{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1748590,
        "msgid": "nickel-based-ev-subsidies-could-help-cut-oil-imports-1779546294",
        "date": "2026-05-19 13:29:18",
        "title": "Nickel-based EV Subsidies Could Help Cut Oil Imports",
        "author": "Intan Pratiwi",
        "source": "REPUBLIKA",
        "tags": "",
        "topic": "Regulation",
        "summary": "An energy economics analyst from Universitas Gadjah Mada argues that Indonesia's nickel-based EV subsidy plan, including 100% government-borne VAT for nickel-based EVs and 40% for non-nickel EVs plus a Rp 5 million per-unit motorcycle subsidy, could reduce oil imports by strengthening domestic nickel supply chains and battery production. The policy marks a shift away from fully built-up imports and emphasises domestic capability, with calls for widened industrial support, TKDN, and technology transfer, and a strategic role for state-owned miners like MIND ID.",
        "content": "<p>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA \u2013 Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah\nMada (UGM) Fahmi Radhi menilai kebijakan subsidi kendaraan listrik atau\nelectric vehicle (EV) berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC)\ndapat menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia\nterhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tersebut dinilai\npenting karena konsumsi BBM nasional masih tinggi, sementara produksi\nminyak domestik belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional.<\/p>\n<p>Kondisi itu menyebabkan impor BBM terus meningkat dan membebani\nneraca perdagangan maupun fiskal negara. Pemerintah sendiri berencana\nmemberikan subsidi kendaraan listrik untuk 200 ribu unit motor dan mobil\nlistrik. Program subsidi yang direncanakan mulai bergulir pada Juni 2026\nitu bertujuan mengurangi impor serta konsumsi BBM dalam jangka\npanjang.<\/p>\n<p>Berdasarkan skema yang sedang disiapkan, pemerintah akan memberikan\ninsentif berupa PPN ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk\nmobil listrik berbasis baterai nikel atau nickel manganese cobalt (NMC),\nPPN DTP sebesar 40 persen untuk mobil listrik dengan baterai nonnikel,\nserta subsidi pembelian motor listrik sebesar Rp 5 juta per unit.<\/p>\n<p>\u201cKalau dilihat sekarang pemerintah lebih selektif. Untuk pemberian\ninsentif pada kendaraan berbasis nikel saya kira bagus, karena kita\npunya produksi nikel sehingga bisa mendorong hilirisasi menjadi bagian\ndari ekosistem kendaraan listrik nasional,\u201d kata Fahmi di Jakarta,\ndikutip Selasa (19\/5\/2026).<\/p>\n<p>Menurut dia, pengembangan kendaraan listrik berbasis NMC menjadi\nlebih strategis karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di\ndunia yang dapat terintegrasi langsung dengan industri baterai nasional.\nBerbeda dengan teknologi lithium iron phosphate (LFP) yang bahan bakunya\nbelum diproduksi di Indonesia, teknologi NMC dinilai lebih relevan untuk\nmendorong hilirisasi mineral domestik dan menciptakan nilai tambah di\ndalam negeri.<\/p>\n<p>Fahmi juga menilai kebijakan terbaru pemerintah lebih baik dibanding\nskema sebelumnya karena mulai mengurangi insentif terhadap kendaraan\nlistrik impor utuh atau completely built up (CBU). Langkah tersebut\ndinilai dapat memperbesar peluang tumbuhnya industri kendaraan listrik\ndan baterai di dalam negeri.<\/p>\n<p>Pasar kendaraan listrik Indonesia sendiri terus menunjukkan\npertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data\nGabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total\npenjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle\n(BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024 dan melonjak menjadi 114.413 unit\nsepanjang 2025.<\/p>\n<p>Namun, pertumbuhan tersebut masih didominasi kendaraan listrik dengan\nbaterai lithium iron phosphate (LFP). Berdasarkan pengolahan data\nwholesales GAIKINDO yang mengklasifikasikan model kendaraan berdasarkan\njenis baterai, penjualan EV berbasis LFP mencapai 46.814 unit atau 83,3\npersen dari total pasar pada 2024. Sementara kendaraan berbasis nickel\nmanganese cobalt (NMC\/NCMA) hanya mencapai 9.390 unit atau 16,7\npersen.<\/p>\n<p>Pada 2025, dominasi LFP mulai menurun meskipun masih menguasai pasar\ndengan penjualan 88.344 unit atau 77,2 persen. Sementara kendaraan\nberbasis NMC meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8 persen dari total\npenjualan EV nasional. Data tersebut menunjukkan kendaraan berbasis NMC\nmulai tumbuh lebih cepat. Penjualan EV berbasis NMC tercatat melonjak\n177,6 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan LFP\nsebesar 88,7 persen.<\/p>\n<p>Secara global, tren industri kendaraan listrik memang mulai bergeser\nke penggunaan baterai LFP karena biaya produksinya lebih murah. Laporan\nInternational Energy Agency (IEA) mencatat baterai LFP telah menguasai\nhampir separuh pasar baterai kendaraan listrik dunia pada 2024 dan terus\ntumbuh pesat, terutama di pasar China dan Asia.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Indonesia justru memiliki keunggulan besar pada rantai\npasok nikel yang menjadi bahan utama baterai NMC. Karena itu, Fahmi\nmenilai pertumbuhan pasar EV nasional harus dimanfaatkan untuk\nmemperkuat hilirisasi mineral domestik dan industri baterai nasional\nagar manfaat ekonominya tidak hanya dinikmati produsen luar negeri.<\/p>\n<p>\u201cYang paling penting justru bagaimana ini menjadi kesempatan bagi\nIndonesia menciptakan ekosistem industrialisasi kendaraan listrik dari\nhulu sampai hilir,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Fahmi menilai pengembangan industri kendaraan listrik tidak cukup\nhanya mengandalkan subsidi. Pemerintah juga perlu memastikan adanya\npembangunan fasilitas produksi di Indonesia, peningkatan tingkat\nkomponen dalam negeri (TKDN), serta transfer teknologi dari investor\nasing agar Indonesia dapat membangun industri kendaraan listrik yang\nmandiri.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, konsistensi roadmap hilirisasi menjadi faktor penting\nagar pengembangan kendaraan listrik benar-benar memberikan dampak\nekonomi nasional. Dengan pasar domestik yang besar dan dukungan sumber\ndaya mineral strategis, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar kuat\nuntuk menarik investasi industri baterai dan kendaraan listrik\nglobal.<\/p>\n<p>Fahmi melihat BUMN pertambangan seperti MIND ID dapat memainkan peran\nstrategis dalam memperkuat hilirisasi nikel dan pengembangan industri\nbaterai nasional. Menurut dia, konsistensi kebijakan subsidi berbasis\nnikel akan menjadi kunci agar pertumbuhan pasar kendaraan listrik tidak\nhanya menguntungkan produsen asing, tetapi juga membantu menekan impor\nBBM dan memperkuat ketahanan energi nasional.<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/nickel-based-ev-subsidies-could-help-cut-oil-imports-1779546294",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}