{
    "success": true,
    "data": {
        "id": 1989951,
        "msgid": "banda-aceh-mayor-drives-climate-action-through-womens-leadership-and-community-programs-1789822233",
        "date": "2026-09-19 19:00:00",
        "title": "Banda Aceh Mayor Drives Climate Action Through Women's Leadership and Community Programs",
        "author": "",
        "source": "TEMPO_EN",
        "tags": "",
        "topic": "Social Policy",
        "summary": "The Mayor of Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, has implemented successful climate adaptation strategies, including the expansion of 64 Climate Village Programmes (ProKlim) and community-based waste management. The initiative focuses on empowering women and integrating environmental sustainability into local economic resilience and disaster mitigation.",
        "content": "<p>CANTIKA.COM, Jakarta - Krisis iklim bukan sekadar wacana teknokratis\ndi meja seminar. Bagi Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa\u2019aduddin Djamal, isu\nlingkungan adalah pertaruhan hidup sehari-hari warga, dari ketahanan\npangan rumah tangga hingga pengelolaan sampah di sudut-sudut gampong\natau desa.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan inklusif yang menempatkan perempuan sebagai aktor\nutama, Banda Aceh berhasil menyabet penghargaan internasional CityNet\nSDG Awards 2025 dan menggalakkan puluhan Program Kampung Iklim\n(ProKlim).<\/p>\n<p>Berikut penuturan lengkap Illiza Sa\u2019aduddin Djamal mengenai strategi\nmembangun kota tangguh iklim, ekonomi sirkular, sampai peran\nkepemimpinan para perempuan Banda Aceh.<\/p>\n<ol type=\"1\">\n<li>Di antara sederet agenda pembangunan, mengapa isu pelestarian\nlingkungan dan ketahanan iklim termasuk prioritas Ibu dalam memimpin\nKota Banda Aceh?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Illiza Sa\u2019aduddin Djamal: Sebagai kota pesisir dengan luas terbatas,\nBanda Aceh sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca\nekstrem. Suhu udara di Banda Aceh pernah menyentuh angka terpanas,\nsehingga adaptasi iklim bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.<\/p>\n<p>Bagi kami, isu lingkungan tidak berdiri sendiri. Ketika kita\nbersama-sama membenahi lingkungan seperti mengelola sampah organik\nmenjadi kompos atau menggalakkan urban farming, dampaknya langsung\nterasa pada ketahanan pangan dan penghematan biaya rumah tangga\nwarga.<\/p>\n<ol start=\"2\" type=\"1\">\n<li>Boleh dielaborasi bagaimana perjalanan Program Kampung Iklim\n(ProKlim) dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat seperti Waste\nCollecting Point (WCP) yang berkembang di Banda Aceh?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Illiza Sa\u2019aduddin Djamal: Perjalanan ProKlim, kami mulai secara\nkonsisten sejak 2019. Dari yang awalnya satu lokasi, kini di tahun 2026\nsudah berkembang pesat menjadi 64 lokasi ProKlim yang terdaftar di\nSistem Registrasi Nasional (SRN-PPI), mencakup ProKlim Utama dan\nMadya.<\/p>\n<p>ProKlim ini ditopang oleh ekosistem pengelolaan sampah berbasis\nkomunitas melalui Waste Collecting Point (WCP). Kami mengadopsi sistem\nWCP dari Higashishima, Jepang, untuk mengubah perilaku warga agar\nmemilah sampah langsung dari sumbernya.<\/p>\n<p>Saat ini, sudah beroperasi 39 depo WCP di 19 gampong, didukung\npuluhan Bank Sampah dan Rumah Kompos. Target kami antara lain mereduksi\nsampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus memutar\nroda ekonomi warga.<\/p>\n<p>(Paling kiri) Illiza Sa\u2019aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh. Foto:\nDok. Pribadi<\/p>\n<ol start=\"3\" type=\"1\">\n<li>Tantangan terbesar aksi lingkungan adalah konsistensi. Bagaimana\nstrategi Ibu mendorong gampong-gampong agar aksi adaptasi iklim ini\nbertransformasi menjadi kebiasaan harian warga?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Illiza Sa\u2019aduddin Djamal: Langkah pertama kami mengubah perilaku\nsehari-hari melalui pendekatan kebermanfaatan yang nyata. Kalau kita\nbicara soal \u201csampah\u201d atau \u201cisu iklim\u201d secara teoritis, warga sulit\ntergerak.