Indonesian Political, Business & Finance News

Perkuat Industri Migas, IATMI Dorong Ketahanan Energi Nasional

| | Source: INVESTOR.ID | Energy
Perkuat Industri Migas, IATMI Dorong Ketahanan Energi Nasional
Image: INVESTOR.ID

Perkuat Industri Migas, IATMI Dorong Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA, investor.id – Upaya memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional membutuhkan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) yang mampu menjaga sekaligus meningkatkan produksi. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga kemampuan mengubah potensi menjadi cadangan, proyek, investasi, hingga produksi.

Hal itu mengemuka dalam Simposium Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) XVIII 2026 di Jakarta, yang mengangkat tema Migas Indonesia di Era Transformasi Energi: Beradaptasi, Berkolaborasi, dan Memimpin, subtema Membangun Ketahanan Energi Nasional melalui Teknologi, SDM, dan Kapabilitas Nasional.

Dalam simposium tersebut, Ketua Umum IATMI Andre Wijanarko mengatakan, penguatan ekosistem hulu migas menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan energi nasional. Menurut dia, upaya menutup kesenjangan produksi membutuhkan kepastian kebijakan, daya saing investasi, serta kemampuan eksekusi yang kuat.

“Kita tidak cukup hanya berbicara tentang menemukan cadangan. Kita harus berbicara tentang bagaimana resource menjadi reserve, reserve menjadi project, project menjadi investment, dan investment menjadi production,” jelas Andre dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).

Dia menjelaskan, pada setiap tahapan tersebut terdapat tantangan yang harus diselesaikan, mulai dari regulasi, keekonomian proyek, teknologi, infrastruktur, hingga proses pengambilan keputusan. Karena itu, menurut Andre, ekosistem industri harus mampu memberikan tiga hal utama, yakni kepastian, daya saing, dan eksekusi.

Andre mengungkapkan, penguatan industri hulu juga tidak terlepas dari agenda pemerintah untuk membangun ketahanan dan swasembada energi nasional. Semangat tersebut sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ketahanan nasional dan mendorong kemandirian ekonomi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal IATMI Medianestrian menegaskan bahwa upaya mewujudkan ketahanan energi nasional membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan secara berkelanjutan.

“Ketahanan energi tidak dibangun dalam satu proyek atau satu periode investasi, melainkan melalui konsistensi pengembangan sumber daya, penguatan kompetensi nasional, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. IATMI berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari upaya tersebut melalui kontribusi profesionalisme dan keahlian anggotanya,” ujar dia.

Dalam pandangan Medianestrian, ketahanan energi merupakan sebuah proses panjang yang menuntut konsistensi, koordinasi, dan visi bersama. Pilar ketahanan energi meliputi pertama, pengembangan sumber daya. Eksplorasi energi fosil yang berkelanjutan, diversifikasi ke energi terbarukan (surya, angin, hidro, biomassa), serta riset teknologi baru seperti hidrogen hijau.

Kedua, penguatan kompetensi nasional dengan membangun SDM yang ahli di bidang energi, dari teknisi hingga peneliti, agar tidak bergantung pada tenaga asing. Ketiga, kolaborasi pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah, BUMN, swasta, akademisi, dan masyarakat harus bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Keempat, jelas dia, infrastruktur energi, seperti jaringan listrik, fasilitas penyimpanan, dan sistem distribusi yang tangguh agar pasokan tidak mudah terganggu. Kelima, kebijakan jangka panjang, mulai dari regulasi yang konsisten, insentif untuk energi bersih, serta roadmap transisi energi yang jelas.

Namun, diakui Medianestrian, ada tantangan yang sering muncul. Mulai dari ketergantungan impor, di mana banyak negara masih bergantung pada energi dari luar, sehingga rentan terhadap gejolak harga global. Lalu, ada investasi jangka pendek, karena proyek energi sering hanya mengejar keuntungan cepat, bukan keberlanjutan. Tantangan lain adalah fragmentasi kebijakan. Lembaga berbeda punya agenda masing-masing, sehingga arah pembangunan energi tidak sinkron.

Karena itu, Medianestrian berharap ke depan, ketahanan energi hanya bisa dicapai bila ada kesepakatan nasional bahwa energi adalah urat nadi pembangunan. Artinya, setiap kebijakan harus menempatkan energi sebagai prioritas strategis, bukan sekadar proyek teknis.

Melalui simposium IATMI XVIII 2026 diharapkan dapat mempertemukan gagasan dengan keputusan, keputusan dengan investasi, dan investasi dengan produksi.

Saat ini IATMI memiliki 18.921 anggota yang terdiri atas 11.659 profesional, 642 akademisi, dan 6.620 mahasiswa. Komposisi tersebut, menunjukkan pentingnya peran asosiasi dalam mempertemukan pengalaman industri, pengetahuan akademik, serta energi generasi muda.

View JSON | Print