Indonesian Political, Business & Finance News

Not Just Chasing Grades: Revisiting the Foundations of Islamic Values

| | Source: REPUBLIKA Translated from Indonesian | Education
Not Just Chasing Grades: Revisiting the Foundations of Islamic Values
Image: REPUBLIKA

Ujian selesai, lembar jawaban dikumpulkan, lalu nilai keluar. Bagi banyak pelajar dan mahasiswa, angka-angka itulah yang dianggap menentukan masa depan, padahal nilai hanyalah salah satu ukuran hasil belajar, bukan tujuan akhir dari proses menuntut ilmu. Pelajar dan mahasiswa masa kini kerap menjadikan masa ujian sebagai ajang formalitas yang melelahkan. Mereka belajar dan menghafal dengan sistem kebut semalam yang hanya dituangkan di kertas ujian, lalu melupakannya seketika. Padahal, esensi belajar begitu luas, bukan sekadar validasi untuk mendapat nilai A. Ketika kita menengok kembali para sejarawan Islam, kita akan menemukan perbedaan: Islam tidak memandang ilmu sebagai barang dagangan yang hanya bisa diukur lewat angka-angka.

Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam

Jika kita menilik khazanah Islam, pendidikan Islam tidak berhenti pada selembar kertas atau angka di rapor. Hakikatnya adalah membentuk manusia yang berilmu serta berakhlak, bukan hanya menghasilkan lulusan yang mampu menghafal materi, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat ini tercermin dalam lima istilah: tarbiyah (proses membina karakter), ta’lim (mengajarkan ilmu pengetahuan), ta’dib (membentuk etika serta tata krama), tadris (menekankan strategi belajar yang efektif), dan tazkiyyah (menyucikan jiwa dari sifat tercela). Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk akhlak atau etika guna memenuhi perintah Allah, bukan semata-mata memperoleh kebahagiaan duniawi. Fungsi utama pendidikan Islam adalah agar manusia mampu menjalankan dua peran sekaligus, yakni sebagai ’abdullah (hamba Allah) dan khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi).

Urgensi Adab dan Lurusnya Niat

Untuk menjalankan peran besar sebagai khalifah fil ardh, ada satu kondisi yang semakin terkikis dalam pendidikan saat ini, yaitu hilangnya adab. Guna mengembalikan nilai-nilai yang mulai luntur, kita dapat merujuk pada literatur klasik seperti karya Imam Az-Zarnuji. Beliau menjelaskan pentingnya beradab sebelum berilmu, dan menegaskan bahwa niat adalah hal utama dalam menuntut ilmu. Ilmu dapat menghilangkan kebodohan, dan dengan niat yang lurus, kita juga mencari ridha Allah, bukan sekadar mengejar hal duniawi atau nilai-nilai yang hanya berlaku di dunia. Ketika niat sudah diluruskan dengan benar, nilai akademis hanyalah bonus, bukan tujuan utama yang dapat membuat seseorang pusing, bingung, hingga berbuat curang dalam belajar.

Setelah meluruskan niat, langkah selanjutnya adalah proses belajar yang benar, atau yang sering disebut adab ketika belajar. Para ulama telah menjelaskan banyak adab yang harus diperhatikan, seperti keseriusan, ketekunan, dan cita-cita yang luhur. Saat ini, banyak orang mengandalkan belajar untuk cita-cita luhur. Cita-cita tersebut memotivasi seorang murid atau mahasiswa untuk belajar, sehingga mereka menjadi serius dan tekun agar cita-cita yang diinginkan tercapai dan dapat bermanfaat bagi orang lain.

Adab Kepada Pendidik (Guru)

Selain itu, adab kepada guru atau dosen juga tidak kalah penting. Adab ini terkadang sering terlupakan oleh seorang pembelajar. Dalam khazanah Islam, pendidik adalah pewaris para Nabi, karena seorang pendidik harus berpedoman pada konsep amar ma’ruf nahi munkar. Banyak sebutan untuk pendidik atau guru dalam Al-Qur’an, yaitu: Murabbi (seseorang yang mengajarkan agar pemahaman anak muridnya terus meningkat serta memperbaiki kepribadiannya), Mu’allim (seseorang yang mengajarkan ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta membimbing muridnya menuju kesempurnaan ilmu), Mu’adib (seseorang yang mengajarkan adab maupun akhlak), Mudarris (seseorang yang mengembangkan ilmu pengetahuan secara terus-menerus), dan Mursyid (seseorang yang menjadi teladan dalam sikap dan perilaku serta membimbing dengan akhlak yang baik).

Sikap Wara’ di Tengah Integrasi Akademik

Selain itu, ada adab yang tidak kalah penting, yaitu wara’ atau sikap berhati-hati dalam menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat. Sikap ini harus dimiliki oleh semua penuntut ilmu. Di era digital, godaan untuk memperoleh nilai tinggi seperti plagiarisme, penggunaan kecerdasan buatan (AI) tanpa etika, dan mencontek saat ujian semakin besar. Semua penuntut ilmu hanya ingin mendapat nilai sempurna, sehingga mereka mencari jalan pintas. Padahal, nilai yang didapatkan secara jujur lebih baik dan lebih bermartabat. Sikap wara’ inilah yang menjaga integritas kita sebagai pembelajar.

Tawakal dan Indikator Keberkahan Ilmu

Ketika niat sudah lurus, proses belajar sudah benar, maka selanjutnya adalah tawakal kepada Allah atas hasil yang akan diperoleh. Kita berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan tawakal, seorang murid atau mahasiswa tidak mudah stres, depresi, atau merasa rendah diri karena nilai yang tidak sesuai ekspektasi. Indikator keberkahan ilmu bukanlah nilai bagus semata, melainkan bagaimana ilmu itu berkah dan bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat luas, bahkan terus mengalir meskipun penuntut ilmu telah tiada.

View JSON | Print