Student Movements and the Power of Mass Media Narratives
Mahasiswa selama ini dipandang sebagai kelompok intelektual yang memiliki posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peran tersebut tidak hanya terbatas pada aktivitas akademik di kampus, tetapi juga mencakup tanggung jawab sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, sudah saatnya kesadaran kolektif ini dibangkitkan kembali agar mahasiswa benar-benar hadir sebagai agen perubahan yang memberikan solusi nyata bagi persoalan bangsa. Dalam tradisi gerakan mahasiswa, terdapat lima peran utama yang melekat, yakni sebagai Agent of Change, Guardian of Value, Iron Stock, Moral Force, dan Social Control. Melalui kapasitas intelektual, idealisme serta kepekaan terhadap persoalan publik, mahasiswa diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan, menjaga nilai-nilai luhur, mempersiapkan kepemimpinan masa depan, menegakkan moralitas, serta mengawal kehidupan sosial dan pemerintahan agar tetap berada pada koridor yang benar. Fenomena yang muncul saat ini justru menunjukkan semakin memudarnya pemahaman mahasiswa terhadap peran strategis yang seharusnya mereka emban. Tidak sedikit mahasiswa yang menjalani kehidupan kampus tanpa benar-benar memahami esensi kemahasiswaan itu sendiri. Padahal, setiap tahun perguruan tinggi menyelenggarakan OSPEK sebagai gerbang awal pengenalan kehidupan kampus. Dalam praktiknya, banyak institusi pendidikan lebih menekankan aspek administrasi dan akademik, sementara pembahasan mengenai identitas, tanggung jawab sosial, dan peran sejarah mahasiswa sering kali terpinggirkan. Akibatnya, lahirlah generasi pelajar yang mengenal kampusnya, tetapi belum tentu memahami misi kemahasiswaannya. Problematika pemerintahan dan kehidupan masyarakat saat ini sudah sangat runyam, dan hal itu tidak terjadi hanya dalam setahun belakangan. Pemerintahan saat ini mulai menampakkan kebobrokannya secara terang-terangan, mulai dari gemuknya kabinet, penghapusan sejarah era reformasi 1998 terkait penipuan pada etnis Tionghoa, penempatan militerisme di sektor sipil, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat besar anggarannya, hingga yang terbaru adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Gerakan mahasiswa saat ini masih kurang masif, bukan karena tidak ada yang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi, atau tidak ada mahasiswa yang kritis terhadap isu sosial dan politik di negara ini, melainkan karena gerakan mahasiswa saat ini tidak dilandasi dengan esensi kemahasiswaan itu sendiri. Sama halnya dengan mahasiswa yang melakukan aksi intensif, 80% dari mereka yang turun ke jalan hanya sekadar ikut berpartisipasi dan meramaikan aksi yang berlabel bahwa aksi tersebut datang dari hati nurani yang cinta ibu pertiwi. Tidak ada yang salah dan tidak perlu dipertanyakan dari pernyataan di atas karena hal itu sudah menjadi perwakilan mahasiswa atas keberpihakannya kepada masyarakat. Namun, hal kecil ini bisa menjadi celah kecil yang berdampak besar bagi gerakan mahasiswa atas kelayakannya memerankan 5 peran mahasiswa itu sendiri. Akibatnya, celah kecil itu menjadi peluang bagi media massa untuk memonopoli narasi atas gerakan mahasiswa. Senin malam 15 Juni 2026 bertepatan dengan awal bulan Muharam, Nusron Wahid, Sudaryono dan Budiman Sudjatmiko menghadiri acara diskusi bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar”. Kegiatan yang dipandu oleh media Total Politik tersebut berakhir ricuh dan dibubarkan setelah Aliansi Mahasiswa UGM menilai forum yang menghadirkan Nusron Wahid, Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko tersebut tidak berimbang dan hanya menjadi ajang pamer kekuasaan. Ketegangan memuncak ketika Budiman Sudjatmiko melontarkan pernyataan yang dianggap menyindir kritik mahasiswa di media sosial, memicu puluhan mahasiswa merangsek naik ke panggung membawa spanduk kecaman serta berpartisipasi dalam yel-yel “Revolusi”. Budiman langsung dievakuasi lewat pintu belakang, sementara Nusron Wahid dan Sudaryono yang mobil dinasnya dihadang massa akhirnya memilih turun ke jalan untuk duduk lesehan dan berdialog langsung dengan mahasiswa di aspal Bundaran UGM sebelum akhirnya meninggalkan lokasi dengan pengawalan polisi. Kejadian ini menimbulkan banyak perubahan terhadap pandangan publik terhadap peran mahasiswa, hingga akhirnya media massa lainnya memiliki narasi sendiri untuk menjatuhkan bahkan memutarbalikkan fakta atas gerakan mahasiswa. Hal ini menjadi salah satu cara pemerintah untuk menghancurkan gerakan mahasiswa dari bawah, mereka merenggut dan memobilisasi media massa untuk menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa. Pemerintah saat ini tidak hanya pintar untuk melanggengkan dan memperkaya kekuasaan, ia juga mampu menghabisi dan membunuh para pembangkang yang tidak sejalan dengan mereka. Negara ini sudah tidak layak disebut sebagai negara demokrasi, karena suara terus dibungkam dengan berbagai cara, kesalahan terus dibenarkan dan keadilan hanya untuk mereka yang mempunyai jabatan. Otoritarianisme menjadi senjata utama untuk melindungi kegagalan demokrasi, sehingga media massa pun ikut termobilisasi dengan mendukung bahwasanya gerakan mahasiswa saat ini antidemokrasi. Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, gerakan mahasiswa harus terus berlanjut karena di tangan mahasiswalah arah bangsa tergenggam. Bukan ketakutan yang harus dipendam, namun keberanian yang terus disatukan untuk melawan rezim saat ini. Jika mereka bisa membuat kita berhati-hati dalam bergerak, maka artinya gerakan mahasiswa saat ini berhasil membuat pemerintah harus memikirkan segala cara untuk menghentikan gerakan mahasiswa. Pada akhirnya, tantangan terbesar gerakan mahasiswa hari ini bukan hanya menghadapi berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah, tetapi juga melawan upaya pembentukan opini publik yang berpotensi menimbulkan legitimasi perjuangan.