Indonesian Political, Business & Finance News

59 Years of Batik Danar Hadi: Maintaining Batik's Relevance Across Eras

| Source: TEMPO_EN | Business
59 Years of Batik Danar Hadi: Maintaining Batik's Relevance Across Eras
Image: TEMPO_EN

CANTIKA.COM, Jakarta - Batik bukan sekadar kain bercorak. Di balik setiap garis, warna, dan ragam hiasnya, tersimpan perjalanan panjang tentang tradisi, kreativitas, sekaligus perubahan zaman. Semangat itulah yang turut mengiringi perjalanan Batik Danar Hadi selama 59 tahun. Berdiri di Solo pada 1967, perusahaan yang didirikan oleh pasangan Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono ini berangkat dari keluarga yang memiliki latar belakang pengusaha batik.

Dari kecintaan terhadap batik, Danar Hadi kemudian berkembang menjadi perusahaan yang tidak hanya menghasilkan kain batik, tetapi juga membangun ekosistem yang mencakup ritel, pesanan khusus, ekspor hingga pariwisata.

Memasuki usia ke-59, perjalanan tersebut menjadi semakin relevan untuk dibicarakan, terlebih bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional 2026. Sebab, menjaga batik bukan hanya tentang mempertahankan pakem, tetapi juga bagaimana warisan budaya ini terus menemukan tempat di kehidupan generasi masa kini.

Dari Tradisi Keluarga Menjadi Perjalanan Panjang

Sejak awal berdiri, batik menjadi fondasi utama Danar Hadi. Tradisi yang diwariskan keluarga kemudian dipertemukan dengan pengelolaan bisnis dan kreativitas untuk menjawab perkembangan zaman.

Menurut Direktur Utama Batik Danar Hadi, Diana Santosa, salah satu perubahan paling signifikan dalam perjalanan Danar Hadi adalah bagaimana perusahaan mampu mentransformasikan perkembangan batik dari masa lampau ke dalam dunia fashion tanpa kehilangan karakter dasarnya.

“Sebagai salah satu perusahaan batik ternama di Indonesia yang selalu mengedepankan tradisi sebagai pijakan penciptaan karya dan memadukan hal mendasar dari seni batik dengan dunia fashion yang dinamis, keberadaan Museum Batik Danar Hadi menjadi pembeda yang sangat signifikan dalam perjalanan Batik Danar Hadi sampai saat ini,” ujar Diana saat ditemui Cantika, Senin, 28 September 2026.

Museum tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi keluarga Santosa Doellah terhadap pelestarian dan pengembangan seni batik di Indonesia. Koleksi dan penataan museum memperlihatkan perjalanan batik dari berbagai periode, mulai dari masa Keraton Mataram Kotagede, masa penjajahan Belanda dan Jepang, hingga perkembangan Batik Indonesia yang diinisiasi Bung Karno.

Bagi Danar Hadi, mempertahankan tradisi tidak berarti menutup diri dari perubahan. Justru, perkembangan dunia fashion menjadi ruang untuk menerjemahkan kembali batik dalam bentuk yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Diana mengatakan, unsur-unsur pokok dalam seni batik, termasuk ragam hias utama yang mencirikan asal batik dan ragam hias pengisinya, tetap dipertahankan dalam karya-karya Danar Hadi. “Unsur-unsur pokok yang terdapat dalam seni batik tetap konsisten dituangkan dalam karya, meskipun disesuaikan dengan dinamisme pasar,” kata Diana.

Pabrik Danar Hadi dalam bentuk pabrik di sondakan tahun 1967 yang terletak di Jalan Slamet Riyadi no.313, Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto: Dok. Danar Hadi

Museum sebagai ruang belajar dan sumber inspirasi

Salah satu upaya pelestarian lainnya yang menjadi bagian penting dari perjalanan Danar Hadi adalah Museum Batik Danar Hadi di Solo. Museum ini menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah dan keragaman batik kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa batik selalu berkembang mengikuti pengaruh zaman dan lingkungan.

Bagi para desainer Danar Hadi, koleksi tersebut juga menjadi sumber inspirasi. Berbagai perkembangan batik dari masa ke masa dapat dipelajari dan kemudian diterjemahkan menjadi karya yang sesuai dengan tren fashion tanpa sekadar menirunya.

Konsep “Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan” menjadi salah satu cara untuk melihat batik sebagai sesuatu yang hidup. Motif dan tekniknya memiliki akar sejarah, tetapi interpretasinya dapat terus berkembang.

Ketika generasi muda ikut menentukan arah batik

Perubahan selera generasi muda turut menjadi bagian dari dinamika industri batik. Bagi merek batik yang mengusung tagline #pakaibatikyadanarhadi ini hal tersebut bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan ruang untuk menciptakan inovasi. Batik dapat hadir dalam berbagai bentuk dan produk, mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan identitasnya.

Diana melihat bahwa keberlanjutan batik juga membutuhkan pemahaman lintas generasi. Batik tidak semestinya hanya diposisikan sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan.

“Memberikan pemahaman dan pembelajaran bahwa apa yang disebut batik tidak hanya untuk generasi masa lalu, tetapi juga sangat mungkin dikenakan oleh generasi muda saat ini dan akan datang dengan berbagai variasi produk,” ujarnya.

Salah satu contohnya adalah produk Days yang diinisiasi Diana Santosa. Produk tersebut menghadirkan kesan modern, tetapi tetap mempertahankan sisi tradisional batik. Pendekatan serupa juga diterapkan dalam pengembangan motif.

Koleksi Batik Danar Hadi store Melawai, Jakarta Selatan.Foto: Dok: Danar Hadi

Danar Hadi tetap memegang prinsip dan kaidah tentang apa yang disebut sebagai batik, sembari terbuka terhadap perkembangan fashion dan kebutuhan pasar.“Bagi Danar Hadi, hal ini menjadi tantangan untuk berkreasi dan berinovasi agar batik tetap relevan dan fashionable,” tutur Diana.

Usia 59 tahun bagi Danar Hadi bukan sekadar angka, tetapi juga penanda perjalanan panjang yang dirintis Santosa Doellah beserta berbagai kontribusinya terhadap dunia batik, termasuk melalui karya-karya buku dan pendirian museum. Santosa Doellah sendiri memperoleh gelar “Empu Batik” pada 2012, sebuah penghargaan atas kiprahnya dalam dunia batik.

Kini, keberlanjutan menjadi tantangan berikutnya. Warisan yang telah dibangun selama puluhan tahun perlu terus dijaga sekaligus dikembangkan agar tetap memiliki tempat di industri fashion dan kebudayaan Indonesia.

Bertepatan dengan Hari Batik Nasional 2026, perjalanan 59 tahun Danar Hadi mengingatkan bahwa melestarikan batik bukan berarti membekukannya dalam bentuk yang sama. Ada ruang untuk berinovasi, bereksplorasi, dan membawa batik

View JSON | Print