Indonesian Political, Business & Finance News

Energi Surya DIY Masih Tertinggal, AKAR Dorong Percepatan Transisi Energi Bersih

| | Source: KRJOGJA.COM | Energy
Energi Surya DIY Masih Tertinggal, AKAR Dorong Percepatan Transisi Energi Bersih
Image: KRJOGJA.COM

Krjogja.com - YOGYA – Di tengah melimpahnya potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, pemanfaatan energi surya masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Padahal, dibandingkan sumber energi terbarukan lain seperti angin dan air, tenaga surya dinilai memiliki potensi terbesar untuk dikembangkan sebagai sumber energi masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Hingga 2025, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) lokal terhadap kebutuhan listrik daerah baru sekitar 3 persen, sementara 97 persen pasokan listrik masih bergantung pada jaringan interkoneksi Jawa-Madura-Bali yang dikelola PLN.

Berdasarkan data Kementerian ESDM dan PLN UID Jawa Tengah-DIY, jumlah pengguna Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di DIY juga masih sangat kecil jika dibandingkan dengan lebih dari 1,2 juta pelanggan listrik rumah tangga yang ada. Meski demikian, perkembangan mulai terlihat dengan meningkatnya kapasitas PLTS di DIY dari sekitar 0,6 MWp pada 2020 menjadi sekitar 3 MWp pada 2023, yang berasal dari sektor rumah tangga, pendidikan, industri, maupun bisnis.

“Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, tetapi pemanfaatannya masih tertinggal. Masyarakat sebenarnya mulai tertarik menggunakan energi bersih, namun sering kali kesulitan memperoleh informasi yang lengkap dan mudah dipahami terkait teknologi solar panel,” ujar Rini dalam Sosialisasi Platform Website One Stop Shop (OSS) Energi terbarukan Solar Panel di Hotel Royal Darmo, Rabu (24/5)

Menurutnya, masyarakat membutuhkan sebuah platform informasi yang lengkap dan terpercaya sebagai rujukan sebelum memutuskan berinvestasi pada teknologi energi terbarukan. Kehadiran pusat informasi yang terintegrasi akan membantu masyarakat mengenal energi surya secara lebih dekat sekaligus mengurangi keraguan dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam konteks itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) telah mengembangkan website one stop shop solar panel yang menyediakan berbagai informasi mengenai teknologi panel surya. Platform tersebut diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan informasi komprehensif tentang energi surya, mulai dari aspek teknis hingga manfaat ekonominya. Namun demikian, keberadaan platform tersebut dinilai masih perlu disosialisasikan secara lebih luas agar menjangkau masyarakat yang lebih besar.

“Website ini dapat menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin mengetahui seluk-beluk panel surya, mulai dari manfaat, biaya investasi, hingga proses pemasangan. Semakin banyak masyarakat mendapatkan informasi yang benar, semakin besar pula peluang percepatan transisi energi dari energi fosil menuju energi terbarukan,” kata Rini.

Rini juga menyoroti kondisi pemadaman listrik yang belakangan masih terjadi di sejumlah wilayah. Panel surya dapat menjadi alternatif sumber energi sekaligus bentuk diversifikasi pasokan listrik di tingkat rumah tangga maupun usaha. Kehadiran energi surya tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi masyarakat.

“Pemenuhan akses energi yang berkelanjutan merupakan hak warga negara. Karena itu, pemerintah perlu lebih aktif dan masif mendorong penggunaan energi surya agar semakin banyak masyarakat beralih ke energi bersih dan terbarukan. Di tengah potensi pemadaman listrik, panel surya juga dapat menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan energi masyarakat. Kami berharap percepatan pemanfaatan energi surya dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi daerah sekaligus mendukung agenda pembangunan rendah karbon di DIY,” pungkas Rini. (Ira)

View JSON | Print