China Seeks Deeper Integration with ASEAN via CAFTA 3.0
Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang gencar mengampanyekan Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas China — ASEAN (CAFTA) 3.0.
18 Sep 2026 11:38 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Mediana
NANNING, KOMPAS — Hubungan ekonomi China dan negara-negara anggota ASEAN memasuki babak baru. Hal ini terlihat dari adanya Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas China — ASEAN (CAFTA) 3.0 yang melengkapi perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).
CAFTA 3.0 ditandatangani pada 28 Oktober 2025 di ajang ASEAN- China Summit di Kuala Lumpur. CAFTA 3.0 gencar dipromosikan oleh Chinese Vice Premier Ding Xuexiang dalam sambutannya di acara China-ASEAN Expo ke-23 dan China-ASEAN Business and Investment Summit di Kota Nanning, Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China, Kamis (17/9/2026).
CAFTA 3.0 sekaligus menunjukkan perubahan karakter hubungan ekonomi China-ASEAN. CAFTA 1.0 bertumpu pada pengurangan tarif dan CAFTA 2.0 memperluas keterbukaan sektor jasa dan investasi. Sementara CAFTA 3.0 bergerak lebih jauh dengan memasukkan aturan dan kerja sama di sektor-sektor baru, seperti perdagangan digital, kecerdasan buatan, dan ekonomi hijau.
”Pemerintah China memberikan perhatian besar terhadap pembangunan Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN (CAFTA),” ujar Ding.
Pada November 2021, dia menceritakan, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Khusus untuk memperingati 30 tahun hubungan dialog China-ASEAN, Presiden Xi Jinping mengusulkan agar putaran baru peningkatan CAFTA segera dimulai. Penekanannya ialah meningkatkan liberalisasi dan fasilitasi perdagangan serta investasi, sekaligus memperluas kerja sama di bidang-bidang baru seperti ekonomi digital dan ekonomi hijau. Hal ini berarti CAFTA diarahkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Pada November 2022, China dan ASEAN secara resmi memulai perundingan CAFTA 3.0 dengan tujuan membangun CAFTA yang lebih inklusif, modern, komprehensif, dan saling menguntungkan. Berkat upaya bersama kedua pihak, protokol peningkatan CAFTA 3.0 telah resmi ditandatangani pada 28 Oktober 2025. Saat ini, pihak China dan negara-negara anggota ASEAN tengah menjalani prosedur hukum masing-masing dan mempercepat proses agar protokol tersebut dapat segera berlaku.
Menurut Ding, sejak ada CAFTA, hubungan ekonomi China — ASEAN telah menghasilkan banyak capaian dagang ataupun investasi. Dia menyebut China telah menjadi mitra dagang terbesar ASEAN selama 17 tahun berturut-turut, sementara ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar China selama enam tahun berturut-turut. Pada 2025, nilai perdagangan kedua pihak melampaui 1 triliun dolar AS, meningkat 18 kali lipat dibandingkan dengan 2002.
Akumulasi investasi dua arah telah melampaui 510 miliar dolar AS. Sejumlah proyek kerja sama besar dicapai. Misalnya, Jalur Kereta Api China-Laos yang telah mengubah Laos dari negara yang terkurung daratan (landlocked) menjadi negara yang terhubung melalui daratan (land-linked). Contoh lain, Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Indonesia telah membuka jalur cepat bagi pembangunan.
Contoh selanjutnya, yaitu proyek Two Countries Twin Parks China-Malaysia dan China-Indonesia serta pembangunan Zona Kerja Sama Ekonomi Lintas Batas China-Laos. Jaringan pembagian kerja lintas batas pun semakin baik.
”Di tengah situasi internasional yang berubah dan penuh gejolak, kawasan ini tetap mempertahankan perdamaian, stabilitas, kemakmuran, dan pembangunan. Hubungan kedua pihak juga berupaya memperkuat rasa saling percaya secara politik, memperdalam keterbukaan dan kerja sama, dan memfasilitasi konektivitas,” kata Ding.
Nantinya, jika CAFTA 3.0 berlaku, Ding mengatakan China berharap agar akan membangun sinergi yang lebih besar dengan RCEP dan memberikan dorongan berkelanjutan bagi pembangunan ekonomi kawasan.
Selain itu, ada empat ide yang juga diusulkan oleh China agar nantinya implementasi CAFTA 3.0 lebih maju. Pertama, mendorong peningkatan komprehensif dalam keterbukaan kawasan. CAFTA 3.0 telah memasukkan aturan perdagangan dan ekonomi berstandar tinggi, menjajaki cara-cara untuk membangun kerangka kerja sama yang lebih kokoh, serta pengaturan yang terlembagakan, dan akan memberikan dukungan kelembagaan yang lebih kuat bagi kerja sama dan pembangunan kawasan.
China dan negara-negara ASEAN, menurut dia, perlu memperdalam kerja sama di bidang standar, regulasi teknis, dan penilaian komoditas; memperkuat pembangunan kelembagaan, persaingan usaha, perlindungan konsumen, serta (UMKM).
Kedua, kedua pihak harus meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan dan investasi. China dan negara-negara anggota ASEAN mencakup seperempat populasi dunia dan memiliki total output ekonomi sebesar 23 triliun dolar AS.
”China memiliki sistem industri yang lengkap dan pasar yang luas. Kami siap memanfaatkan keunggulan-keunggulan ini, meningkatkan kerja sama investasi dua arah dengan ASEAN, mengimpor lebih banyak produk unggulan dari negara-negara ASEAN, serta memastikan hasil kerja sama kita memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara,” katanya.
Ketiga, China dan negara-negara anggota ASEAN harus memperdalam dan memperkokoh kerja sama di bidang-bidang baru yang sedang berkembang. Di antaranya ekonomi digital dan ekonomi hijau.
Keempat, konektivitas lebih mudah dan efisien. Ding menilai, kedua belah pihak harus mendorong pembangunan infrastruktur seperti jalur kereta api, jalan raya, pelabuhan, dan bandara. Sebab, lebih dari 60 persen barang perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara anggota ASEAN diangkut melalui jalur laut.
Pada 16 September 2026, Kanal Pinglu yang menghubungkan Nanning dan Teluk Beibu resmi dibuka. Kanal ini memangkas jarak transportasi antara wilayah pedalaman China barat daya dan ASEAN sebesar 560 kilometer sehingga diklaim mampu mengurangi biaya logistik.
Ding menambahkan, kehadiran pameran dagang China-ASEAN Expo ke-23 serta China-ASEAN Business and Investment Summit 2026 yang akan berlangsung 17–21 September 2026 diharapkan mendukung pengembangan implementasi CFTA. Dia berharap seluruh