IHSG Today, 22 May 2026: Opens Lower, Cautious over 6,000 Psychological Level
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini, 22 Mei 2026, bergerak di zona merah dengan tekanan jual yang masif, mencerminkan volatilitas pasar dipicu oleh sentimen domestik dan ketidakpastian global. Pada sesi perdagangan pagi, IHSG dibuka melemah 29,31 poin atau 0,48 persen ke level 6.065,63. Pelemahan juga diikuti oleh Indeks LQ45 yang turun 2,42 poin (0,39 persen) ke level 613,98.
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pergerakan IHSG hari ini sangat bergantung pada stabilitas Rupiah dan aliran dana asing. Nilai tukar Rupiah saat ini terpantau tertekan di kisaran Rp17.600 per dolar AS. “Jika Rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support psikologis di 6.000,” ujarnya di Jakarta pada hari Jumat (22/5).
Selain faktor kurs, pasar juga memantau sejumlah sentimen utama lainnya. Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam tren bearish yang kuat. Penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir menembus level-support penting di 6.200 dan 6.100, menandakan dominasi tekanan jual yang tinggi atau fase panic selling. Menurut Hendra, area 6.000 menjadi benteng pertahanan terakhir. Jika level ini jebol, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan ke wilayah 5.880 hingga 5.900. Sebaliknya, peluang technical rebound terbuka jika muncul aksi bargain hunting pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang sudah jenuh jual (oversold).
Sementara itu, bursa regional Asia pada pagi ini terlihat menguat, dipimpin oleh Nikkei yang melonjak 2,34 persen. Namun IHSG masih harus menghadapi sentimen negatif domestik dan arus keluar modal asing yang deras sejak awal tahun. Kehadiran pimpinan DPR, OJK, dan Danantara disebut bertujuan menjaga optimisme dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI, menegaskan bahwa keputusan rebalancing indeks oleh MSCI harus dijadikan momentum pembenahan dan penguatan fundamental pasar modal Indonesia. BEI sebelumnya melaporkan anjloknya IHSG pada 18 Mei pagi sebesar 3,87% menjadi 8.921, meskipun catatan ini mencerminkan pergerakan pada sesi yang berbeda. Tekanan akibat rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International masih membayangi setelah enam saham besar Indonesia dikeluarkan dari MSCI.
BEI menilai keputusan hasil rebalancing MSCI setidaknya mengurangi salah satu sumber ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar keuangan domestik di tengah tekanan global. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menilai saham perbankan di BEI saat ini undervalued dengan price-to-book value (PBV) di bawah 1 kali, meskipun IHSG terkoreksi tajam. Bank Mandiri melaporkan laba 2025 sebesar Rp56,3 triliun, melampaui konsensus; analis merekomendasikan membeli saham BMRI dengan target harga hingga Rp6.400, didukung pertumbuhan kredit sebesar 13 persen.
Menurut Kusfiardi, pengunduran diri Dirut BEI lebih berfungsi sebagai shock absorber simbolik untuk meredam tekanan jual jangka pendek. BEI menegaskan akan terus berdiskusi dengan MSCI meskipun lembaga indeks global tersebut membekukan sementara proses rebalancing saham Indonesia.
Pada perdagangan pagi ini, Jumat (23/1), IHSG anjlok 0,79% atau minus 70,86 poin ke level 8.921.