Technology and Investment to Determine Indonesia's Oil and Gas Future
Jakarta, Investortrust.id - Indonesia still holds significant potential in oil and gas (migas), including in Kalimantan, which could support the government’s national oil and gas production target. However, increasing production requires investment support, technology, legal certainty, and bureaucratic speed so that the development of oil and gas fields can proceed more optimally.
Migas practitioner and expert Tumbur Parlindungan said that Indonesia needs investors with technological capability and financial strength to develop the migas potential, including in Kalimantan. Investors also require legal certainty or contract sanctity in accordance with the Production Sharing Contract (PSC) that was signed at the outset of the project.
Moreover, regulations at central and regional levels should not contradict the PSC contracts that have been agreed, in order to maintain a stable investment climate. ‘Investors require legal certainty in accordance with the PSC that has been signed from the start. Central and regional regulations should not contradict the contracts that have already been agreed,’ said former President of the Indonesia Petroleum Association (IPA) to Investortrust.id on Friday 22 May 2026.
Tantangan lain yang cukup besar untuk wilayah darat atau onshore seperti di Kalimantan adalah proses pembebasan lahan dan perubahan status penggunaan lahan yang memerlukan waktu panjang. Untuk itu, pelaku industri mendorong pembentukan tim khusus lintas kementerian dan lembaga untuk membantu percepatan proses birokrasi dan perizinan proyek migas.
Selain kepastian regulasi, industri juga menilai iklim investasi yang sehat, infrastruktur penunjang, serta stabilitas politik dan keamanan menjadi faktor penting untuk menarik investasi baru di sektor migas.
Di sisi produksi, kata dia, penurunan produksi lapangan migas tua masih menjadi tantangan utama. Industri menilai laju penurunan produksi hanya dapat ditekan melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna. ‘Teknologi yang digunakan berbeda untuk setiap lapangan migas, tergantung karakteristik reservoir dan kondisi lapangan,’ kata Tumbur.
Untuk itu, kerja sama dengan perusahaan yang memiliki penguasaan teknologi menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan migas nasional. ‘Penggunaan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN juga diharapkan tetap mempertimbangkan kesiapan teknologi yang tersedia agar tidak menghambat operasional dan investasi,’ kata Tumbur.
Dia menilai peningkatan produksi migas nasional hanya dapat dicapai melalui penemuan lapangan baru lewat aktivitas eksplorasi yang lebih agresif, baik di wilayah darat maupun lepas pantai Kalimantan. ‘Tanpa aktivitas eksplorasi yang masif, peningkatan produksi akan sangat sulit terjadi,’ ujarnya.
Selain eksplorasi, Tumbur mengatakan, penerapan enhanced oil recovery (EOR) juga masih memungkinkan diterapkan di lapangan migas berukuran besar atau giant field. Namun, untuk lapangan marginal, implementasi EOR sulit dilakukan karena faktor keekonomian proyek yang kurang memadai.
Dia mengatakan, industri sebaiknya mulai memanfaatkan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lapangan migas, termasuk penggunaan machine learning dan artificial intelligence (AI) dalam operasional hulu migas. Pemanfaatan teknologi digital dapat membantu perusahaan menekan laju penurunan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasi di tengah tantangan industri migas global yang semakin kompleks.