Iran Rejects US Pressure on Timing of War or Peace Amid Mediation Efforts
Iran has rejected US pressure to determine the timing of war or peace, even as Qatar and Pakistan attempt to mediate and revive an interim agreement. American President Donald Trump stated that the US and Iran had agreed to postpone attacks to allow space for diplomacy, a move that contributed to a drop in global oil prices in Asian markets. However, Tehran has denied that any direct talks are taking place.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan posisi negaranya dalam sebuah konferensi pers pada Senin (27/7/2026). “Saat ini, apa yang terjadi tidak dapat digambarkan sebagai gencatan senjata,” ujar Baghaei. Ia juga membantah klaim Trump yang menyebut Iran meminta jeda untuk berunding.
Meskipun langit Iran telah bersih dari suara ledakan selama beberapa hari, para pejabat Iran menegaskan bahwa ketenangan ini bukanlah indikasi perdamaian. Fokus utama Teheran saat ini adalah pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, jalur perairan penting untuk pengiriman minyak dan gas global. Iran secara efektif menutup selat tersebut setelah serangan dari AS dan Israel pada Februari lalu.
Sikap keras Iran ini diiringi dengan peringatan dari para analis mengenai risiko yang signifikan. Gregory Brew, seorang analis, mencatat bahwa ketidakpastian antara perang dan damai menjadi tantangan berat bagi ekonomi Iran yang sudah babak belur akibat konflik dan blokade angkatan laut AS. Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada kompromi mengenai masa depan Selat Hormuz, Trump kemungkinan akan kembali menggunakan taktik serangan udara, yang dapat menghancurkan sisa-sisa kemampuan militer dan ekonomi Iran.