Indonesian Political, Business & Finance News

Bank Sampoerna reports MSME sector financing reaching 59 per cent

| Source: ANTARA_ID Translated from Indonesian | Banking
Bank Sampoerna reports MSME sector financing reaching 59 per cent
Image: ANTARA_ID

PT Bank Sahabat Sampoerna reported that financing in the micro, small and medium enterprise (MSME) sector reached 59 percent of its total financing portfolio of Rp11 trillion as of the end of March 2026. This was supported by a strong share of Third-Party Funds (DPK) amounting to Rp15 trillion.

“Pertumbuhan tersebut menjadi bukti kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh terhadap komitmen Bank dalam mendukung sektor UMKM,” kata Henky Suryaputra, Director of Finance & Business Planning at PT Bank Sahabat Sampoerna, in a press release in Jakarta on Thursday.

Pertumbuhan DPK turut ditopang peningkatan porsi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan. Hingga akhir Maret 2026, giro perusahaan mencapai Rp2,01 triliun, naik dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp1,34 triliun. Selain itu tabungan juga meningkat menjadi Rp1,43 triliun dari Rp1,31 triliun. Secara keseluruhan CASA (current account & saving account) tumbuh 29,6 persen secara year-on-year.

Menurut Henky, salah satu kunci pertumbuhan kepercayaan tersebut adalah upaya Bank Sampoerna yang mampu menghadirkan pengelolaan operasional yang efisien, transparan dan kredibel. Hal ini tercermin dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Sampoerna yang terus membaik menjadi 96,33 persen pada akhir Maret 2026 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 97,26 persen.

“Pertumbuhan bisnis tetap menjadi fokus Bank Sampoerna dalam menghadapi dinamika industri perbankan. Karena itu, efisiensi operasional dan pengelolaan risiko yang disiplin terus kami jaga untuk memperkuat fundamental bank,” ucap dia.

Hingga akhir Maret 2026, Bank Sahabat Sampoerna turut membukukan laba bersih sebesar Rp8,9 miliar, meningkat 68 persen dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp5,3 miliar.

Melalui penerapan prinsip kehati-hatian, pihaknya disebut senantiasa menjaga kualitas aset dengan pengelolaan risiko secara berkelanjutan, yang dibuktikan oleh rasio kredit bermasalah bersih (Non-Performing Loan/NPL Net) yang tetap terjaga pada level 2,70 persen hingga akhir Maret 2026.

Bank Sampoerna juga tetap mempertahankan permodalan dan likuiditas yang sehat hingga akhir Maret 2026, yang terlihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 30,03 persen dan rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) sebesar 73,27 persen, dengan total aset bank mencapai Rp19,5 triliun.

CEO Bank Sampoerna, Ali Yong mengungkapkan bahwa penguatan ekosistem digital menjadi bagian dari strategi dalam memperkuat kinerja fundamental perusahaan sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Melalui kerja sama mitra berbasis layanan Bank as a Service (BaaS), kata Ali Yong, Bank Sampoerna berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendorong akses keuangan masyarakat, mencakup penyediaan virtual account, pembayaran melalui QRIS, serta transfer dana host-to-host.

“Sepanjang kuartal pertama 2026, layanan BaaS mencatat lebih dari 495 juta transaksi dengan total volume transaksi mencapai Rp98 triliun. Pertumbuhan ini menjadi bukti kuat kolaborasi yang erat antara Bank Sampoerna dan lebih dari 50 fintech (financial technology), perusahaan multifinance, koperasi dan institusi keuangan lainnya,” ujar dia.

View JSON | Print