Himalayan River Courses Are Shifting Faster, A Real Threat to Two Billion People
Headline
PT DSI Persero akan melakukan fungsi ekspor sepenuhnya mulai Januari 2027.
PT DSI Persero akan melakukan fungsi ekspor sepenuhnya mulai Januari 2027.
HAMPIR dua miliar orang menggantungkan hidup mereka pada aliran sungai yang bersumber dari gletser dan mencairnya salju di Pegunungan Himalaya. Sungai-sungai ini merupakan urat nadi paling penting di Bumi yang menjadi sumber air minum, irigasi pertanian, serta pembangkit listrik tenaga hidroelektrik bagi sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Asia Timur.
Namun, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science memperingatkan bahwa kondisi sungai-sungai ini kian tidak stabil. Jalur aliran air terpantau bergeser lebih cepat daripada titik observasi mana pun yang pernah tercatat dalam sejarah, sehingga meningkatkan risiko bagi masyarakat sekitar, lahan pertanian, dan infrastruktur.
Riset ini dipimpin oleh Profesor Chengshan Wang dan Dr. Zhongpeng Han dari China University of Geosciences di Beijing, serta Dr. Lin Zhipeng dari Sichuan University. Tim peneliti menganalisis perubahan di tiga cekungan sungai utama Himalaya menggunakan citra satelit dan pengamatan lapangan selama empat dekade, dari tahun 1980 hingga 2020.
Hasil analisis terhadap 1.079 kelokan sungai sepanjang 1.582 kilometer menunjukkan bahwa tingkat migrasi (pergeseran) sungai secara keseluruhan meningkat 33 persen. Bahkan, untuk kelokan sungai yang dapat bergerak bebas tanpa tertahan oleh medan di sekitarnya, angka peningkatan pergeserannya melonjak hingga hampir 97 persen. Perubahan drastis ini mencakup pemotongan alur sungai (cutoffs) hingga perpindahan jalur aliran sungai secara mendadak ke rute baru (avulsions).
Kawasan Himalaya telah mengalami pemanasan dengan kecepatan hampir dua kali lipat dari rata-rata global sejak dekade 1980-an. Pemanasan ini memicu ketidakstabilan sungai melalui dua faktor yang saling berkaitan.
Pertama, menyusutnya gletser meningkatkan volume air lelehan dan membawa material sedimen dalam jumlah besar ke sistem sungai. Kedua, lapisan tanah yang membeku (permafrost) yang berfungsi sebagai penahan tebing sungai kini mulai mencair dan melunak. Akibatnya, tanggul sungai melemah, mudah runtuh, dan membuat aliran air dengan mudah bergeser ke samping mencari jalur baru. Kondisi ini diperparah oleh minimnya vegetasi di lanskiap Himalaya, sehingga tidak ada akar tanaman yang mengikat tanah saat permafrost mencair.
Fenomena ini menjadi ancaman langsung bagi salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Sungai yang tidak stabil memicu banjir yang lebih sering dan sulit diprediksi, mengikis lahan subur, serta merusak jalan, jembatan, bendungan, dan sistem irigasi yang dibangun dengan asumsi bahwa posisi sungai tidak akan berubah.
“Bagi miliaran orang yang bergantung pada sumber air Himalaya, percepatan dinamika sungai yang didokumentasikan dalam studi kami menimbulkan implikasi bagi keamanan air, bahaya terkait sedimen, dan stabilitas infrastruktur tepi sungai,” kata Wang.
Banyak infrastruktur di wilayah Himalaya dirancang berdasarkan kondisi sungai pada 40 tahun lalu. Saat ini, ketika lanskap berubah lebih cepat daripada model prediksi yang ada, kerangka perencanaan pengelolaan air dan pengendalian banjir dituntut untuk segera beradaptasi dengan perubahan alam tersebut. (Earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap suhu panas ekstrem kini membatasi aktivitas fisik manusia, terutama lansia. Simak wilayah yang paling terdampak dan risiko kesehatan yang mengintai.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved