Indonesian Political, Business & Finance News

Reason, Morality, and the Bureaucratic Labyrinth

| | Source: REPUBLIKA Translated from Indonesian | Anthropology
Reason, Morality, and the Bureaucratic Labyrinth
Image: REPUBLIKA

Filsafat kritisisme, yang berakar dari tradisi Immanuel Kant dan dikembangkan lebih lanjut oleh Mazhab Frankfurt (Horkheimer, Adorno, Habermas), menempatkan kritik sebagai jantung dari aktivitas filosofis. Kritisisme bukan sekadar skeptisisme, melainkan upaya sistematis untuk menguji batas-batas, syarat-syarat, dan validitas nalar itu sendiri. Sastra, dalam kerangka ini, bukan sekadar hiburan estetis, melainkan laboratorium epistemologis dan moral di mana gagasan-gagasan filsafat diuji secara dramatis melalui narasi.

Esai ini membandingkan dua karya yang, meskipun dipisahkan oleh waktu dan geografi, sama-sama membongkar krisis subjek rasional modern: Crime and Punishment karya Dostoevsky dan The Trial karya Kafka. Keduanya mengeksplorasi apa yang terjadi ketika nalar—baik dalam bentuk rasionalisme utilitarian maupun birokrasi hukum—berhadapan dengan batas-batasnya sendiri.

Dalam Crime and Punishment, Dostoevsky menghadirkan Raskolnikov, seorang mantan mahasiswa yang membunuh seorang rentenir tua berdasarkan teori rasional: bahwa pembunuhan satu orang ‘berbahaya’ demi kebaikan ribuan orang lain dapat dibenarkan secara matematis-moral. Teori ini adalah manifestasi dari rasionalisme utilitarian dan nihilisme moral yang sedang berkembang di Rusia abad ke-19. Secara kritisisme Kantian, Raskolnikov melakukan pelanggaran mendasar terhadap Imperatif Kategoris: ia memperlakukan manusia sebagai sarana bagi eksperimen intelektualnya, bukan sebagai tujuan. Namun, Dostoevsky tidak berhenti pada kritik teori moral. Ia menunjukkan bahwa nalar yang terisolasi dari hati nurani, penderitaan konkret, dan relasi manusia pada akhirnya menghancurkan subjek itu sendiri. Raskolnikov tidak dihukum terutama oleh hukum positif, melainkan oleh dirinya sendiri—oleh kecemasan, demam, dan alienasi yang menggerogoti jiwanya. Di sinilah letak kritik Dostoevsky: nalar yang mengklaim otonomi total, yang menolak batas-batas yang ditetapkan oleh moralitas, agama, dan empati, pada akhirnya menjadi irasional.

Jika Dostoevsky mengkritik nalar yang melampaui batas moralnya, Kafka dalam The Trial mengkritik nalar yang telah berubah menjadi sistem yang tak tersentuh. Josef K., protagonis novel ini, ditangkap pada pagi hari ulang tahunnya yang ke-30 tanpa pernah diberitahu dakwaan apa yang menimpanya. Ia menghabiskan seluruh novel untuk mencari keadilan dalam sebuah sistem pengadilan yang birokratis, berlapis-lapis, dan pada dasarnya tidak rasional. Kafka merepresentasikan apa yang oleh Horkheimer dan Adorno disebut sebagai nalar instrumental yang telah menjadi irasional. Sistem pengadilan dalam novel ini tampak sangat rasional—penuh prosedur, hierarki, dokumen, dan aturan—namun pada kenyataannya, sistem ini tidak melayani keadilan, melainkan melanggengkan dirinya sendiri. Subjek, Josef K., tidak lagi menjadi pusat dari proses hukum; ia direduksi menjadi objek administratif, sebuah berkas dalam arsip tak berujung. Filsafat kritisisme menemukan bentuknya yang paling gelap di sini: ketika nalar dilembagakan menjadi sistem total, ia kehilangan kapasitasnya untuk mengkritik dirinya sendiri.

Membandingkan Raskolnikov dan Josef K. mengungkapkan dua sisi dari krisis yang sama dalam proyek modernitas. Raskolnikov mengalami krisis internal subjek moral. Ia adalah individu yang terlalu percaya pada nalarnya sendiri, sehingga melampaui batas-batas moral yang seharusnya membatasi tindakan manusia. Bentuk nalar yang ia praktikkan adalah rasionalisme utilitarian yang individualistik—ia mencoba menciptakan sistem moralnya sendiri di luar hukum universal. Sumber penderitaannya berasal dari hati nurani dan isolasi moral yang ia alami setelah melakukan kejahatan. Resolusi yang ditawarkan Dostoevsky adalah pengakuan, penderitaan, dan akhirnya penebusan melalui agama. Dalam kerangka tradisi kritis, Raskolnikov merepresentasikan kritisisme Kantian yang menguji batas-batas nalar praktis. Sebaliknya, Josef K. mengalami krisis eksternal sistem birokratis. Ia bukanlah individu yang mencoba melampaui moralitas, melainkan korban dari rasionalitas institusional-total yang tidak pernah bisa ia pahami atau akses.

View JSON | Print