BBRI dan BUMI Senasib - Investor Daily
BBRI dan BUMI Senasib
JAKARTA, investor.id – Investor asing melancarkan aksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/8/2026). Saham BBRI dan BUMI banyak dilego asing.
Net sell asing di seluruh pasar hari ini sebesar Rp 350,7 miliar. Akibatnya, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini bertambah menjadi Rp 70,9 triliun – berdasarkan data BEI.
Net sell asing terbesar di pasar reguler melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai Rp 178 miliar.
Selain saham BBRI, asing juga banyak melepas saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Net sell asing pada saham BUMI sebesar Rp 105,09 miliar.
Sebaliknya, transaksi beli bersih (net buy) terbanyak oleh investor asing dialami saham PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 99,4 miliar.
Kemudian, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan net buy asing senilai Rp 56,2 miliar.
KB Valbury Sekuritas dalam riset sebelumnya mempertahankan rekomendasi buy saham BRI (BBRI) dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010.
Target harga tersebut setara dengan price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang sangat murah.
Potensi katalis positif bagi saham BBRI adalah pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari ekspektasi, disertai penyesuaian ulang imbal hasil kredit secara moderat, yang dapat membantu net interest margin (NIM) melampaui panduan 2026.
Sementara itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham Bumi Resources (BUMI) dengan target harga yang tinggi sebesar Rp 300.
Target harga saham BUMI tersebut berdasarkan metode valuasi sum of the parts (SOTP), yakni pendekatan yang menghitung nilai perusahaan berdasarkan penjumlahan nilai masing-masing unit bisnis atau aset.
Samuel Sekuritas dalam risetnya memperkirakan kinerja BUMI bakal makin kuat pada kuartal III-2026 dan periode berikutnya hingga akhir tahun.
Prospek BUMI akan ditopang peningkatan produksi emas Wolfram, pemulihan laba PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), serta potensi penurunan biaya tunai seiring meredanya harga bahan bakar.