Emilia Bassar, Leading Communication Amidst Industrial Complexity
INFO CANTIKA.COM - Lebih dari tiga dekade berkarier di dunia komunikasi, Emilia Bassar telah menjalani berbagai peran, dari praktisi, akademisi, konsultan, hingga kini sebagai Direktur Komunikasi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Perjalanan sejak 1994 itu membawanya pada satu ruang kerja yang menuntut lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan pesan: industri dengan dinamika operasional, sosial, dan kepentingan publik yang berlapis.
Memimpin komunikasi di kawasan industri yang mayoritas pekerjanya laki-laki juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Emilia. Saat bergabung dengan IMIP pada 2023 dan langsung menempati posisi direktur, ia harus berhadapan dengan lingkungan yang belum terbiasa melihat perempuan berada di posisi pengambil keputusan. Namun, alih-alih menjadikan situasi tersebut sebagai hambatan, Emilia memilih fokus pada tujuan dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin komunikasi.
Tantangan itu datang tak lama setelah ia bergabung, di mana Emilia harus bergerak cepat mengumpulkan informasi dan memahami situasi dari berbagai sudut pandang. Bukan hanya dari internal perusahaan, ia juga berdiskusi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah, pekerja, investor, masyarakat, serta pemangku kepentingan eksternal lainnya untuk menentukan langkah komunikasi yang tepat. Baginya, menghadapi situasi krisis membutuhkan ketenangan sekaligus keberanian untuk terus mencari informasi, bahkan ketika respons yang diterima tidak selalu mudah.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana peran komunikasi dalam industri kompleks tidak berhenti pada urusan publikasi. Ada proses membaca isu, memetakan pemangku kepentingan, mengelola risiko, mendengarkan suara yang berbeda, hingga menentukan bagaimana sebuah isu perlu disampaikan kepada publik. Berikut adalah petikan wawancara Cantika dengan Emilia Bassar.
- Ibu berkarier di dunia Humas sejak tahun 1994. Apa momen yang bikin Ibu tetap jatuh cinta dengan bidang ini sampai sekarang?
Momennya selalu sama, ketika isu yang rumit akhirnya bisa dipahami semua pihak.
Di kawasan seperti IMIP, satu isu bisa menyentuh karyawan, masyarakat desa, pemerintah, media, dan netizen sekaligus, dengan kepentingan yang berbeda-beda. Ketika semua pihak itu akhirnya sampai pada pemahaman yang sama, di situ saya merasa pekerjaan ini punya dampak nyata.
Saya sudah memikirkan masuk ke bidang komunikasi sejak SMA. Sejak saat itu juga saya belajar mempersiapkan fisik dan mental, karena saya tahu pekerjaan ini akan menghadapkan kita pada berbagai dinamika, baik di level nasional, global maupun di kawasan tempat kita bekerja. Kalau kita tidak punya mental yang kuat, kita akan mudah rapuh. Menghadapi berbagai situasi juga bisa membuat kita mudah stres, overthinking, dan sebagainya. Karena itu, ketahanan fisik dan mental menjadi bekal penting bagi saya dalam menjalani pekerjaan ini.
Apalagi sekarang, di tengah hoaks dan disinformasi, komunikasi sering menjadi penentu apakah kepercayaan publik bertahan atau hilang. Ketika melihat strategi yang disusun dengan data benar-benar bekerja meredam kekhawatiran, itu memberikan kepuasan yang tidak tergantikan.
- Sebagai praktisi, konsultan, sekaligus akademisi, apa tiga kemampuan utama yang wajib dimiliki perempuan yang berkarier di bidang komunikasi saat ini?
Sebagai praktisi, terutama praktisi komunikasi, yang pertama itu adalah kemampuan untuk berpikir strategis dan analitis. Itu yang terus saya bangun, dan sekolah yang tinggi rupanya menjadi fondasi saya untuk berpikir strategis dan analitis.
Kemudian harus memiliki perencanaan terstruktur, komprehensif, sistematis. Implementasinya harus bisa dipertanggung jawabkan, harus sesuai dengan apa yang direncanakan, tapi juga harus fleksibel dan adaptif.
Di IMIP sendiri, kami punya perencanaan dalam satu tahun, kemudian dipecah lagi menjadi secara berkala. Namun ketika ada satu situasi di kawasan IMIP tidak sesuai rencana, kami harus lebih fleksibel dan adaptif untuk bisa ikut dalam merencanakan taktik apa yang harus dilakukan ketika ada satu isu atau krisis yang terjadi di sini. Selain itu juga harus memiliki kemampuan menganalisa satu situasi dari berbagai perspektif.
Berikutnya adalah empathy dan active listening, di mana sebelum bicara ke publik, kita harus benar-benar paham apa yang mereka rasakan. Dan selanjutnya, memiliki ketahanan mental, karena satu isu bisa membesar dalam hitungan jam. Kalau mentalnya rapuh, kita akan bereaksi, bukan merespons. Nah ini, saya bersyukur sekali bahwa ketahanan fisik dan mental yang sudah saya siapkan sejak muda, betul-betul bermanfaat sampai sekarang untuk saya.
- Setelah lebih dari tiga dekade berkarier di dunia komunikasi, bagaimana Ibu melihat perubahan peran perempuan di industri ini?
Dulu, perempuan di bidang komunikasi dianggap pelaksana teknis — menulis rilis, mengatur media, jadi MC. Sekarang kami duduk satu meja dengan direksi, ikut menentukan arah organisasi, termasuk saat krisis.
Perubahannya tidak hanya di ruang rapat. Di kawasan IMIP hari ini ada 8.092 pekerja perempuan. Sebanyak 639 di antaranya foreman, supervisor, dan manajer. Bahkan ada 280 perempuan yang mengoperasikan hoist crane, pekerjaan yang dulu tidak pernah dibayangkan sebagai ruang perempuan.
Tantangannya juga bergeser. Dulu soal akses dan kepercayaan untuk didengar, sekarang soal kecepatan informasi, tuntutan transparansi yang nyaris real-time, dan pemangku kepentingan yang jauh lebih beragam — lokal, nasional, sampai global.
- Menurut Ibu, apa keunggulan khas yang dimiliki pemimpin perempuan dalam meredam krisis dan merangkul banyak pihak yang berbeda kepentingan?
Kesabaran mendengar sebelum bereaksi. Ini krusial, karena dalam krisis keputusan yang terburu-buru justru sering menambah masalah baru, bukan menyelesaikan yang lama.
Pemimpin perempuan juga cenderung membangun hubungan yang tulus, bukan transaksional. Jadi ketika situasi sulit datang, modal kepercayaannya sudah ada, tidak perlu dibangun dari nol. Dan satu lagi, ketelitian pada detail. Saat semua orang fokus ke hal