{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1868393,
        "msgid": "prospek-sun-tetap-positif-pasca-rating-s-p-1784461818",
        "date": "2026-07-19 15:53:15",
        "title": "Prospek SUN Tetap Positif Pasca Rating S&P",
        "author": " ",
        "source": "GALERT",
        "tags": "",
        "topic": "Finance",
        "summary": "Pasar Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan tetap positif hingga akhir 2026 setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Ekonom CORE Indonesia menilai keputusan ini lebih berfungsi menjaga kepercayaan investor daripada memicu arus modal besar, karena pergerakan pasar masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan stabilitas nilai tukar rupiah. Sementara itu, permintaan domestik yang kuat diharapkan dapat mendukung target lelang SUN, dengan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 6,5% hingga 7%.",
        "content": "<p>Prospek SUN Tetap Positif Pasca Rating S&amp;P<\/p>\n<p>JAKARTA, investor.id - Prospek pasar Surat Utang Negara (SUN) hingga\nakhir 2026 dinilai tetap positif setelah S&amp;P Global Ratings\nmempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB\ndengan outlook stabil.<\/p>\n<p>Meski demikian, keputusan lembaga pemeringkat tersebut diperkirakan\nlebih berperan menjaga kepercayaan investor ketimbang memicu arus masuk\nmodal asing dalam jumlah besar.<\/p>\n<p>Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet mengatakan, keputusan\nS&amp;P menjadi sinyal positif karena mempertahankan status investment\ngrade Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan\nmasih adanya outlook negatif dari lembaga pemeringkat lainnya.<\/p>\n<p>\u201cKeputusan S&amp;P mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB\ndengan outlook stabil lebih berfungsi sebagai penopang kepercayaan\ninvestor daripada menjadi pemicu masuknya arus modal asing dalam jumlah\nbesar. Di tengah outlook negatif dari lembaga pemeringkat lain,\nkeputusan ini penting karena menjaga status investment grade Indonesia\nsehingga risiko penurunan peringkat dalam jangka pendek berkurang,\u201d kata\nYusuf kepada Investor Daily. Minggu (19\/7\/2026).<\/p>\n<p>Menurut dia, keputusan investor asing tetap akan lebih dipengaruhi\noleh faktor fundamental pasar keuangan, seperti arah pergerakan nilai\ntukar rupiah, tingkat imbal hasil obligasi, dan prospek suku bunga\nglobal.<\/p>\n<p>Karena itu, ruang penurunan yield SUN dinilai masih terbatas.\nAfirmasi dari S&amp;P memang berpotensi menekan premi risiko Indonesia,\nnamun faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pasar obligasi\ndomestik.<\/p>\n<p>\u201cFaktor yang lebih dominan tetap kebijakan The Fed. Selama suku bunga\nAS masih diperkirakan bertahan tinggi, tekanan terhadap yield obligasi\nnegara berkembang, termasuk Indonesia, belum akan hilang,\u201d ujar\nYusuf.<\/p>\n<p>Di sisi domestik, lanjutnya, Bank Indonesia juga masih mempertahankan\nkebijakan moneter yang relatif ketat guna menjaga stabilitas nilai tukar\nrupiah. Dengan kondisi tersebut, penurunan yield SUN diperkirakan\nberlangsung secara bertahap, bukan secara tajam.<\/p>\n<p>Meski demikian, Yusuf tetap optimistis terhadap prospek pasar SUN\nhingga akhir tahun. Fundamental fiskal Indonesia dinilai masih terjaga,\nsementara permintaan dari investor domestik terus memberikan dukungan\nterhadap pasar obligasi pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cHal ini juga membuat saya optimistis target lelang SUN sebesar Rp 32\ntriliun dapat tercapai, apalagi lelang sebelumnya menunjukkan permintaan\nyang konsisten melampaui target pemerintah. Yang perlu diperhatikan\njustru biaya yang harus dibayar pemerintah dalam bentuk tingkat imbal\nhasil, bukan semata besarnya dana yang berhasil dihimpun,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dari sisi strategi investasi, Yusuf menilai SUN tenor menengah masih\nmenjadi pilihan paling menarik di tengah ketidakpastian global.<\/p>\n<p>\u201cBagi investor, tenor tiga hingga lima tahun masih menjadi pilihan\nyang paling menarik karena memberikan keseimbangan antara imbal hasil\ndan risiko perubahan harga di tengah ketidakpastian suku bunga global,\u201d\njelasnya.<\/p>\n<p>Dia menambahkan, risiko utama yang perlu dicermati investor tetap\nberasal dari arah kebijakan Federal Reserve, pergerakan nilai tukar\nrupiah, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cSelama ketiga faktor tersebut tetap terkendali yield SUN tenor 10\ntahun akan bergerak di kisaran 6,5% hingga 7% hingga akhir 2026,\u201d\npungkasnya.<\/p>\n<p>Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel\ninvestor.id<\/p>\n<p>FollowBaca Berita Lainnya di Google News<\/p>\n<p>Read Now<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/prospek-sun-tetap-positif-pasca-rating-s-p-1784461818",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}