Indonesian Political, Business & Finance News

Kinerja Triwulan I-2026, Maybank Indonesia (BNII) Bukukan Laba Sebelum Pajak Rp 397 Miliar

| | Source: INVESTOR.ID | Banking
Kinerja Triwulan I-2026, Maybank Indonesia (BNII) Bukukan Laba Sebelum Pajak Rp 397 Miliar
Image: INVESTOR.ID

Kinerja Triwulan I-2026, Maybank Indonesia (BNII) Bukukan Laba Sebelum Pajak Rp 397 Miliar

JAKARTA, investor.id - PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (Maybank Indonesia atau Bank) mencatatkan Laba laba sebelum pajak (PBT) tercatat sebesar Rp 397 miliar pada triwulan I/2026, sementara Laba Setelah Pajak dan Kepentingan Nonpengendali (Profit After Tax and Minority Interest/PATAMI) mencapai Rp299 miliar.

Emiten berkode saham BNII itu juga melaporkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp 1,81 triliun pada periode yang sama, meningkat 2,1% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu didukung oleh penurunan beban bunga serta komposisi pendanaan yang membaik. Net Interest Margin (NIM) tetap stabil pada level 4,3% Y-o-Y.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar.

“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal. Ke depan, kami akan terus berupaya dalam menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank serta, di saat yang sama, memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group,” ujarnya pada Jumat (6/5).

Tekanan geopolitik global yang terjadi pada kuartal pertama 2026 menimbulkan volatilitas pasar keuangan. Kondisi ini telah berdampak pada aktivitas trading surat berharga dan valuta asing Global Markets (GM), sehingga pendapatan feeGM turun menjadi Rp20 miliar. Sementara, pendapatan fee selain GM juga mengalami penurunan meskipun pendapatan fee Premier Wealth naik 20,0% Y-o-Y. Dengan demikian, Pendapatan Non-Bunga (NOII) turun 29,6% Y-o-Y menjadi Rp 402 miliar. Gross Operating Income tercatat sebesar Rp2,22 triliun dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode tersebut, beban operasional naik 4,5% Y-o-Y sehubungan dengan aktivitas bisnis Bank. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar, sedangkan beban pencadangan turun 47,9% Y-o-Y menjadi Rp123 miliar, mencerminkan kualitas aset membaik serta penerapan manajemen risiko yang pruden.

Hingga triwulan I/2026, fundamental bisnis inti Maybank Indonesia dilaporkan tetap kuat. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit di beberapa segmen diiringi profil pendanaan yang membaik. Kualitas aset bank tersebut juga membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,3% (gross) dan 1,4% (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,5% (net) pada Maret 2025.

Kredit dan Simpanan

Maybank Indonesia juga melaporkan Kredit non-ritel CFS mencatat pertumbuhan sebesar 7,1% Y-o-Y menjadi Rp39,89 triliun ditopang oleh pertumbuhan kredit segmen komersial (Business Banking) sebesar 15,6% menjadi Rp17,46 triliun dan kredit segmen Small and Medium Enterprise (SME+) yang tumbuh 12,3%. Kredit segmen non-ritel SME (RSME) turun 3,0%. Kredit ritel CFS tumbuh 4,1% Y-o-Y didukung pembiayaan otomotif anak usaha yang meningkat 7,4% serta kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 6,7%. Kredit CFS ritel dan non-ritel tumbuh 5,4% menjadi Rp 88,33 triliun.

Portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) mencatat penurunan sebesar 12,4% Y-o-Y. Meski demikian, kredit segmen Large Local Corporate (LLC) GB dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) telah menunjukkan peningkatan dan dibukukan pada kuartal selanjutnya.

Pada Maret 2026, total kredit yang disalurkan Maybank Indonesia relatif stabil di posisi Rp 121,99 triliun. Secara keseluruhan, total aset bank tersebut tercatat sebesar Rp 192,17 triliun, naik 1,2% Y-o-Y.

Simpanan nasabah meningkat sebesar 6,1% Y-o-Y menjadi Rp118,35 triliun didorong pertumbuhan Giro sebesar 37,5%, sementara Tabungan turun sebesar 1,9%. Deposito berjangka turun 12,3%, sejalan dengan upaya Bank untuk memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan biaya dana. Rasio CASA meningkat menjadi 61,2% pada Maret 2026 dari 53,0% pada Maret 2025.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 telah dibayangi volatilitas pasar.

“Dari sisi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental UKM akan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Ini merupakan arah strategis yang telah kami canangkan di Maybank Group,” ujarnya.

Permodalan dan Likuiditas

Pada triwulan I/2026, posisi permodalan Maybank Indonesia tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,3% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2%.

Likuiditas tetap sehat dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 85,5%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) Bank-only sebesar 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank-only sebesar 112,4%.

Perbankan Syariah

Pada periode yang sama, total pembiayaan syariah Maybank Indonesia tumbuh 10,4% Y-o-Y menjadi Rp 32,23 triliun didukung pembiayaan Community Financial Services (CFS) dan Global Banking (GB) syariah. Pembiayaan CFS syariah meningkat 10,4% menjadi Rp 23,16 triliun dan pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3% menjadi Rp9,07 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang oleh segmen SME+ dan Retail SME (RSME) yang tumbuh masing-masing sebesar 39,1% dan 6,0%. Pembiayaan ritel CFS syariah meningkat 12,5% menjadi Rp10,78 triliun yang didorong utamanya oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7%. Sementara itu, pembiayaan korporasi segmen GB-LLC tumbuh 30,2% Y-o-Y.

Total pembiayaan syariah berkontribusi sebesar 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan Bank (Bank-only), sementara total aset Syariah menyumbang 24,5% terhadap total aset Bank (Bank-only).

Melalui Perbankan Syariah, Maybank Indonesia meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia. SRIA dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan investor tertentu dan ikut berpartisipasi dalam membiayai suatu badan usaha. D

View JSON | Print