Flattening High Kurva Obligasi Indonesia dan Strategi Barbell
Flattening High Kurva Obligasi Indonesia dan Strategi Barbell
Poin Penting
Oleh: Moh Fendi Susiyanto, CWM®, CTA, CSA
INVESTORTRUST - Perkembangan pasar obligasi Indonesia sangat dinamis. Beberapa hari lalu kurva imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) membentuk pola inverted yield, hari ini (11 Jui 2026) berubah kurva imbal hasil membentuk pola mendatar hampir untuk semua tenor dengan tingkat imbal hasil yang sangat tinggi (flattering high).
Berdasarkan data per 11 Juni 2026, yield SBN tenor 1 tahun melonjak tinggi ke kisaran level 7,23%, yield tenor 5 tahun naik ke level 7,52%, yield 10 tahun naik juga dan bertengger di level 7,48% dan yield tenor panjang 30 tahun meningkat menjadi 7,45%. Kenaikan yield yang terjadi hampir semua tenor ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan 25 basis poin suku bunga acuannya menjadi 5,50% menandai sinyal ke pasar bahwa era bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher-for-longer), dan setelah BI mulai mengurangi policy tapering intervensi operation twist.
Singkatnya, fenomena flattening high yang terjadi ini didorong oleh penerapan bauran kebijakan moneter Bank Indonesia yang ketat, akibat dari tekanan nilai tukar Rupiah, dan masih besarnya kecemasan pasar terhadap prospek fiskal kita.
Faktor Utama Penyebab terjadinya Kurva Imbal Hasil Obligasi “Flattering High”
Pada saat tekanan pelemahan rupiah hingga mencapai hampir Rp 18.200/USD, BI terlihat sangat agresif mendorong yield tinggi pada lelang instrumen SRBI tenor 6 hingga 12 bulan untuk meredam tekanan pada Rupiah dan menahan investor asing agar tidak hengkang keluar. Pada SRBI awal Juni 2026, yield tertinggi yang tercatat mencapai kisaran 7,75% untuk penawaran tenor 12 bulan. Kenaikan agresif di intervensi moneter tersebut langsung berpengaruh pada kenaikan yield SBN terutama untuk tenor 1-3 tahun.
Untuk menahan laju pelemahan Rupiah, Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan kembali suku bunga BI Rate 25 basis poin hingga menyentuh level 5,50% setelah sebelumnya telah naikkan 50 basis poin dari level 4,75% . Kebijakan moneter ketat ini mengirim sinyal ke pasar bahwa era bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher-for-longer). Akibat langsungnya pada Surat Utang Negara tenor pendek (1 hingga 3 tahun) langsung terdorong naik di kisaran 6,95% – 7,47%. Yield SBN tenor menengah ke panjang (5 hingga 30 tahun) terdorong naik menyesuaikanke level 7,00% – 7,45% agar tetap menjaga spread yang atraktif bagi investor.
BI menahan yield jangka panjang agar tidak terbang melalui intervensi pasar (operation twist). Kebijakan tapering moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dilakukan dengan cara menjual SBN tenor pendek dan secara bersamaan membeli SBN tenor panjang di pasar sekunder. Namun demikian, memasuki Juni 2026, BI terlihat cenderung mengurangi operation twist ini secara bertahap terutama pada tenor 10 tahun, sehingga mendorong yield SBN jangka panjang ikut terkerek naik dari 6,69% hingga 7,5% menyesuaikan harga pasarnya. Sebagai penganti intervensi SBN tersebut, BI membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) perbankan untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan guna memastikan likuiditas pasar uang tetap longgar.
Harus diakui bahwa sebagian besar investor asing terdorong melakukan aksi jual SBN yang cukup masif karena masih ada kekhawatiran yang tinggi terhadap pengelolaan anggaran belanja negara, terlebih lagi adanya fakta sebelumnya outlook rating Indonesia diturunkan dari stable outlook menjadi negative outlook oleh lembaga rating internasional yang terkenal “super ketat” yaitu Moody’s. Hal ini membuat investor meminta imbal hasil SBN naik di atas 7% sebagai jaminan keamanan memegang surat utang Indonesia dalam jangka menengah atau panjang.
Gejolak geopolitik perang Iran vs Israel-AS dan makroekonomi global telah mendorong naik tingginya yield obligasi Amerika Serikat teruma US Treasury Notes 10 tahunyang naik hingga level 4,40%–4,65% memaksa pasar meminta tambahan keuntungan kompensasi (risk premium) yang lebih besar untuk obligasi Indonesia, yakni di pada kisaran 250-350 basis poin, agar SBN tetap menarik bagi investor asing.
Apakah Rekomendasi Strategi bagi Investor Obligasi?
Dalam kondisi kurva imbal hasil yang datar dengan tingkat yield yang cenderung tinggi hampir pada setiap tenor pendek hingga panjang, maka strategi yang cukup baik bagi investor adalah Barbell Strategy dan manajemen likuiditas yang ketat. Strategi barbell dilakukan dengan membagi alokasi investasi SBN/obligasi korporasi hanya pada dua kutub ekstrem tenor (1-3 tahun) sangat pendek dan tenor sangat panjang (10-30 tahun), serta mengosongkan atau hanya sedikit saja tenor menengah (5–7 tahun). Namun demikian, strategi strategi Barbell harus dirancang berdasarkan profil risiko dan horison waktu investasi dari kita masing-masing.
Pertama (1). Short-Tenor Overweight yaitu lebih fokus pada SBN tenor pendek atau obligasi korporasi berkualitas tinggi (minimum investment grade), dengan menggunakan pendekatan roll-down (berekspektasi memperoleh capital gain dari penurunan alami yield SBN seiring berjalannya waktu mendekati tanggal jatuh temponya), serta bertahap menambah porsi instrumen pasar uang untuk fleksibilitas portofolio investasi obligasinya.
Kedua (2), Terutama untuk investor institusi seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer investasi, wealth management, perusahaan keuangan lainnya yang berorientasi melakukan investasi jangka panjang, level yield SBN dengan tenor 10 tahun saat ini sudah menyentuh level tinggi dan menarik yaitu 7,4%-7,5%. Momen ini merupakan kesempatan baik yang menarik untuk melakukan lock-in kupon obligasi tinggi sebelum suku bunga diharapkan akan bergerak melandai di masa depan atau yield segera turun kembali karena langkah intervensi dari pemerintah maupun Bank Indonesia mengingat pemerintah tidak menginginkan cost yang terlalu tinggi untuk surat utangnya keperluan pemenuhan pendanaan APBN. Strategi ini cukup lazim dan baik, namun demikan untuk melakukan m