Meritocracy or Privilege? Revealing the Invisible Inequality on Campus
Perguruan tinggi sering dipandang sebagai ruang meritokrasi, di mana setiap mahasiswa dianggap memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan melalui kemampuan dan kerja keras. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa mahasiswa berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Sebagian di antaranya mendapat dukungan finansial, sumber daya pembelajaran yang memadai, dan akses luas terhadap informasi, sementara yang lain harus bekerja sambil kuliah atau membatasi partisipasi mereka dalam berbagai kegiatan akademik dan pengembangan diri karena keterbatasan finansial. Perbedaan kondisi awal ini menunjukkan bahwa kesuksesan di kampus tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, tetapi juga oleh akses dan sumber daya yang tersedia sejak awal.
Privilege di kampus tidak selalu berupa kemewahan. Privilege tersebut bisa berupa akses ke sumber daya pembelajaran, buku referensi, seminar, sertifikasi, atau waktu luang untuk aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Selain itu, latar belakang sosial-ekonomi sering kali memengaruhi lingkaran pergaulan mahasiswa, sehingga secara tidak langsung menciptakan batasan-batasan sosial tertentu. Akibatnya, ketidaksetaraan tidak hanya terjadi dalam hal ekonomi, tetapi juga dalam hal akses terhadap pengalaman, hubungan, dan peluang untuk pengembangan diri.
Perspektif Pierre Bordieu menjelaskan bahwa pendidikan tidak selalu menjadi sarana mobilitas sosial, tetapi juga dapat memperkuat ketimpangan yang sudah ada. Menurutnya, mahasiswa membawa berbagai bentuk modal saat mereka masuk perguruan tinggi, seperti modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial. Mahasiswa yang memiliki ketiga bentuk modal tersebut cenderung lebih mudah memanfaatkan peluang akademik maupun non-akademik. Sebaliknya, mereka yang memiliki modal terbatas harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan kesempatan yang setara. Dengan demikian, kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi ruang yang secara tidak langsung mempertahankan ketidaksetaraan sosial.
Konsep meritokrasi menekankan bahwa kesuksesan ditentukan oleh kemampuan dan usaha. Namun, Michael Young menunjukkan bahwa meritokrasi bisa jadi hanyalah ilusi jika mengabaikan ketidaksetaraan peluang. Dalam kehidupan kampus, prestasi sering dipandang hanya sebagai hasil kerja keras, meskipun peluang untuk mengikuti kompetisi, memperoleh sertifikasi, membangun jaringan profesional, atau ikut serta dalam program pertukaran pelajar tidak tersedia secara merata bagi semua mahasiswa. Kerja keras tetap penting, tetapi hal itu terjadi dalam kondisi sosial yang beragam.
Perguruan tinggi telah membuka akses terhadap pendidikan bagi berbagai kelompok masyarakat, namun penerimaan mahasiswa saja tidaklah cukup. Perguruan tinggi juga perlu memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki akses yang setara terhadap fasilitas, informasi, dan peluang untuk pengembangan diri. Dengan demikian, keberhasilan mahasiswa dapat lebih mencerminkan kemampuan dan kerja keras mereka, alih-alih hanya ditentukan oleh privilege atau sumber daya yang mereka miliki sejak awal.