{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1700341,
        "msgid": "hsbc-economist-bis-decision-to-hold-interest-rates-is-right-to-curb-rupiah-weakness-1777110657",
        "date": "2026-04-24 19:18:57",
        "title": "HSBC Economist: BI's Decision to Hold Interest Rates is Right to Curb Rupiah Weakness",
        "author": " ",
        "source": "GALERT",
        "tags": "",
        "topic": "Finance",
        "summary": "Bank Indonesia's (BI) decision to maintain its benchmark interest rate at 4.75% has been praised by HSBC's Chief Indonesia and India Economist Pranjul Bhandari as an appropriate measure to counteract the rupiah's depreciation, which recently approached Rp17,300 per US dollar. Bhandari highlighted that this stability is influenced by external factors such as Indonesia's low current account deficit of 0.1% of GDP and the need to attract sufficient capital inflows amid global uncertainties and weakening foreign direct investment. She also noted that a potential resolution to the global energy crisis could weaken the US dollar, providing further support to the rupiah.",
        "content": "<p>Ekonom HSBC: BI Tahan Suku Bunga Tepat untuk Redam Pelemahan\nRupiah<\/p>\n<p>Poin Penting<\/p>\n<p>JAKARTA, investortrust.id - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk\nmempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai sebagai langkah\nyang tepat dalam menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang\nsempat menyentuh kisaran Rp 17.300 per dolar AS.<\/p>\n<p>Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul\nBhandari mengungkapkan, efektivitas kebijakan tersebut dapat dilihat\nmelalui pendekatan skenario alternatif (counterfactual).<\/p>\n<p>\u201cSeandainya BI memangkas suku bunga kemarin, mata uang akan lebih\nlemah hari ini, bukan? Jadi, dari perspektif itu, penting bagi BI untuk\nsetidaknya menjaga suku bunga BI tidak berubah kemarin,\u201d ujarnya, secara\ndaring dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026,\nKamis (23\/4\/2026).<\/p>\n<p>\u201cJadi, dari perspektif itu, saya yakin BI telah melakukan hal yang\nbenar,\u201d sambung Pranjul.<\/p>\n<p>Meski begitu, ia menekankan bahwa stabilitas rupiah tak hanya\nditentukan oleh kebijakan suku bunga semata, melainkan sangat bergantung\npada kondisi eksternal, khususnya neraca transaksi berhalan dan arus\nmodal masuk.<\/p>\n<p>Menurut Pranjul, defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini\nrelatif rendah, yakni sebesar 0,1% terhadap produk domestik bruto (PDB)\npada tahun lalu. Angka itu jauh lebih baik dibanding periode sebelumnya\nyang sempat mencapai 2,5% dari PDB.<\/p>\n<p>Namun ke depan, Pranjul memperkirakan defisit tersebut berpotensi\nmeningkat hingga mendekati 1% dari PDB, seiring kemungkinan adanya\ntekanan dari sektor energi global.<\/p>\n<p>\u201cBahkan 1% dari PDB tidaklah sangat lebar. Yang penting bagi\nIndonesia adalah mampu menarik aliran modal masuk yang cukup banyak\nuntuk mendanai defisit transaksi berjalan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pranjul menjelaskan, terdapat dua jenis aliran modal yang menjadi\nperhatian, yaitu aliran jangka pendek ke pasar keuangan serta investasi\nlangsung asing atau foreign direct investment (FDI) yang bersifat jangka\npanjang.<\/p>\n<p>Di tengah ketidakpastian global, Pranjul menilai arus FDI cenderung\nmelemah secara global, sehingga persaingan antar negara bekembang untuk\nmenarik investasi akan semakin ketat.<\/p>\n<p>\u201cIni akan menjadi tahun yang sulit karena umumnya di tahun-tahun\nketika ada begitu banyak ketidakpastian ekonomi, FDI tidak sangat kuat\ndi mana pun di dunia,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kepastian terkait proses\nindeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang\ndinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar\nIndonesia.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, pergerakan rupiah juga sangat dipengaruhi oleh dinamika\ndolar AS. Penguatan dolar yang terjadi sejak krisis energi global\nmenjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap mata uang negara\nberkembang, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cJika pada suatu titik krisis energi mulai berakhir, mendekati\nresolusi, dan jika dolar mulai melemah sedikit, itu juga akan memberikan\ndukungan bagi rupiah,\u201d ujar Pranjul.<\/p>\n<p>Baca Juga<\/p>\n<p>Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI Rate 4,75% demi Stabilitas\nRupiah dan Inflasi<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/hsbc-economist-bis-decision-to-hold-interest-rates-is-right-to-curb-rupiah-weakness-1777110657",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}