Indonesian Political, Business & Finance News

ETF Emas Mulai Dilirik

| | Source: INVESTOR.ID | Finance
ETF Emas Mulai Dilirik
Image: INVESTOR.ID

ETF Emas Mulai Dilirik

JAKARTA, Investor.id — Perkembangan exchange traded fund (ETF) berbasis emas memperluas pilihan masyarakat untuk memperoleh eksposur terhadap logam mulia melalui pasar modal. Namun, pengembangan instrumen ini masih menghadapi tantangan literasi, likuiditas perdagangan, dan kesiapan investor institusi.

ETF emas merupakan reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa. Berbeda dengan membeli emas fisik secara langsung, investor memperoleh eksposur terhadap emas melalui unit ETF yang ditopang aset dasar.

Chief Executive Officer (CEO) Syailendra Capital, Fajar R. Hidajat mengatakan emas dapat digunakan sebagai salah satu instrumen diversifikasi karena memiliki karakteristik berbeda dengan sejumlah aset keuangan lainnya.

“Walaupun bersifat non-yielding asset, emas mampu menjadi portfolio diversifier karena korelasinya bisa berbeda dengan aset keuangan lainnya,” ujarnya.

Meski kerap menjadi perhatian investor saat pasar keuangan mengalami tekanan, harga emas tetap berfluktuasi. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan komposisi portofolio.

Emas Fisik Jadi Aset Dasar

Group Head of Operations Syailendra Capital, Agustinus Candra menjelaskan bahwa ETF emas tidak sekadar mengikuti pergerakan harga emas, tetapi ditopang mekanisme pengelolaan aset yang melibatkan sejumlah pihak. Dalam struktur ETF emas syariah yang dibahas dalam forum tersebut, unit investasi harus ditopang keberadaan emas fisik sesuai ketentuan produk.

Bullion Operation Department Head PT Pegadaian (Persero), Dharma Satria menambahkan, setiap bukti kepemilikan harus didukung emas fisik dengan prinsip satu banding satu atau 1:1.

“Setiap yang kami keluarkan memang di-back up satu banding satu dengan emas fisik,” katanya.

Emas tersebut dicatat dan dapat ditelusuri berdasarkan antara lain berat, kemurnian, serta nomor seri. Menurut Dharma, mekanisme penyimpanan juga memungkinkan audit untuk memastikan aset dasar benar-benar tersedia secara fisik.

Dari sisi perdagangan, Head of Business Development Mirae Asset Sekuritas, Simon Gunawan Sinaga mengungkapkan jika ETF dapat ditransaksikan melalui pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer digunakan untuk pembentukan dan pencairan unit melalui mekanisme creation dan redemption. Setelah terbentuk, unit ETF dapat diperdagangkan investor di pasar sekunder. Dalam mekanisme tersebut, dealer participant berperan menyediakan kuotasi jual dan beli untuk menjaga likuiditas.

“Kami akan tetap berkomitmen menyerap kebutuhan yang ada selama harganya sesuai dengan fair price,” tambahnya.

Simon pun mengingatkan harga ETF di pasar sekunder tidak selalu sama persis dengan nilai emas yang menjadi aset dasarnya karena harga dibentuk oleh permintaan dan penawaran. Karena itu, investor perlu memperhatikan bukan hanya harga emas, tetapi juga likuiditas, volume transaksi, serta selisih harga jual dan beli atau spread.

Investor Ritel Mulai Masuk

Lebih lanjut Agustinus menyebutkan terdapat sekitar 400 investor ritel telah masuk ke instrumen ETF emas berdasarkan data internal yang disampaikan dalam forum tersebut. Menurut ia, ETF emas sebaiknya dipandang sebagai salah satu alternatif diversifikasi, bukan satu-satunya instrumen investasi.

“Ini bukan investasi utama, tetapi alternatif diversifikasi bagi klien yang mungkin sudah memiliki saham atau instrumen lainnya,” ucapnya.

Investor institusi seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun juga menjadi sasaran pengembangan. Namun, sebagian institusi masih perlu menyesuaikan aturan dan mekanisme internal sebelum masuk ke instrumen tersebut.

Head of Investment Specialist Syailendra Capital, Syanne Gracetinne Polii menilai tantangan lainnya adalah literasi investor, terutama di kalangan generasi muda yang cenderung mengharapkan keuntungan dalam waktu singkat. Menurut ia, ETF emas di pasar sekunder dapat ditransaksikan dengan nominal sekitar Rp100.000.

“Ini bukan lagi perkara kemampuan, tapi perkara kemauan,” tuturnya.

Syanne juga memperkirakan harga emas berpotensi bergerak sideways dalam tiga hingga enam bulan setelah mengalami reli panjang sejak 2025. Namun, permintaan jangka panjang dinilai masih ditopang antara lain oleh pembelian bank sentral dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal global.

Dengan bertambahnya pilihan investasi berbasis emas, investor perlu memahami tidak hanya prospek harga, tetapi juga struktur produk, likuiditas, biaya transaksi, pembentukan harga, serta pengelolaan aset dasarnya.

“Edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi investasi,” tambah Fajar.

View JSON | Print