<\/p>\n<p>Tapi begitu mereka merasakan dampak dari aksi nyata, misalnya sampah\ndapur diolah jadi kompos untuk menanam cabai atau serai, lalu hasilnya\nmereka hemat belanja harian atau bisa dijual menjadi produk teh dan\nherbal, kesadaran itu tumbuh alami.<\/p>\n<p>Kami juga menerapkan konsep ProKlim Lestari. Gampong yang sudah maju\ndan meraih penghargaan, seperti Kota Baru, diwajibkan membina 10 gampong\ndi sekitarnya. Jadi ada transfer pengetahuan dan budaya gotong royong\nantar-gampong.<\/p>\n<p>Ketika aksi lingkungan sudah menjadi gaya hidup dan norma sosial\nmasyarakat, orang akan malu kalau membuang sampah sembarangan.<\/p>\n<ol start=\"4\" type=\"1\">\n<li>Aceh merupakan kawasan rawan bencana. Bagaimana integrasi program\nProKlim dan keterlibatan komunitas dalam kesiapsiagaan serta mitigasi\nbencana di tingkat lokal?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Illiza Sa\u2019aduddin Djamal: Banda Aceh membangun konsep Kota Tangguh\nBencana yang disosialisasikan hingga ke level rumah tangga. Melalui\nkomunitas warga dan kelompok perempuan, kami mengedukasi mitigasi risiko\nbencana sejak dini, seperti lokasi evakuasi, bagaimana mengamankan\ndokumen, hingga respons cepat saat darurat.<\/p>\n<p>Edukasi kesiapsiagaan yang dipegang oleh ibu-ibu jauh lebih cepat\nterinternalisasi ke anak-anak dan anggota keluarga lainnya dibanding\nsekadar imbauan formal.<\/p>\n<ol start=\"5\" type=\"1\">\n<li>Banda Aceh mendorong penyusunan strategi iklim responsif gender.\nBerdasarkan pengalaman Ibu, mengapa keterlibatan perempuan menjadi kunci\nkrusial keberhasilan program lingkungan?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Illiza Sa\u2019aduddin Djamal: Perempuan itu kunci multiplier effect.\nKetika kami melibatkan para perempuan berdampak membuka pintu-pintu\nperubahan lainnya. Perempuan punya daya rekat sosial yang kuat, teliti,\ndan memiliki semangat gotong royong yang tinggi.<\/p>\n<p>Di Banda Aceh, kami memiliki instrumen khusus bernama Musyawarah\nRencana Aksi Perempuan (MUSRENA). Melalui MUSRENA, suara dan kebutuhan\nperempuan diakomodasi langsung dalam perencanaan anggaran kota.<\/p>\n<p>Impact-nya, penggerak utama Bank Sampah, pemilahan plastik, hingga\nbudidaya tanaman pangan di gampong-gampong mayoritas adalah kelompok\nperempuan. Perempuan juga berani menegur jika ada pelanggaran lingkungan\ndi sekitarnya. Tanpa keterlibatan aktif perempuan, program lingkungan\nhanya akan berhenti di atas kertas.<\/p>\n<p>(Ketiga dari kiri) Illiza Sa\u2019aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh.\nFoto: Dok. Pribadi<\/p>\n<ol start=\"6\" type=\"1\">\n<li>Melalui program Sekolah Adiwiyata dan kerja sama seperti sanitasi\ntahan iklim, sejauh mana investasi pada generasi muda mampu membentuk\nkarakter peduli lingkungan?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Illiza Sa\u2019aduddin Djamal: Penerapan budaya sehat lebih mudah\ndiintervensi sejak dini. Kami mendorong pembentukan Sekolah Adiwiyata\ndari tingkat dasar hingga menengah, saat ini sudah ada puluhan sekolah\nberstatus Adiwiyata Kota, Provinsi, hingga Nasional. Di sekolah,\nanak-anak diajarkan pemilahan sampah, sanitasi sehat, hingga pemanfaatan\nruang hijau.<\/p>\n<p>Kami juga meluncurkan program pendukung seperti Dokter Saweu Sikula\nuntuk deteksi kesehatan anak dan integrasi pendidikan karakter.\nAnak-anak yang terbiasa hidup bersih di sekolah akan membawa habit\ntersebut ke rumah dan menjadi pelopor perubahan bagi orang tuanya.<\/p>\n<ol start=\"7\" type=\"1\">\n<li>Untuk mewujudkan kota rendah karbon, Banda Aceh bekerja sama dengan\nakademisi dan berbagai lembaga. Bagaimana cara menjembatani riset\nakademis agar aplikatif di lapangan?<\/li>\n<\/ol>\n<p>I<\/p>",
        "url": "https:\/\/jawawa.id\/newsitem\/banda-aceh-mayor-drives-climate-action-through-womens-leadership-and-community-programs-1789822233",
        "image": ""
    },
    "sponsor": "Okusi Associates",
    "sponsor_url": "https:\/\/okusiassociates.com"
}