{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1775670,
        "msgid": "stabilitas-rantai-pasok-harus-jadi-prioritas-investor-daily-1780284489",
        "date": "2026-05-31 14:32:26",
        "title": "Stabilitas Rantai Pasok Harus Jadi Prioritas - Investor Daily",
        "author": " ",
        "source": "GALERT",
        "tags": "",
        "topic": "Regulation",
        "summary": "POPSI supports the government's efforts to close foreign exchange leaks and improve palm oil trade governance but warns that new policies, such as the single-export channel, could destabilise the industry's ecosystem. The association notes that smallholder farmers have already seen a sharp drop in fresh fruit bunch prices, risking their incomes, and urges regulatory clarity and supply chain stability to safeguard livelihoods during trade reforms.",
        "content": "<p>Stabilitas Rantai Pasok Harus Jadi Prioritas<\/p>\n<p>JAKARTA,Investor.id -Perkumpulan Petani Kelapa Sawit Indonesia\n(POPSI) mendukung langkah pemerintah untuk menutup kebocoran devisa dan\nmemperbaiki tata kelola perdagangan sawit nasional. Namun, setiap\nkebijakan baru termasuk wacana ekspor satu pintu, harus dirancang secara\nhati-hati agar tidak mengganggu stabilitas ekosistem industri sawit yang\nmelibatkan jutaan petani di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto mengatakan, ndustri sawit bukan\nhanya soal kebun dan pabrik, melainkan ekosistem yang sangat kompleks\ndan saling terhubung mulai dari petani, pabrik kelapa sawit, refinery,\ntrader, eksportir hingga buyer internasional. \u201cDampak langsung dari\nsebuah kebijakan sering kali tidak pertama kali dirasakan oleh pelaku\nindustri besar, tetapi justru oleh petani swadaya yang berada di sektor\npaling hulu,\u201d ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu\n(31\/5\/2026).<\/p>\n<p>Mansuetus menjelaskan, berdasarkan laporan dari sejumlah daerah,\nharga tandan buah segar (TBS) petani swadaya mengalami penurunan\nakumulatif sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram dalam dua hari\nsetelah muncul pengumuman terkait pembentukan DSI.<\/p>\n<p>Sebelum itu, harga TBS petani swadaya secara nasional berada di\nkisaran Rp 3.500 hingga Rp 3.700 per kilogram. \u201cDalam jangka pendek,\npenurunan harga yang mendekati 50% ini sangat memukul pendapatan petani\nswadaya. Kami khawatir apabila ketidakpastian berlangsung dalam jangka\nmenengah dan panjang, harga TBS bisa kembali turun hingga di bawah Rp\n1.000 per kilogram seperti yang pernah terjadi pada 2022,\u201d ucap dia.<\/p>\n<p>Mansuetus menerangkan, fenomena tersebut menunjukkan bahwa industri\nsawit sangat sensitif terhadap ketidakpastian di sektor hilir. Ketika\npelaku usaha mengambil sikap menunggu kejelasan kebijakan, aktivitas\npembelian dan produksi cenderung melambat sehingga berdampak pada harga\nTBS di tingkat petani.<\/p>\n<p>Dari total 17,6 juta hektare kebun sawit di Indonesia, sekitar 6,4\njuta hektare atau hampir 40 persen merupakan kebun milik petani swadaya.\nKarena itu, keberlangsungan industri sawit nasional sangat bergantung\npada pasokan TBS dari petani rakyat. \u201cProduksi CPO nasional tidak dapat\ndipisahkan dari kontribusi petani swadaya. Ketika terjadi gangguan atau\nketidakpastian di hilir, dampaknya langsung menekan serapan dan harga\nTBS sebagai bahan baku utama industri,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Sebelumnya, pemerintah telah membentuk PT Danantara Sumber Daya\nIndonesia (DSI) sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang didirikan\nuntuk memperbaiki tata kelola ekspor komoditas strategis nasional. DSI\ndiberi tugas untuk mengelola dan mengawasi transaksi ekspor sejumlah\nkomoditas sumber daya alam penting seperti batu bara, minyak sawit\nmentah (CPO), dan ferro alloy.<\/p>\n<p>Pembentukan DSI dilakukan sebagai upaya pemerintah menutup potensi\nkerugian negara yang selama ini terjadi dalam perdagangan ekspor.\nKerugian tersebut diduga muncul akibat praktik seperti under invoicing\ndan transfer pricing. Menanggapi itu, Mansuetus menilai pemerintah perlu\nmemastikan kejelasan regulasi, tata kelola yang transparan, serta\nmelakukan kajian mendalam dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan\ndalam industri sawit.<\/p>\n<p>\u201cKebijakan yang baik tidak cukup hanya dengan niat yang baik. Harus\nada kepastian regulasi, jaminan integritas, tata kelola yang transparan,\ndan perhitungan yang matang terhadap dampak sosial maupun ekonomi di\nsetiap mata rantai industri,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Menurut Mansuetus, apabila nantinya DSI memiliki peran aktif dalam\nmekanisme perdagangan atau ekspor sawit, maka lembaga tersebut juga\nharus mampu menjaga kelancaran pembayaran dan stabilitas harga agar\ntidak menimbulkan gejolak yang merugikan petani. \u201cKejelasan dan\nkepastian regulasi adalah kunci. Stabilitas ekosistem industri harus\nmenjadi prioritas agar kesejahteraan petani swadaya tetap terjaga di\ntengah berbagai upaya perbaikan tata kelola yang dilakukan pemerintah,\u201d\npapar dia.<\/p>\n<p>Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel\ninvestor.id<\/p>\n<p>FollowBaca Berita Lainnya di Google News<\/p>\n<p>Read Now<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/stabilitas-rantai-pasok-harus-jadi-prioritas-investor-daily-1780284489",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}