{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1749056,
        "msgid": "analyst-rafale-arrival-signals-a-technological-leap-in-indonesias-defence-capabilities-1779546214",
        "date": "2026-05-19 16:25:15",
        "title": "Analyst: Rafale Arrival Signals a Technological Leap in Indonesia\u2019s Defence Capabilities",
        "author": "",
        "source": "ANTARA_ID",
        "tags": "",
        "topic": "Politics",
        "summary": "An analyst from Keris, Hanif Rahadian, says the Rafale's arrival marks a significant technological leap for Indonesia's main weapon systems. He notes it as Indonesia's first 4.5-generation fighter, supplementing the F-16s that have long formed the backbone of the Air Force's air defence. Six Rafale jets have been delivered, with 36 more on order.",
        "content": "<p>Jakarta, Indonesia - Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian\nPertahanan Strategis (Keris) Hanif Rahadian menilai kehadiran pesawat\ntempur Dassault Rafale menjadi salah satu lompatan teknologi alat utama\nsistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI AU. Hal tersebut dikatakan\nHanif karena Rafale merupakan pesawat tempur generasi 4,5 pertama yang\ndimiliki Indonesia, setelah sebelumnya TNI AU menjadikan pesawat\ngenerasi keempat, F-16 Fighting Falcon, sebagai tulang punggung utama\npertahanan udara Indonesia. \u201cAkuisisi pesawat tempur Rafale, yang\ndiproyeksikan menjadi backbone kekuatan udara Indonesia di masa depan,\nmenghadirkan lompatan teknologi signifikan dalam pembangunan kekuatan\nTNI AU,\u201d kata Hanif saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa. Menurut\nHanif, Rafale yang telah diakuisisi TNI AU layak menjadi ujung tombak\npertahanan udara karena memiliki beberapa kemampuan. Salah satu\nkemampuannya yakni rudal meteor yang akan dipasangkan pada Rafale.\nDengan rudal air to air jarak dekat ini, Rafale dimungkinkan dapat\nmenyerang dengan kecepatan penuh di udara. Belum lagi dengan kehadiran\nSmart Weapon ASSM Humer yang juga dipasangkan di Rafale. Senjata ini\nmembuat Rafale mampu mengincar target udara dan laut secara presisi.\n\u201cRafale juga memiliki kemampuan membawa rudal stand-off SCALP EG dan\nrudal anti-kapal AM39 Exocet. Kapabilitas ini membuka peluang\npeningkatan daya gentar dan fleksibilitas operasi udara TNI AU di masa\ndepan,\u201d kata Hanif. Namun demikian, Hanif juga mengingatkan agar TNI AU\nmampu mengintegrasikan pesawat tempur Rafale beserta perangkat\ncanggihnya dengan doktrin yang dianut TNI AU. Penyesuaian itu, menurut\nHanif, harus dilakukan agar seluruh alutsista, termasuk Rafale, mampu\nmendukung konsep pertempuran dan pertahanan yang dianut TNI. Proses\npenyesuaian doktrin itu pun harus dilakukan dengan cepat, beriringan\ndengan penguatan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung Rafale.\nWalau membutuhkan waktu, Hanif yakin dampak dari penyesuaian doktrin itu\nakan memberikan pengaruh besar bagi penguatan pertahanan Indonesia.\n\u201cPengadaan ini tetap menjadi langkah penting dalam memperkecil\nkesenjangan teknologi dan meningkatkan kapabilitas pertahanan udara\nnasional,\u201d kata Hanif. Untuk diketahui, TNI AU baru saja menerima enam\nunit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan itu secara simbolis\ntelah dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto ke Panglima TNI Jenderal\nTNI Agus Subiyanto, lalu lanjut diserahkan ke Kepala Staf TNI AU (KSAU)\nMarsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana di Lanud Halim Perdanakusuma,\nJakarta Timur, Kamis, Senin (18\/5). Ke enam pesawat tersebut ditugaskan\ndi Skadron 12 yang berlokasi di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.\nKini, TNI masih menunggu 36 pesawat Rafale lainnya yang masih dalam\nproses pembuatan di perusahaan penerbangan Dassault di Prancis.<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/analyst-rafale-arrival-signals-a-technological-leap-in-indonesias-defence-capabilities-1779546214",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}