{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1799066,
        "msgid": "the-future-of-inclusive-food-security-for-indigenous-papuans-1781225522",
        "date": "2026-06-12 06:48:47",
        "title": "The Future of Inclusive Food Security for Indigenous Papuans",
        "author": "",
        "source": "ANTARA_ID",
        "tags": "",
        "topic": "Social Policy",
        "summary": "A presidential committee member has urged the government to ensure Indigenous Papuan farmers are not merely spectators but key participants in national agricultural development. The appeal highlights the disconnect between Papua's abundant natural resources and the persistent barriers local communities face in accessing training, technology, finance, and markets. The core issue is reframing food security as a matter of dignity and self-determination for Papuans.",
        "content": "<p>Food security is also an effort to build dignity, create\nopportunities, and expand the space for communities to determine their\nown future.<\/p>\n<p>Ketahanan pangan sering kali dibicarakan melalui angka-angka\nstatistik yang tak jarang terlalu rumit. Luas lahan yang dibuka, jumlah\nproduksi yang dihasilkan, hingga nilai investasi yang ditanamkan menjadi\nukuran yang paling sering digunakan untuk menilai keberhasilan sebuah\nprogram. Di balik seluruh angka tersebut, ada satu hal mendasar yang\ntidak kalah penting, yakni tentang siapa yang sesungguhnya menikmati\nhasil pembangunan itu.<\/p>\n<p>Isu itu menjadi semakin kuat manakala dikaitkan dengan Papua. Selama\npuluhan tahun, Papua dikenal sebagai wilayah yang memiliki kekayaan\nsumber daya alam yang melimpah. Hamparan lahan yang luas, kekayaan\nhayati yang beragam, serta komoditas lokal yang unik merupakan modal\nbesar untuk mendukung pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan nasional.\nNamun, pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa keberlimpahan\nsumber daya tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya\nkesejahteraan masyarakat lokal. Pembangunan dapat berjalan, investasi\ndapat masuk, dan produksi dapat meningkat, tetapi manfaatnya belum tentu\ndirasakan secara merata oleh mereka yang hidup dan bekerja di wilayah\ntersebut.<\/p>\n<p>Anggota Komite Eksekutif Presiden Republik Indonesia untuk Percepatan\nPembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, pun menemui Wakil\nMenteri Pertanian Sudaryono dan jajaran Kementerian Pertanian, untuk\nmenyampaikan aspirasi agar petani muda Orang Asli Papua (OAP) memperoleh\nruang yang lebih besar dalam program-program pertanian nasional.\nAspirasi yang disampaikan sesungguhnya mengandung pesan yang melampaui\nurusan sektor pertanian semata. Di dalamnya terdapat pertanyaan yang\nlebih besar tentang bagaimana pembangunan seharusnya dirancang agar\nmasyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku\nutama.<\/p>\n<p>Di berbagai kampung di Papua, tidak sulit menemukan masyarakat yang\nmemiliki semangat untuk bertani. Banyak keluarga menggantungkan\nkehidupan pada lahan yang mereka kelola secara turun-temurun. Mereka\nmengenal tanahnya, memahami musimnya, dan memiliki pengetahuan lokal\nyang diwariskan dari generasi ke generasi. Akan tetapi, potensi tersebut\nsering berhadapan dengan berbagai keterbatasan. Akses terhadap pelatihan\nmasih belum merata. Pendampingan teknis belum menjangkau seluruh\nwilayah. Teknologi pertanian modern belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan.\nAkses pembiayaan masih menjadi tantangan. Sementara jalur pemasaran\nsering kali menjadi hambatan terbesar bagi petani untuk memperoleh nilai\nekonomi yang optimal.<\/p>\n<p>Dalam perspektif ekonomi pembangunan, kondisi tersebut dikenal\nsebagai kegagalan pasar. Bukan karena masyarakat tidak memiliki\nkemampuan, melainkan karena terdapat hambatan yang membuat mereka sulit\nmengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk berkembang.<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/the-future-of-inclusive-food-security-for-indigenous-papuans-1781225522",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}