The Black Sheep in the People’s Kitchen: The Knotty Web of Oversight and the Vanishing Minyakita
Minyakita, yang sejak awal dipromosikan sebagai minyak goreng rakyat, kini justru menjadi barang yang dicari-cari. Di sejumlah daerah, pasokannya tersendat. Di beberapa pasar, harganya melonjak jauh dari harga eceran tertinggi. Andi (41), pedagang nasi goreng di Jakarta, menjadi salah satu yang terpukul atas permasalahan ini.
“Memang naik (harganya), bukan cuma dikit ya (stoknya). Kami kan tiap hari pakai minyak cukup banyak, jadi begitu harga naik langsung kerasa ke modal. Apalagi belinya nggak cuma satu dua liter, bisa berkali-kali. Jadi pengeluaran makin besar terus, nggak bisa dihindarin,” kata laki-laki berusia 41 tahun itu kepada detikX.
Sudah beberapa bulan ini, Andi kerap kesusahan memenuhi kebutuhan Minyakita untuk dagangannya. Dia harus muter-muter ke beberapa toko kelontong untuk mendapatkannya. Sebab, di tempat langgannya, stok Minyakita kerap kosong.
“Tadi pagi di tempat langganan saya nggak ada, jadi harus muter satu dua toko kelontong dulu. Itu juga stoknya nggak banyak, jadi saya tadi cuma berani beli dua liter dulu. Nggak bisa langsung nyetok banyak kayak biasanya,” tuturnya.
Kelangkaan dan bahkan hilangnya stok Minyakita di pasar, kata Andi, mulai muncul sejak Lebaran, pertengahan Maret 2026. Dia menduga ada permainan para “Mafia Sawit”. Andi beberapa kali akhirnya terpaksa membeli minyak curah karena kesulitan mencari Minyakita, meski harganya lebih mahal.
“Kadang kami dengar dari sesama pedagang, katanya ada permainan di distribusi, barangnya nggak selalu keluar lancar. Ada juga yang bilang mungkin ada yang nahan barang biar harga naik. Bahkan ada yang nyebut soal mafia sawit juga, tapi ya itu, kita nggak tahu pasti. Yang kita rasakan ya dampaknya aja, akhirnya ke usaha kita juga kena,” ujarnya.
“(Kelangkaan ini) ganggu banget,” imbuhnya. “Kami serba salah soalnya. Mau naikin harga nasi goreng takut pelanggan kabur, tapi kalau nggak dinaikin ya kita yang nombok.”
Hal serupa juga dialami Nari, seorang ibu rumah tangga yang namanya disamarkan. Dia sempat kaget atas kelangkaan ini. Sebab, stok minyak goreng sebelum Lebaran 2026 itu menurutnya aman-aman saja, tetapi setelahnya justru ia kesulitan mencarinya.
“Apalagi di rumah saya ada empat orang anggota keluarga, dan kami memang setiap hari masak, minimal untuk makan pagi dan makan siang. Jadi minyak goreng itu benar-benar jadi kebutuhan utama. Meskipun tidak selalu masak yang digoreng, tapi untuk menumis pun tetap butuh minyak, walaupun sedikit. Jadi tetap terasa sekali dampaknya ketika harga naik,” ujar perempuan berusia 50 tahun ini kepada detikX.
Akhirnya, Nari terpaksa harus menyiasati menu masakan. Dia mengurangi masakan yang harus digoreng, pada akhirnya lebih menyajikan masakan yang direbus, kukus, atau pepesan. Jika tidak, pengeluarannya akan deras.
Pedagang Minyakita di Pasar Minggu Ngeluh Kekurangan Stok
Foto : CNN Indonesia/ Endrapta Ibrahim
“Sebagai masyarakat awam, saya sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi di balik ini semua. Kenapa minyak goreng bisa jadi agak langka, atau tidak tersedia dalam jumlah banyak untuk beberapa merek tertentu, terutama di warung-warung kecil. Tapi yang jelas, sebagai konsumen kita merasakan dampaknya. Barang jadi tidak selalu mudah didapat, dan harganya juga naik,” ungkapnya.
Beberapa pemilik warung yang ditemui Nari berujar, memang ada kenaikan harga dari distributor. Ini yang membuat toko kelontong turut menaikkan harga. Selain itu, di tempat lain yang tak ada stoknya, memang disengaja karena tak ingin kehilangan konsumen.
“Untuk beberapa merek seperti Minyakita, mereka sekarang tidak ambil lagi dari distributor, karena merasa tidak enak kalau harus menjual dengan harga yang berbeda dari yang tertera di kemasan. Jadi sekarang hanya menghabiskan stok yang masih ada saja,” ujarnya.
Nari berharap pemerintah mengambil langkah serius untuk menanggulangi permasalahan yang nyata di masyarakat ini. Salah satunya dengan menggalakkan operasi pasar.
“Atau kebijakan lain supaya harga bisa kembali turun atau setidaknya stabil seperti sebelumnya. Karena Indonesia kan penghasil sawit besar, jadi rasanya agak janggal kalau harga minyak goreng di dalam negeri justru mahal,” ujarnya.
Krisis di dapur rakyat ini menunjukkan ambivalensi negara dalam mengelola sawit. Memang benar apa yang dikatakan Nari, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Hal tersebut sempat disebut dalam Outlook Komoditas Perkebunan Kelapa Sawit Kementerian Pertanian tahun 2024. Tercatat bahwa Indonesia juga eksportir CPO terbesar di dunia, yang menguasai pangsa lebih dari 55% total minyak kelapa sawit yang diekspor di dunia.
Setiap kali harga minyak goreng naik, tuduhan terhadap industri sawit hampir selalu muncul lebih dulu. Narasinya yang kerap beredar ialah Indonesia produsen sawit besar, tetapi minyak goreng rakyat mahal. Maka, industri dituding menahan pasokan atau lebih memilih ekspor. Namun, ini adalah misinformasi. Sebab, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kewajiban distribusi Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng rakyat bahkan telah terpenuhi jauh di atas ketentuan minimum dalam Permendag Nomor 43 Tahun 2025 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Gorak Rakyat.
“Kebijakan DMO minimal 35 persen melalui BUMN Pangan terbukti efektif menjaga ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga Minyakita di pasar. Bahkan realisasinya yang sudah melebihi 49 persen menunjukkan mekanisme distribusi berjalan dengan baik,” ujar Budi.
Bahkan Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag Nawandaru Dwi Putra menegaskan capaian DMO telah melampaui atau di atas target dari pemerintah. Penjelasan sederhananya, DMO telah terpenuhi lebih dari 100% dari ketentuan pemerintah.
Dalam hal ini, terkait kewajiban pasok yang didesain pemerintah, tak ada permasalahan di sektor hulu atau produsen bahan baku Minyakita. Lantas dari mana masalah pemicu raib dan mahalnya Minyakita di etalase pasar? Di titik inilah persoalan Minyakita tidak lagi bisa dibaca hanya sebagai urusan harga minya