: KABARBURSA.COM | Finance
IHSG Bangkit, Ini Sederet Alasan Investor Asing Mulai Melirik Indonesia Lagi
Image: KABARBURSA.COM

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu, 22 Juli 2026. Hingga pukul 09.03 WIB, IHSG menguat 46,80 poin atau 0,74 persen ke level 6.386,82 setelah sehari sebelumnya ditutup naik 1,46 persen ke posisi 6.322,51.

Di tengah reli tersebut, Stockbit Sekuritas menilai penguatan pasar saham domestik bukan sekadar didorong sentimen jangka pendek. Menurut perusahaan sekuritas itu, terdapat sejumlah katalis dari dalam negeri yang mulai memperbaiki persepsi investor terhadap Indonesia, di tengah perubahan arah investasi global.

“Hasil review positif dari S&P Ratings serta mulai stabilnya nilai tukar rupiah—meski harga minyak kembali melonjak belakangan ini—menjadi katalis positif dari dalam negeri,” tulis Stockbit dalam risetnya yang dikutip Rabu, 22 Juli 2026.

Stockbit juga menilai penambahan emiten ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) berpotensi memperkuat narasi reformasi pasar modal Indonesia. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan MSCI terkait status pasar saham Indonesia pada November 2026.

“Kami menilai bahwa penambahan masif emiten ke dalam daftar high shareholding concentration (HSC) juga dapat mendukung kelanjutan narasi reformasi pasar modal Indonesia, yang dapat memengaruhi keputusan MSCI terkait status pasar saham Indonesia. IHSG sendiri mulai mencatatkan net foreign inflow sejak 16 Juli 2026, dengan tren nilai transaksi harian yang juga meningkat,” tulis Stockbit.

Rotasi Dana Global Mulai Mengarah ke Indonesia

Pandangan tersebut sejalan dengan laporan Reuters yang menyebut mulai terjadi rotasi investasi global dari saham-saham teknologi menuju pasar yang sebelumnya tertinggal, termasuk Indonesia, India, dan China.

Sepanjang bulan berjalan hingga Selasa, 21 Juli 2026, IHSG telah menguat sekitar 12 persen. Kinerja tersebut berbanding terbalik dengan pelemahan indeks saham Korea Selatan, Taiwan, Jepang, maupun indeks sektor teknologi S&P 500 yang selama ini menjadi acuan pergerakan saham teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Reuters melaporkan perubahan arah investasi itu dipicu aksi ambil untung investor terhadap saham-saham teknologi Amerika Serikat yang sebelumnya mencatat reli panjang. Goldman Sachs mencatat sejumlah hedge fund dalam dua bulan terakhir menjual saham teknologi AS dengan laju tercepat dalam lebih dari satu dekade karena kekhawatiran valuasi emiten bertema AI sudah terlalu tinggi dan belanja AI oleh perusahaan-perusahaan besar berpotensi melambat.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai menjadi salah satu alternatif investasi yang menarik karena pasar saham domestik masih tertinggal dibandingkan bursa utama Asia dan memiliki eksposur yang relatif kecil terhadap sektor teknologi.

Meski IHSG telah menguat sejak awal Juli, indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu masih terkoreksi sekitar 27 persen secara tahun berjalan hingga perdagangan Selasa, 21 Juli 2026.

Selain rotasi investasi global, Stockbit menilai keputusan S&P Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB/A–2 dengan prospek stable turut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.

Ke depan, perhatian investor juga tertuju pada keputusan MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada November 2026 mengenai status pasar saham Indonesia. Berdasarkan laporan Reuters, mayoritas analis memperkirakan Indonesia akan tetap dipertahankan sebagai kelompok emerging market.

Asia-Pacific Global Market Strategist Invesco, David Chao, mengatakan pihaknya mulai merealisasikan sebagian keuntungan dari investasi di Korea Selatan dan mengalihkan sebagian portofolio ke Indonesia karena prospek pertumbuhan ekonomi domestik dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam harga aset.

Sementara itu, Citi menilai IHSG kemungkinan telah melewati titik terendahnya atau bottom, sehingga peluang pemulihan pasar dinilai semakin terbuka.

Meski demikian, Reuters juga mencatat arus keluar dana asing dari pasar Indonesia masih berlangsung secara bertahap akibat kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian kebijakan dan risiko pelebaran defisit fiskal, terutama ketika harga minyak dunia kembali meningkat.

Firma riset Copley Fund Research melaporkan bahwa meskipun sebagian besar manajer investasi aktif yang mereka pantau masih mempertahankan posisi overweight terhadap Indonesia, proporsi dana yang ditempatkan di pasar domestik telah turun menjadi 80,45 persen, level terendah dalam 15 tahun terakhir.

Aktivitas Investor Asing Mulai Membaik

Optimisme tersebut mulai tercermin pada aktivitas perdagangan domestik. Pada awal perdagangan Rabu, nilai transaksi di seluruh pasar mencapai Rp1,12 triliun dengan volume 27,68 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 182.990 kali.

Investor asing juga masih membukukan beli bersih. Di seluruh pasar, nilai pembelian asing mencapai Rp6,36 triliun, sedangkan nilai penjualannya sebesar Rp6,33 triliun, sehingga menghasilkan net foreign buy sekitar Rp31,36 miliar. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp360,21 miliar.

Secara sektoral, penguatan IHSG dipimpin saham-saham teknologi yang naik 2,47 persen, diikuti sektor bahan baku sebesar 2 persen, properti 1,64 persen, energi 1,29 persen, industri 0,57 persen, infrastruktur 0,54 persen, kesehatan 0,27 persen, consumer cyclicals 0,11 persen, transportasi 0,08 persen, dan keuangan 0,05 persen. Sementara sektor consumer non-cyclicals bergerak relatif stagnan.

Dengan kombinasi membaiknya sentimen domestik, stabilnya nilai tukar rupiah, serta mulai masuknya kembali dana asing ke pasar saham, pelaku pasar kini menantikan apakah momentum tersebut mampu menjaga tren penguatan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.(*)

View JSON | Print