Indonesian Political, Business & Finance News

Deputy Regent Diar Reveals Why PDAM Coverage in Bangli Is Only 31 Percent

| Source: DETIK_BALI Translated from Indonesian | Infrastructure
Deputy Regent Diar Reveals Why PDAM Coverage in Bangli Is Only 31 Percent
Image: DETIK_BALI

Wakil Bupati (Wabup) Bangli I Wayan Diar mengatakan hanya 31 persen dari total penduduk Kabupaten Bangli yang sudah menikmati aliran air dari PDAM Tirta Danu Arta. Hal itu disebabkan kurangnya sumber mata air untuk memasok aliran PDAM ke rumah warga.

“Memang hanya 31 persen. Tidak kami pungkiri, karena keterbatasan sumber air,” kata Diar seusai menghadiri musyawarah kabupaten PMI Bangli di kantor DPRD Bangli, Jumat (22/5/2026).

Diar mengatakan, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli hingga kini masih berupaya memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakat. Pemkab Bangli melalui PDAM berencana menambah cakupan aliran air bersih dari sumber mata air baru.

Sumber mata air baru yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan air bersih berada di Desa Lembean, Kecamatan Kintamani. Setidaknya, sumber itu dapat memenuhi kebutuhan air bersih warga se-Kecamatan Kintamani saja.

“Kalau wilayah Bangli kota sudah oke,” kata Diar.

Diar mengatakan, warga yang belum menikmati aliran air bersih dari PDAM, paling banyak di Kecamatan Kintamani dan Kecamatan Tembuku. Lokasi pemukiman warga yang berada di perbukitan kendala mengalirkan air PDAM.

Selain itu, air Danau Batur tidak layak konsumsi. Air di danau itu mengandung belerang yang berbahaya jika dikonsumsi.

“Danau Batur itu belum bisa diangkat sebagai sumber air bersih. Air danaunya tidak layak. Tapi air tanahnya yang bersumber dari danau itu, sudah banyak tersebar ke pelbagai daerah,” katanya.

Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika mengatakan ada kendala selain jumlah keterbatasan sumber mata air. Yakni, mengalirkan air ke pemukiman warga di perbukitan butuh biaya operasional yang tinggi.

“Kalau hanya jauh, PDAM mampu. Tapi kalau dialirkan ke ketinggian itu butuh biaya operasional. Pompa airnya harus kuat,” kata Suastika.

Suastika menyebut Pemkab Bangli sebaiknya menyesuaikan APBD untuk pengadaan air bersih. Selain biaya operasional yang tinggi untuk mengalirkan air, jumlah warga yang bermukim di perbukitan atau dataran tinggi lainnya tidak begitu banyak.

Ada perhitungan biaya operasional dan harga jual air yang dilakukan PDAM. Dampaknya, harga air dapat melonjak.

“Karena gaji pegawai PDAM dan kegiatan lainnya diambil hasil jualan (air) PDAM,” katanya.

(nor/nor)

View JSON | Print