{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1554908,
        "msgid": "getting-to-know-hudzaifah-bin-husail-ra-1771159484",
        "date": "2026-02-15 20:10:31",
        "title": "Getting to Know Hudzaifah bin Husail (RA)",
        "author": "Muhammad Hafil",
        "source": "REPUBLIKA",
        "tags": "",
        "topic": "Social Policy",
        "summary": "REPUBLIKA.CO.ID,TAIF \u2013 Tidak ditemukan informasi yang jelas mengenai tahun kelahiran salah seorang sahabat mulia ini. Silsilah lengkap beliau adalah Hudzaifah bin Husail bin Jabir bin Amr bin Rabi\u2019ah bin Jarwah. Ayah beliau yang bernama Husail yang belakangan dikenal dengan al-Yaman merupakan penduduk asli Makkah dari Bani \u2018Abbas. Nisbat Al Yaman merupakan sebutan (laqab) untuk ayah beliau, Husail. Namun satu sumber mengatakan bahwa Al Yaman merupakan sebutan untuk kakeknya, Jabir.",
        "content": "<p>REPUBLIKA.CO.ID,TAIF \u2013 Tidak ditemukan informasi yang jelas mengenai\ntahun kelahiran salah seorang sahabat mulia ini. Silsilah lengkap beliau\nadalah Hudzaifah bin Husail bin Jabir bin Amr bin Rabi\u2019ah bin Jarwah.\nAyah beliau yang bernama Husail yang belakangan dikenal dengan al-Yaman\nmerupakan penduduk asli Makkah dari Bani \u2018Abbas. Nisbat Al Yaman\nmerupakan sebutan (laqab) untuk ayah beliau, Husail. Namun satu sumber\nmengatakan bahwa Al Yaman merupakan sebutan untuk kakeknya, Jabir. Asal\nmula penyematan sebutan Al Yaman pada ayah beliau sebagaimana dijelaskan\noleh Ibnul Atsir dalam kitab Usdul Ghabah adalah karena adanya hutang\ndarah pada kaumnya, hal ini memaksanya untuk pergi meninggalkan tanah\nkelahirannya, Makkah menuju ke Yatsrib (Madinah). Di sana, beliau\nmeminta perlindungan kepada keluarga Bani Abdul Asyhal yang merupakan\ngolongan sahabat Anshar dan juga bersumpah setia kepada mereka dalam\nkesukuan dan kekeluargaan. Sejak peristiwa itulah Husail, ayah dari\nHudzaifah dipanggil dengan sebutan Al-Yaman, hal ini karena ia bersumpah\nsetia kepada Bani Abdil Asyhal yang merupakan kaum Anshar dan secara\ngenealogis berasal dari Yaman. Setelah menginjak usia dewasa, Husail\nmempersunting perempuan asli suku Asyhal. Dari perkawinan ini lahirlah\nHudzaifah bin Husail yang belakangan lebih terkenal dengan Hudzaifah bin\nAl Yaman. Dengan kelahiran sang putra ini, hilanglah hambatannya untuk\nmemasuki kota Makkah, sehingga sejak saat itu ia bebas pulang pergi\nantara Yatsrib (Madinah) dan Makkah, walaupun waktunya lebih banyak\ndihabiskan di Yatsrib. Husail merupakan salah satu dari sepuluh orang\nketurunan Bani Abbas yang menemui Rasulullah SAW. untuk menyatakan\nkeimanan meraka di hadapan Rasul SAW. Peristiwa ini terjadi sebelum\nRasulullah Hijrah ke Madinah tahun 622 M. Sesuai dengan tradisi garis\nketurunan yang berlaku di Arab, yaitu keturunan ayah, maka Hudzaifah\nadalah orang Makkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah (Abdurrahman\nbin Abdul Karim, Kitab Sejarah Terlengkap Para Sahabat Nabi). Hudzaifah\nlahir dari keluarga muslim pada masa Islam awal, dan beliau telah\nmemeluk Islam sebelum bertemu secara langsung dengan Rasulullah SAW.\nSayang sekali penulis belum bisa melacak data yang akurat terkait tahun\nkelahiran beliau. Namun jika melihat kronologis data di atas, beliau\nlahir sebelum Nabi Hijrah ke Madinah, karena ayah beliau, Husail\nmenyatakan keimanan kepada Rasulullah SAW. sebelum peristiwa Hijrah.\nSedangkan data yang bisa lacak adalah tahun wafat beliau, yaitu antara\n34 dan 35 H atau 656 M., tepat 40 hari pasca tragedi terbunuhnya sahabat\nUtsman bin Affan, sebagaimana dicatat oleh Ibnul Atsir dalam Usdul\nGhabah. Perjalanan Spiritual Sebagaimana sahabat-sahabat yang lain,\nHudzaifah bin Al Yaman banyak meriwayatkan Hadis dari Rasulullah SAW.