Extreme Weather Struck 800 Years Ago, But Today's Crisis Is Far Worse
Gelombang panas yang berlangsung selama empat bulan, kekeringan berkepanjangan, gagal panen, hingga wabah penyakit ternyata bukan fenomena yang baru muncul pada abad ke-21. Catatan sejarah menunjukkan rangkaian peristiwa serupa pernah melanda Inggris pada abad ke-13, saat dunia berada dalam periode yang dikenal sebagai Anomali Iklim Abad Pertengahan. Menurut sejarawan iklim Philip Slavin dari University of Stirling, periode yang berlangsung sekitar abad ke-10 hingga ke-13 ini mencatat suhu global sekitar 0,3-1,0 derajat Celsius lebih tinggi dibanding rata-rata suhu pada 1960-1990. Kenaikan suhu saat itu dipicu oleh faktor alami, yakni peningkatan radiasi Matahari yang mencapai Bumi dan rendahnya aktivitas gunung berapi global yang biasanya menghasilkan aerosol pemantul sinar Matahari dan mendinginkan atmosfer.
Salah satu catatan paling rinci berasal dari Inggris pada tahun 1252. Biarawan Benediktin Matthew Paris menulis bahwa wilayah tersebut mengalami ‘panas dan kekeringan yang tak tertahankan’ dari bulan Mac hingga Julai, dengan hampir tiada hujan atau embun selama empat bulan. Kronik Tewkesbury Annals menggambarkan rumput mengering hingga hancur menjadi debu ketika diremas dengan tangan. Kronik Wales, Brut y Tywysogion, mencatat pohon buah gagal berbuah, tanaman ladang mengering, dan hasil tangkapan ikan di sungai maupun laut merosot. Dokumen pentadbiran pertanian milik Keuskupan Winchester mengonfirmasi bahwa tanah menjadi sangat keras sehingga petani tidak mampu membajak sawah selama enam minggu. Produksi pangan terganggu, padang rumput lenyap, dan populasi kutu, lalat, serta agas melonjak tajam, diikuti oleh penyebaran berbagai penyakit. Kawasan rawa di England bahkan mencatat kemunculan malaria yang ketika itu dikenali sebagai ‘ague’ atau ‘sweats’. Musim panas yang sangat kering pada tahun 1212 juga memperburuk Great Fire of Southwark di London, salah satu kebakaran bandar terbesar pada masa itu yang menewaskan ribuan orang.
Dampak anomali iklim tersebut tidak seragam di seluruh dunia. Di Atlantik Utara, pencairan ais membuka jalur pelayaran baru bagi bangsa Norse, yang membina petempatan di Iceland dan Greenland, bahkan mencapai Vinland yang kini dikenali sebagai Newfoundland di Kanada. England bahagian tenggara menjadi cukup hangat untuk mengembangkan kebun anggur, dengan Domesday Book tahun 1086 mencatat sekitar 45 kebun anggur beroperasi di wilayah tersebut. Sebaliknya, wilayah Amerika bahagian barat mengalami penurunan curah hujan akibat pergeseran sirkulasi air hangat di Lautan Pasifik, yang memicu kebakaran hutan besar di Pegunungan Rocky. Di Amerika Tengah, kombinasi kekeringan, penebangan hutan, dan degradasi alam sekitar turut mempercepat kemunduran Tamadun Maya Klasik.
Meski memicu bencana di sejumlah kawasan, kondisi yang lebih hangat memberikan keuntungan bagi sebahagian wilayah Eropah Utara dan Asia. Musim tanam yang lebih panjang memungkinkan ekspansi pertanian secara besar-besaran, meningkatkan produksi pangan dan mendorong pertumbuhan penduduk. Data sejarah yang dikutip Slavin menunjukkan populasi Eurasia hanya bertambah dari sekitar 167 juta menjadi 178 juta jiwa pada periode 600-900, namun melonjak hampir dua kali ganda menjadi sekitar 324 juta jiwa dalam rentang 900-1200. Peningkatan produksi pertanian ini turut mempercepat perdagangan dan penggunaan wang, yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai permulaan revolusi komersial di Eropah abad pertengahan. Namun, kondisi ini tidak berlangsung selamanya. Pada paruh kedua abad ke-13, iklim kembali berubah drastik. Letusan gunung berapi besar pada tahun 1257 menyelimuti atmosfera dengan debu vulkanik yang menurunkan suhu global dan memicu gagal panen. Memasuki awal abad ke-14, curah hujan meningkat tajam disertai suhu yang lebih dingin, menyebabkan tanaman tidak sempat matang sebelum masa panen. Rangkaian peristiwa itu memuncak dalam Great Famine 1315-1317 yang diperkirakan menewaskan sekitar 10% populasi Eropah.
Menurut Slavin, persamaan antara masa lalu dan masa kini terletak pada dampaknya. Kekeringan, kebakaran hutan, penyebaran penyakit, hingga gangguan produksi pangan muncul ketika suhu meningkat dalam tempoh yang panjang. Perbezaannya terletak pada penyebabnya. Anomali Iklim Abad Pertengahan merupakan fenomena regional yang dipengaruhi proses alami seperti perubahan radiasi Matahari, aktiviti gunung berapi, dan dinamik sirkulasi atmosfera. Pemanasan global saat ini berlangsung hampir di seluruh dunia dan didorong terutamanya oleh emisi gas rumah kaca dari aktiviti manusia. Laju kenaikan suhunya juga jauh lebih pantas berbanding perubahan iklim alami pada masa lalu. Catatan sejarah tersebut memberi gambaran bahawa perubahan iklim mampu mengubah kondisi ekonomi, kesihatan, hingga ketahanan pangan dalam waktu yang relatif singkat. Bezanya, masyarakat moden memiliki teknologi pemantauan cuaca, sistem amaran awal, perkhidmatan pemadam kebakaran, dan penyebaran maklumat yang jauh lebih baik berbanding masyarakat abad pertengahan.