{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1760013,
        "msgid": "the-ulama-who-pioneered-tauhid-rahmatiyah-1779533716",
        "date": "2026-05-23 17:12:35",
        "title": "The Ulama Who Pioneered Tauhid Rahmatiyah",
        "author": "Budi Raharjo",
        "source": "REPUBLIKA",
        "tags": "",
        "topic": "Anthropology",
        "summary": "The article profiles Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, a leading Muhammadiyah scholar who has shaped its thinking for three decades, and who died on 23 May 2026 at the age of 65. It highlights his background from a farming family on Mount Merapi, his scholarly journey, and his conviction that Islam should contribute to real-world goodness.",
        "content": "<p>Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis<\/p>\n<p>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA \u2013 Dini hari itu Yogyakarta terasa lebih\nsunyi dari biasanya. Tidak ada gempa. Tidak ada letusan Merapi. Tidak\nada hiruk politik nasional. Tetapi grup-grup WhatsApp Muhammadiyah\nmendadak seperti kehilangan listrik spiritualnya.<\/p>\n<p>Satu demi satu pesan masuk, dari ranting desa sampai profesor kampus,\ndari aktivis IMM sampai para kiai tarjih.<\/p>\n<p>\u201cInnalillahi wa inna ilaihi raji\u2019un\u2026\u201d Prof.\u00a0Dr.\u00a0H. Hamim Ilyas, M.Ag\nwafat pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 01.40 WIB di RSA UGM Yogyakarta,\ndalam usia 65 tahun.<\/p>\n<p>Dan mendadak banyak orang sadar: Muhammadiyah baru saja kehilangan\nsalah satu otak terpentingnya.<\/p>\n<p>Bukan sekadar ketua organisasi. Bukan sekadar dosen. Tetapi salah\nsatu \u201cmesin berpikir\u201d utama di ruang think tank keulamaan Muhammadiyah\nselama tiga dekade terakhir.<\/p>\n<p>Nama Hamim Ilyas mungkin tidak sepopuler para dai televisi yang\nsuaranya menggelegar sambil menunjuk-nunjuk kamera seperti debt\ncollector akhirat.<\/p>\n<p>Ia juga bukan tipe ulama viral yang hidup dari potongan reels dan\nthumbnail YouTube penuh ekspresi kiamat.<\/p>\n<p>Tetapi di ruang-ruang serius tempat arah pemikiran Muhammadiyah\ndibentuk, nama Hamim berdiri sangat penting.<\/p>\n<p>Ia lahir di Karangnongko, Klaten, 1 April 1961. Anak petani kaki\nGunung Merapi. Ia pernah bercerita bagaimana masa kecilnya menggosok\ngigi dengan serbuk batu bata halus karena keluarganya baru mengenal\nsikat gigi ketika ia kelas 6 SD.<\/p>\n<p>Cerita itu terdengar sederhana, tetapi dari sanalah tampak bahwa\nHamim tumbuh bukan dari kemewahan teoritis, melainkan dari realitas\nrakyat biasa.<\/p>\n<p>Ia menempuh pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lulus S1\nTafsir Hadis tahun 1987. Menyelesaikan S2 Akidah dan Filsafat tahun\n1996. Dan meraih doktor Islamic Studies tahun 2002.<\/p>\n<p>Sepanjang hidup akademiknya ia mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum\nUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia bukan sekadar dosen yang mengejar\nangka kredit sambil menumpuk map seminar seperti kolektor kuitansi\nilmiah. Ia benar-benar hidup dalam dunia pemikiran Islam.<\/p>\n<p>Menariknya, Hamim bukan lahir dari keluarga Muhammadiyah ideologis.\nIa justru masuk Muhammadiyah melalui pencarian intelektual dan\nkegelisahan sosial.<\/p>\n<p>Ketika muda ia melihat organisasi-organisasi mahasiswa sibuk\nbertengkar seperti peserta audisi sinetron perebutan warisan. Tetapi IMM\ntampak lebih teduh.<\/p>\n<p>Dan lebih penting lagi: Muhammadiyah baginya terlihat nyata. Ada\nrumah sakit. Ada BKIA. Ada sekolah. Ada amal usaha.<\/p>\n<p>Agama ternyata bisa bekerja, pikirnya. Dari situlah ia seperti\nmenemukan satu keyakinan yang kelak menjadi inti seluruh hidupnya:<\/p>\n<p>\u201cIslam harus berkontribusi mewujudkan kebaikan yang nyata.\u201d Kalimat\nitu tampak sederhana. Tetapi sebenarnya itulah fondasi seluruh\narsitektur pemikiran Hamim Ilyas.<\/p>\n<p>Kariernya di Majelis Tarjih dimulai dari PWM DIY tahun 1990. Lalu\npada Munas Tarjih Aceh 1995 ia masuk tim asistensi dan sejak itulah\nmulai bergabung di level pusat.<\/p>\n<p>Periode 1995\u20132000 ia menjadi Sekretaris Divisi Jurnal dan Publikasi\nMajelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Periode 2000\u20132005 menjadi Ketua Divisi Publikasi dan Dokumentasi.\nPeriode 2005\u20132010 dan 2010\u20132015 menjadi Wakil Ketua bidang Tafsir.<\/p>\n<p>Dan pada Muktamar Muhammadiyah 2022 ia dipercaya menjadi Ketua\nMajelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah untuk periode 2022\u20132027.<\/p>\n<p>Tiga puluh tahun lebih ia berada di jantung laboratorium ijtihad\nMuhammadiyah. Kalau Muhammadiyah punya \u201cdapur nuklir pemikiran\u201d, maka\nMajelis Tarjih adalah salah satu reaktornya. Dan Hamim termasuk ilmuwan\nsenior di dalamnya.<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/the-ulama-who-pioneered-tauhid-rahmatiyah-1779533716",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}