{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1961177,
        "msgid": "etf-emas-mulai-dilirik-1788580253",
        "date": "2026-09-05 09:41:47",
        "title": "ETF Emas Mulai Dilirik",
        "author": " ",
        "source": "GALERT",
        "tags": "",
        "topic": "Finance",
        "summary": "Gold-based Exchange Traded Funds (ETFs) are gaining traction as a diversification tool within the Indonesian capital market. While retail interest is growing, the instrument faces challenges regarding investor literacy, liquidity, and the readiness of institutional investors.",
        "content": "<p>ETF Emas Mulai Dilirik<\/p>\n<p>JAKARTA, Investor.id \u2014 Perkembangan exchange traded fund (ETF)\nberbasis emas memperluas pilihan masyarakat untuk memperoleh eksposur\nterhadap logam mulia melalui pasar modal. Namun, pengembangan instrumen\nini masih menghadapi tantangan literasi, likuiditas perdagangan, dan\nkesiapan investor institusi.<\/p>\n<p>ETF emas merupakan reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan\ndi bursa. Berbeda dengan membeli emas fisik secara langsung, investor\nmemperoleh eksposur terhadap emas melalui unit ETF yang ditopang aset\ndasar.<\/p>\n<p>Chief Executive Officer (CEO) Syailendra Capital, Fajar R. Hidajat\nmengatakan emas dapat digunakan sebagai salah satu instrumen\ndiversifikasi karena memiliki karakteristik berbeda dengan sejumlah aset\nkeuangan lainnya.<\/p>\n<p>\u201cWalaupun bersifat non-yielding asset, emas mampu menjadi portfolio\ndiversifier karena korelasinya bisa berbeda dengan aset keuangan\nlainnya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Meski kerap menjadi perhatian investor saat pasar keuangan mengalami\ntekanan, harga emas tetap berfluktuasi. Karena itu, investor perlu\nmempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan komposisi\nportofolio.<\/p>\n<p>Emas Fisik Jadi Aset Dasar<\/p>\n<p>Group Head of Operations Syailendra Capital, Agustinus Candra\nmenjelaskan bahwa ETF emas tidak sekadar mengikuti pergerakan harga\nemas, tetapi ditopang mekanisme pengelolaan aset yang melibatkan\nsejumlah pihak. Dalam struktur ETF emas syariah yang dibahas dalam forum\ntersebut, unit investasi harus ditopang keberadaan emas fisik sesuai\nketentuan produk.<\/p>\n<p>Bullion Operation Department Head PT Pegadaian (Persero), Dharma\nSatria menambahkan, setiap bukti kepemilikan harus didukung emas fisik\ndengan prinsip satu banding satu atau 1:1.<\/p>\n<p>\u201cSetiap yang kami keluarkan memang di-back up satu banding satu\ndengan emas fisik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Emas tersebut dicatat dan dapat ditelusuri berdasarkan antara lain\nberat, kemurnian, serta nomor seri. Menurut Dharma, mekanisme\npenyimpanan juga memungkinkan audit untuk memastikan aset dasar\nbenar-benar tersedia secara fisik.<\/p>\n<p>Dari sisi perdagangan, Head of Business Development Mirae Asset\nSekuritas, Simon Gunawan Sinaga mengungkapkan jika ETF dapat\nditransaksikan melalui pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer\ndigunakan untuk pembentukan dan pencairan unit melalui mekanisme\ncreation dan redemption. Setelah terbentuk, unit ETF dapat\ndiperdagangkan investor di pasar sekunder. Dalam mekanisme tersebut,\ndealer participant berperan menyediakan kuotasi jual dan beli untuk\nmenjaga likuiditas.<\/p>\n<p>\u201cKami akan tetap berkomitmen menyerap kebutuhan yang ada selama\nharganya sesuai dengan fair price,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Simon pun mengingatkan harga ETF di pasar sekunder tidak selalu sama\npersis dengan nilai emas yang menjadi aset dasarnya karena harga\ndibentuk oleh permintaan dan penawaran. Karena itu, investor perlu\nmemperhatikan bukan hanya harga emas, tetapi juga likuiditas, volume\ntransaksi, serta selisih harga jual dan beli atau spread.<\/p>\n<p>Investor Ritel Mulai Masuk<\/p>\n<p>Lebih lanjut Agustinus menyebutkan terdapat sekitar 400 investor\nritel telah masuk ke instrumen ETF emas berdasarkan data internal yang\ndisampaikan dalam forum tersebut. Menurut ia, ETF emas sebaiknya\ndipandang sebagai salah satu alternatif diversifikasi, bukan\nsatu-satunya instrumen investasi.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan investasi utama, tetapi alternatif diversifikasi bagi\nklien yang mungkin sudah memiliki saham atau instrumen lainnya,\u201d\nucapnya.<\/p>\n<p>Investor institusi seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun juga\nmenjadi sasaran pengembangan. Namun, sebagian institusi masih perlu\nmenyesuaikan aturan dan mekanisme internal sebelum masuk ke instrumen\ntersebut.<\/p>\n<p>Head of Investment Specialist Syailendra Capital, Syanne Gracetinne\nPolii menilai tantangan lainnya adalah literasi investor, terutama di\nkalangan generasi muda yang cenderung mengharapkan keuntungan dalam\nwaktu singkat. Menurut ia, ETF emas di pasar sekunder dapat\nditransaksikan dengan nominal sekitar Rp100.000.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan lagi perkara kemampuan, tapi perkara kemauan,\u201d\ntuturnya.<\/p>\n<p>Syanne juga memperkirakan harga emas berpotensi bergerak sideways\ndalam tiga hingga enam bulan setelah mengalami reli panjang sejak 2025.\nNamun, permintaan jangka panjang dinilai masih ditopang antara lain oleh\npembelian bank sentral dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal\nglobal.<\/p>\n<p>Dengan bertambahnya pilihan investasi berbasis emas, investor perlu\nmemahami tidak hanya prospek harga, tetapi juga struktur produk,\nlikuiditas, biaya transaksi, pembentukan harga, serta pengelolaan aset\ndasarnya.<\/p>\n<p>\u201cEdukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi\ninvestasi,\u201d tambah Fajar.<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/etf-emas-mulai-dilirik-1788580253",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}