Indonesian Political, Business & Finance News

Analyst: Rafale Arrival Signals a Technological Leap in Indonesia’s Defence Capabilities

| Source: ANTARA_ID Translated from Indonesian | Politics
Analyst: Rafale Arrival Signals a Technological Leap in Indonesia’s Defence Capabilities
Image: ANTARA_ID

Jakarta, Indonesia - Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris) Hanif Rahadian menilai kehadiran pesawat tempur Dassault Rafale menjadi salah satu lompatan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI AU. Hal tersebut dikatakan Hanif karena Rafale merupakan pesawat tempur generasi 4,5 pertama yang dimiliki Indonesia, setelah sebelumnya TNI AU menjadikan pesawat generasi keempat, F-16 Fighting Falcon, sebagai tulang punggung utama pertahanan udara Indonesia. “Akuisisi pesawat tempur Rafale, yang diproyeksikan menjadi backbone kekuatan udara Indonesia di masa depan, menghadirkan lompatan teknologi signifikan dalam pembangunan kekuatan TNI AU,” kata Hanif saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa. Menurut Hanif, Rafale yang telah diakuisisi TNI AU layak menjadi ujung tombak pertahanan udara karena memiliki beberapa kemampuan. Salah satu kemampuannya yakni rudal meteor yang akan dipasangkan pada Rafale. Dengan rudal air to air jarak dekat ini, Rafale dimungkinkan dapat menyerang dengan kecepatan penuh di udara. Belum lagi dengan kehadiran Smart Weapon ASSM Humer yang juga dipasangkan di Rafale. Senjata ini membuat Rafale mampu mengincar target udara dan laut secara presisi. “Rafale juga memiliki kemampuan membawa rudal stand-off SCALP EG dan rudal anti-kapal AM39 Exocet. Kapabilitas ini membuka peluang peningkatan daya gentar dan fleksibilitas operasi udara TNI AU di masa depan,” kata Hanif. Namun demikian, Hanif juga mengingatkan agar TNI AU mampu mengintegrasikan pesawat tempur Rafale beserta perangkat canggihnya dengan doktrin yang dianut TNI AU. Penyesuaian itu, menurut Hanif, harus dilakukan agar seluruh alutsista, termasuk Rafale, mampu mendukung konsep pertempuran dan pertahanan yang dianut TNI. Proses penyesuaian doktrin itu pun harus dilakukan dengan cepat, beriringan dengan penguatan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung Rafale. Walau membutuhkan waktu, Hanif yakin dampak dari penyesuaian doktrin itu akan memberikan pengaruh besar bagi penguatan pertahanan Indonesia. “Pengadaan ini tetap menjadi langkah penting dalam memperkecil kesenjangan teknologi dan meningkatkan kapabilitas pertahanan udara nasional,” kata Hanif. Untuk diketahui, TNI AU baru saja menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan itu secara simbolis telah dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto ke Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, lalu lanjut diserahkan ke Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis, Senin (18/5). Ke enam pesawat tersebut ditugaskan di Skadron 12 yang berlokasi di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Kini, TNI masih menunggu 36 pesawat Rafale lainnya yang masih dalam proses pembuatan di perusahaan penerbangan Dassault di Prancis.

View JSON | Print