MUTU Siapkan Ekspansi Laboratorium untuk Garap Ekonomi Hijau
MUTU Siapkan Ekspansi Laboratorium untuk Garap Ekonomi Hijau
JAKARTA, Investor.id — PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) memperkuat rencana ekspansi bisnis setelah merampungkan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement senilai sekitar Rp29,9 miliar. Dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan layanan testing, inspection, and certification (TIC), sertifikasi halal, laboratorium, serta bisnis yang berkaitan dengan keberlanjutan.
Dalam aksi korporasi tersebut, MUTU menerbitkan 309,28 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp97 per saham. Dengan demikian, total dana yang diperoleh perseroan mencapai sekitar Rp29,9 miliar.
Presiden Direktur PT Mutuagung Lestari Tbk, Arifin Lambaga, mengatakan private placement dilakukan untuk memperkuat kapasitas perseroan dalam menangkap peluang pertumbuhan ekonomi hijau dan industri berkelanjutan di Indonesia.
Menurut Arifin, potensi ekonomi hijau dan keberlanjutan di Indonesia ditaksir mencapai sekitar Rp8.000 triliun. Perseroan melihat peluang tersebut perlu didukung oleh layanan pengujian, inspeksi, sertifikasi, verifikasi, dan assurance yang kredibel.
“Visi jangka panjang kami adalah menjadi salah satu enabler utama dalam pengembangan green industry dan green economy di Indonesia. Kami ingin mengoptimalisasi peluang Rp8.000 triliun tersebut agar menjadi valuasi riil bagi ekonomi Indonesia, dan khususnya bagi pertumbuhan MUTU,” ujarnya.
Arifin menjelaskan, dana hasil private placement akan digunakan untuk memperkuat tiga strategi utama perseroan. Pertama, meningkatkan kapasitas layanan TIC melalui investasi pada teknologi pengujian dan laboratorium agar proses layanan menjadi lebih cepat, akurat, dan mampu memenuhi peningkatan permintaan.
Kedua, MUTU akan memperluas bisnis di sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan, terutama layanan pengujian halal, laboratorium toksikologi, keamanan pangan, dan pengujian komoditas masa depan. Pengembangan tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan sertifikasi serta ambisi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam industri halal global.
Ketiga, perseroan akan memperkuat daya saing melalui digitalisasi layanan TIC, pengembangan sumber daya manusia, serta pemenuhan standar keberlanjutan global.
“Penggunaan dana tersebut telah sesuai dengan rencana yang disampaikan dalam keterbukaan informasi dan disetujui RUPS Luar Biasa Independen,” katanya.
Sementara itu, sisa dana akan digunakan untuk perluasan cakupan pengujian dan ekspansi laboratorium di sejumlah bidang, antara lain pengujian pangan dan keamanan konsumsi, sertifikasi ekosistem halal, uji toksikologi produk industri, serta pengujian logam tanah jarang.
Aksi private placement tersebut membuat modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan meningkat menjadi Rp86,3 miliar dari sebelumnya Rp78,57 miliar. Jumlah saham beredar juga bertambah menjadi sekitar 3,45 miliar saham.
Dengan struktur permodalan yang lebih kuat, perseroan berharap memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menjalankan strategi ekspansi tanpa mengganggu likuiditas operasional.
Private placement MUTU diikuti sejumlah investor strategis, antara lain Sandiaga Salahuddin Uno melalui Samala Akselerasi Utama, Rizky Pranadhi Brata, PT Intera Revolusi Indonesia Investment, dan PT Bumi Hijau Sedaya.
Dalam keterbukaan informasi sebelumnya, PT Samala Serasi Utama menjadi investor dengan porsi terbesar dengan menyerap 103.092.700 saham. Sementara itu, PT Bumi Hijau Sedaya menyerap 41.237.100 saham.
Selain itu, Interra Resources Limited, perusahaan sektor energi dan sumber daya yang tercatat di Bursa Singapura, turut berinvestasi di MUTU melalui anak usahanya di Indonesia. Masuknya investor tersebut disebut berkaitan dengan pengembangan platform keberlanjutan dan energi terbarukan.
Manajemen MUTU menegaskan seluruh investor yang mengambil bagian dalam private placement tersebut tidak memiliki hubungan afiliasi, baik dalam manajemen maupun kepemilikan saham, dengan pemegang saham pengendali, pemegang saham utama, maupun jajaran direksi dan dewan komisaris perseroan.
“Seluruh investor tersebut tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan. Keputusan investasi didasarkan pada fundamental perusahaan, prospek bisnis, serta potensi pertumbuhan MUTU, khususnya di sektor-sektor yang mendukung ekonomi hijau,” ungkap Arifin.
Terkait target kinerja komersial untuk sisa tahun buku 2026, Arifin mengatakan perseroan telah membentuk tim pemantau bersama perwakilan investor untuk memastikan efisiensi dan pelaksanaan strategi berjalan sesuai rencana.
“Kami tidak bisa memberikan janji angka, tetapi insyaallah dengan persiapan berbulan-bulan ini, hasilnya akan jauh lebih baik. Bukan cuma untuk sisa tahun 2026 ini, tetapi juga untuk tahun-tahun mendatang,” imbuhnya.
Direktur Keuangan PT Mutuagung Lestari Tbk, Sumarna, mengatakan masuknya sejumlah investor strategis diharapkan dapat memperkuat permodalan dan mendukung rencana pertumbuhan perseroan ke depan.
“Kami sangat mengapresiasi kepercayaan yang diberikan oleh para investor strategis ini terhadap fundamental dan prospek bisnis MUTU. Bergabungnya nama-nama besar dan entitas berpengalaman ke dalam struktur permodalan kami menjadi bahan bakar baru bagi perseroan untuk berakselerasi lebih cepat. Kehadiran mereka menegaskan bahwa visi bisnis jangka panjang kami berada di jalur yang tepat,” jelasnya.
Menurut Sandiaga, meningkatnya kebutuhan layanan testing, inspection, certification, verifikasi, dan assurance seiring penguatan standar environmental, social, and governance (ESG), perdagangan karbon, serta sertifikasi global membuat MUTU berpotensi menjadi salah satu infrastruktur kepercayaan bagi industri nasional.
Ia menambahkan, kelompok investor yang masuk ke MUTU berorientasi pada investasi strategis jangka panjang untuk mendukung penguatan bisnis, ekspansi, dan penciptaan nilai berkelanjutan.
Sandiaga menilai peluang pertumbuhan MUTU berada pada ekosistem halal, laboratorium pangan, layanan kesehata