\nKarena kedekatan secara personal dan spiritual dengan Rasulullah SAW lah\nyang membuatnya banyak memperoleh riwayat Hadis dari Rasulullah SAW yang\nkemudian diriwayatkan oleh para sahabat Rasul yang lain. Beberapa nama\nyang tercatat meriwayatkan hadis dari Hudzaifah bin Al Yaman adalah Abu\nUbaidah yang merupakan putra beliau sendiri, Umar bin Khattab, Ali bin\nAbi Thalib, Qhais bin Abi Hazim, Abu Wail, Zaid bin Wahab dan masih\nbanyak lagi. Khalid Muhammad Khalid dalam buku Karakteristik Perihidup\n60 Sahabat Rasulullah mencatat informasi bahwa dalam Imam Bukhari dalam\nShahih-nya meriwayatkan 8 Hadis dari Hudzaifah, dan Imam Muslim\nmeriwayatkan sebanyak 12 hadis. Sejarah juga mendokumentasikan bahwa\nHudzaifah ikut andil dalam perang Uhud, dan dalam perang inilah ayah\nbeliau, Husail mati syahid secara tidak sengaja oleh pasukan Muslim. Hal\nini karena beliau dalam peperangan ini memakai penutup kepala, sehingga\npara sahabat mengira ia adalah kelompok musyrikin. Peristiwa syahidnya\nayah beliau ini disaksikan sendiri oleh Hudzaifah bin Al Yaman dari\nkejauhan, beliau melihat pedang sedang terhujam kepada ayahnya, dan\nbeliau berteriak, \u201cayahku\u2026! Ayahku\u2026! Jangan, dia ayahku.!\u201d Namun, Qadha\u2019\nAllah telah terjadi, dan tatkala para sahabat menyadari apa yang\nterjadi, mereka hanya bisa diam membisu penuh duka. Dengan sikap kasih\nsayang dan pemaafan, Hudzaifah memandangi para sahabat, karena ia tahu\nbahwa kejadian itu merupakan kekhilafan. Hudzaifah kemudian berucap,\n\u201csemoga Allah mengampuni kalian, sungguh ayahku ini adalah sebaik-baik\npenyayang.\u201d Kemudian, dengan pedang terhunus, Hudzaifah bin Al Yaman\nmaju menuju medan perang yang sedang berkecamuk untuk menumpas kaum\nmusyrikin. Berita ketabahan dan ke-heroik-an Hudzaifah ini akhirnya\nsampai ke telinga Rasulullah SAW. Pada saat itu Rasul memerintahkan para\nsahabat yang tanpa sengaja membunuh ayah Hudzaifah untuk membayar diyat\natas kekhilafan mereka. Namun Hudzaifah menolak untuk menerima diyat\ntersebut, dan beliau justru meminta diyat tersebut untuk dibagikan\nkepada kaum muslimin. Setelah peristiwa itu, Rasulullah SAW semakin\nkagum dan sayang kepada Hudzaifah bin Al Yaman. Sebelum perang Uhud\nterjadi, Hudzaifah bersama ayahnya juga hendak bergabung dengan barisan\nkaum muslimin dalam perang Badar, namun dalam perjalanan mereka ditahan\noleh musuh dan tidak bisa ikut perang. Imam Adz Dzahabi menyebut\nHudzaifah bin Al Yaman dalam kitabnya Siyar A\u2019lam An Nubala dengan\nsebutan \u201cShahibus Sirri\u201d (pemilik rahasia). Sebutan ini tidaklah\nberlebihan, karena Hudzaifah adalah salah satu sahabat yang dipercaya\noleh Rasulullah SAW untuk menyimpan beberapa informasi penting dan\nrahasia, dan para sahabat pun mengakui akan hal ini. Adz Dzahabi\nmenulis, bahwa Rasulullah SAW. Memberikan informasi rahasia kepada\nHudzaifah tentang data orang-orang Munafik di sekitar Rasul, juga\nbeberapa konspirasi yang mereka rencanakan atas kaum muslimin. Hadratusy\nSyaikh Achmad Asrori Al Ishaqi tatkala mendiskusikan bab \u201cal ilmu\ndhahirun wa bathinun\u201d (Dimensi eksoteris dan esoteris dalamIlmu) dalam\nKitab Al Muntakhobat juga mengutip hadis yang di-takhrij oleh Abu Dawud\nriwayat dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata : \u201cRasulullah SAW.\npernah berdiri di hadapan kami (khutbah), tidak ada sesuatu pun yang\nbakal terjadi hingga dating hari kiamat kecuali beliau jelaskan saat\n(beliau berdiri)itu. Maka hafallah orang yang hafal dan lupalah orang\nyang lupa, dan para sahabat telah mengetahui hal itu. Sungguh, aku dapat\nmengingat apa yang disampaikan saat itu, sebagaimana seorang laki-laki\nyang mengingat wajah orang yang pergi kemudian bertemu lagi.\u201d Loading\u2026\nsumber : Dok Republika<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/getting-to-know-hudzaifah-bin-husail-ra-1771159484",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}